SUARAINDONEWS.COM, TOKYO — Industri film dewasa Jepang (Adult Video/AV) tengah menghadapi krisis serius yang jarang diketahui publik. Bukan soal regulasi atau sensor, melainkan kelangkaan aktor pria yang kini mencapai titik mengkhawatirkan.
Di balik industri bernilai miliaran yen tersebut, ketimpangan jumlah pemain pria dan wanita menjadi persoalan besar yang berpotensi mengganggu keberlangsungan produksi.
Data terbaru menunjukkan kondisi yang mencolok. Jumlah aktor pria aktif diperkirakan hanya sekitar 70 hingga 100 orang, sementara jumlah aktris mencapai lebih dari 10.000 orang.
Aktor senior Ken Shimizu bahkan sempat menyindir kondisi ini dengan menyebut aktor pria kini “lebih langka daripada harimau yang terancam punah”. Di balik candaan tersebut, tersimpan realitas yang tidak ringan.
Tekanan Berat di Balik Layar
Keterbatasan jumlah aktor membuat beban kerja meningkat drastis. Salah satu pengakuan datang dari Chintaro Sakurai yang mengungkap jadwal kerja padat tanpa banyak waktu istirahat.
Ia bahkan pernah menunda menghadiri pemakaman kerabat karena terikat jadwal syuting.
“Kalau saya absen, satu produksi bisa berhenti total,” ujarnya dalam wawancara dengan media lokal.
Kondisi ini menunjukkan tingginya ketergantungan industri terhadap segelintir aktor pria yang ada.
Penyebab Minimnya Aktor
Sejumlah faktor disebut menjadi penyebab utama langkanya aktor pria di industri ini. Pertama, stigma sosial yang masih tinggi terhadap profesi tersebut, terutama bagi pria.
Selain itu, tuntutan fisik yang berat juga menjadi kendala. Profesi ini membutuhkan stamina, kontrol tubuh, dan performa yang konsisten dalam durasi kerja panjang.
Di sisi lain, sistem bayaran dinilai belum sebanding dengan risiko dan tekanan kerja. Banyak aktor dibayar harian, sehingga dianggap kurang menarik bagi calon pendatang baru.
Ancaman bagi Keberlangsungan Industri
Dengan produksi yang mencapai sekitar 4.000 judul per bulan, keterbatasan aktor pria mulai berdampak pada jadwal produksi yang kerap bertabrakan.
Produser pun mulai khawatir terhadap keberlangsungan industri dalam jangka panjang. Tanpa regenerasi, kualitas produksi berisiko menurun, sementara para aktor yang ada menghadapi potensi kelelahan hingga cedera.
Kondisi ini menjadi peringatan bahwa industri AV Jepang tidak hanya menghadapi tantangan bisnis, tetapi juga persoalan serius terkait kesejahteraan pekerja di dalamnya.
(Anton)




















































