SUARAINDONEWS.COM, Jakarta – Dunia militer kembali dihebohkan dengan kisah “lumba-lumba kamikaze” yang disebut pernah dilatih Uni Soviet untuk operasi perang bawah laut sebelum akhirnya dilaporkan dibeli Iran.
Cerita ini sebenarnya bukan isu baru, namun kembali viral setelah ramai dibahas dalam berbagai media internasional dan media sosial terkait ketegangan di Timur Tengah.
Pada era Perang Dingin, Uni Soviet diketahui memang memiliki program pelatihan mamalia laut untuk kepentingan militer. Lumba-lumba, paus beluga hingga singa laut dilatih mendeteksi ranjau laut, kapal selam, penyusup bawah air hingga membantu operasi pengamanan pelabuhan.
Program tersebut disebut dikembangkan di fasilitas militer bawah laut milik Soviet di kawasan Laut Hitam.
Setelah Uni Soviet runtuh, sejumlah fasilitas militer mengalami krisis dana. Dalam laporan media internasional pada awal 2000-an, beberapa hewan laut eks program militer Soviet disebut dijual ke berbagai negara, termasuk Iran.
Laporan tersebut menyebut Iran membeli puluhan hewan laut terlatih, mulai dari lumba-lumba hingga paus beluga.
Isu ini kembali memanas setelah muncul pertanyaan dalam briefing Pentagon mengenai kemungkinan Iran memiliki “lumba-lumba kamikaze” yang bisa dipakai menyerang kapal perang di Selat Hormuz.
Meski begitu, hingga kini belum ada bukti publik yang memastikan Iran benar-benar mengoperasikan lumba-lumba bunuh diri dalam konflik modern.
Sejumlah laporan menyebut hewan-hewan tersebut lebih banyak digunakan untuk deteksi bawah laut dan pengamanan area maritim dibanding operasi serangan langsung.
Program militer mamalia laut sendiri bukan hanya dimiliki Uni Soviet. Amerika Serikat juga diketahui pernah melatih lumba-lumba dan singa laut untuk mendeteksi ranjau serta membantu pengamanan pangkalan laut.
Kisah lumba-lumba militer ini pun kembali memancing perhatian publik karena dianggap seperti cerita film perang futuristik, padahal sebagian programnya benar-benar pernah ada di dunia nyata.
(Anton)




















































