SUARAINDONEWS.COM, Jakarta – Presiden Prabowo Subianto menurunkan harga pupuk bersubsidi sebesar 20% di tengah lonjakan harga global. Kebijakan ini diambil untuk menjaga produksi pangan nasional.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan langkah tersebut merupakan bentuk antisipasi pemerintah terhadap potensi krisis pupuk dunia.
“Presiden sudah melihat sejak awal bahwa dunia menuju ketidakstabilan. Kita diminta tidak menunggu krisis,” ujar Amran.
Kenaikan harga pupuk global dipicu konflik di Timur Tengah yang berdampak pada penutupan Selat Hormuz serta kebijakan China yang menghentikan ekspor pupuk nitrogen. Harga urea dunia bahkan disebut melonjak lebih dari 40% dalam beberapa pekan.
Penurunan harga 20% ini berlaku untuk pupuk bersubsidi seperti urea, NPK, dan ZA. Pemerintah juga memangkas 145 regulasi untuk mempercepat distribusi pupuk ke petani.
Selain itu, akses pupuk kini diintegrasikan berbasis KTP dan diperluas hingga tingkat desa. Pemerintah menargetkan distribusi lebih cepat menjelang musim tanam 2026.
Dari sisi pasokan, pemerintah telah melakukan diversifikasi sejak 2025 guna mengurangi ketergantungan impor. Langkah ini dinilai mampu menjaga ketersediaan pupuk di tengah tekanan global.
Kebijakan ini diperkirakan dapat menekan biaya produksi petani hingga ratusan ribu rupiah per hektare. Lebih dari 16 juta petani juga disebut akan mendapat manfaat dari kebijakan tersebut.
Di sektor hilir, pemerintah menetapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah sebesar Rp6.500 per kilogram untuk menjaga pendapatan petani.
Amran menegaskan, cadangan beras nasional saat ini telah menembus 5 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah.
“Ini bukti kebijakan yang tepat untuk menjaga ketahanan pangan,” ujarnya.
Pemerintah memastikan akan terus menjaga produksi pangan nasional di tengah ketidakpastian global.
(Anton)




















































