SUARAINDONEWS.COM, Jakarta – Jakarta International Stadium (JIS) tampaknya belum puas hanya menjadi stadion megah dengan atap buka-tutup dan desain futuristis. Kini, pengelolanya ingin naik kelas dengan belajar langsung ke San Siro, stadion legendaris di Milan, Italia.
Langkah itu ditandai dengan kunjungan Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno ke Milan untuk menjajaki kerja sama strategis antara JIS dan San Siro Stadium.
Sekilas terdengar biasa saja. Namun bagi sebagian pecinta sepak bola Indonesia, kabar ini langsung memancing beragam komentar.
“Boleh belajar manajemen stadion, tapi rumputnya jangan lupa diajari juga,” tulis salah satu netizen di media sosial.
Maklum, selama beberapa tahun terakhir kondisi rumput stadion di Indonesia kerap menjadi bahan perdebatan. Karena itu, ketika mendengar JIS akan belajar ke San Siro, banyak yang berharap bukan hanya soal seremoni dan kerja sama di atas kertas yang dibawa pulang.
Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak membahas banyak hal, mulai dari tata kelola stadion, penyelenggaraan konser dan event internasional, pengembangan museum stadion, hingga teknologi perawatan lapangan.
Bagi Jakarta, kerja sama ini tentu menjadi kesempatan menarik. San Siro bukan stadion sembarangan. Stadion yang menjadi markas AC Milan dan Inter Milan itu sudah puluhan tahun menjadi ikon sepak bola dunia.
Sementara JIS masih terbilang “anak baru” yang sedang mencari bentuk terbaiknya sebagai stadion kelas internasional.
Di atas kertas, JIS memang punya banyak keunggulan. Bangunannya modern, kapasitas besar, dan menjadi salah satu stadion termegah di Asia Tenggara.
Namun tantangan sesungguhnya bukan hanya membangun stadion megah, melainkan bagaimana mengelolanya agar hidup setiap minggu, ramai dikunjungi, menghasilkan pemasukan, dan menjadi destinasi wisata olahraga seperti San Siro.
Karena itulah, kerja sama ini dinilai lebih penting dari sekadar foto bersama di depan stadion legendaris Italia.
Publik tentu berharap hasilnya bukan hanya penandatanganan nota kesepahaman atau sederet presentasi PowerPoint. Yang ditunggu masyarakat adalah perubahan nyata.
Jika San Siro bisa menjadi magnet wisata sekaligus mesin ekonomi kota Milan, maka JIS juga punya peluang yang sama.
Kini pertanyaannya sederhana: setelah belajar ke San Siro, apakah JIS benar-benar akan naik kelas, atau hanya menambah koleksi kerja sama internasional yang berakhir menjadi pajangan laporan tahunan?
Waktu yang akan menjawab.
(Anton)



















































