SUARAINDONEWS. COM, Jakarta – Suasana berbeda mewarnai pembukaan Pembekalan dan Bimbingan Teknis (Bimtek) Anggota DPRD Fraksi PDI Perjuangan se-Indonesia di Jakarta, Sabtu (30/5/2026). Bukan sekadar seremoni biasa, ratusan kader yang hadir dibuat kembali mengingat akar ideologi partai saat lagu “Bung Karno Bapak Marhaenisme” berkumandang di ruang acara.
Lagu yang sarat pesan perjuangan rakyat kecil itu diputar sebagai penanda dimulainya rangkaian Bulan Bung Karno, agenda tahunan yang selalu menjadi momentum penting bagi PDI Perjuangan untuk menghidupkan kembali ajaran dan semangat perjuangan Proklamator RI, Ir. Soekarno.
Yang menarik, Ketua DPP PDIP Djarot Saiful Hidayat menegaskan bahwa lagu tersebut kini bukan lagi sekadar pengiring acara. Lagu “Bung Karno Bapak Marhaenisme” bahkan diwajibkan menjadi bagian dari protokol resmi kepartaian.
“Dalam setiap acara dengan protokol kepartaian, lagu Bung Karno Bapak Marhaenisme wajib kita nyanyikan,” tegas Djarot di hadapan lebih dari 600 peserta Bimtek dari seluruh Indonesia.
Menurut Djarot, lagu tersebut memiliki makna yang jauh lebih dalam dibanding sekadar lagu perjuangan. Bagi PDIP, lirik-liriknya merupakan pengingat bahwa seluruh kader, terutama para anggota legislatif yang baru menjabat, harus tetap berpihak kepada rakyat kecil atau kaum Marhaen.
“Lagu ini pengingat bagi kami semua bahwa esensi perjuangan PDI Perjuangan adalah memihak dan berjuang demi kepentingan rakyat kecil,” ujarnya.
Kebijakan mewajibkan lagu tersebut diputar dalam setiap agenda resmi partai langsung menjadi perhatian publik. Banyak pihak menilai langkah itu sebagai upaya PDIP memperkuat kembali identitas ideologis partai di tengah dinamika politik nasional yang semakin kompleks.
Semangat Marhaenisme sendiri memiliki sejarah panjang. Istilah itu lahir setelah Bung Karno bertemu seorang petani bernama Marhaen di wilayah Priangan, Jawa Barat, pada era 1920-an. Dari pertemuan itulah lahir konsep perjuangan yang menempatkan rakyat kecil sebagai pusat pembangunan dan kekuatan bangsa.
Tak hanya itu, pemutaran lagu tersebut juga disebut sejalan dengan pesan Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, yang selama ini terus mengingatkan kader untuk turun ke bawah atau turba, mendengar langsung keluhan rakyat, dan menghadirkan solusi nyata melalui kebijakan politik.
Dalam acara tersebut hadir sejumlah elite partai seperti Andreas Hugo Pareira, Ribka Tjiptaning, Wiryanto Sukamdani, Darmadi Durianto, Yoseph Aryo Adhi Dharmo, Yuke Yurike, dan Sri Rahayu.
Kini, menjelang Bulan Bung Karno, lagu “Bung Karno Bapak Marhaenisme” diperkirakan akan semakin sering terdengar dalam berbagai kegiatan PDIP di seluruh Indonesia. Pertanyaannya, mampukah semangat Marhaenisme yang terus digaungkan itu diterjemahkan menjadi kebijakan nyata yang dirasakan langsung oleh rakyat?
Itulah tantangan besar yang kini berada di pundak para kader dan wakil rakyat PDI Perjuangan.
(Anton)


















































