SUARAINDONEWS.COM, Jakarta – Fenomena kota “tenggelam” kembali jadi sorotan setelah Mexico City dilaporkan terus mengalami penurunan tanah yang bisa terlihat dari luar angkasa.
Data satelit radar milik NASA menunjukkan permukaan tanah di beberapa wilayah turun lebih dari 0,5 inci atau sekitar 2 cm per bulan. Dalam setahun, penurunannya bisa mencapai puluhan sentimeter.
Fenomena ini dipicu oleh eksploitasi air tanah berlebihan di kota yang berdiri di atas bekas danau purba.
Peneliti dari NASA menyebut kondisi ini bukan sekadar isu lingkungan biasa.
“Penurunan tanah terjadi karena air tanah terus diambil, sehingga lapisan tanah kehilangan daya dukungnya dan mengempis secara permanen,” ungkap perwakilan tim peneliti NASA dalam laporan pengamatan satelit.
Dampaknya sudah nyata. Jalan retak, bangunan miring, hingga gangguan infrastruktur mulai terjadi di berbagai titik kota.
Fenomena ini pun memicu kekhawatiran serupa di kota-kota besar lain, termasuk Jakarta.
Sejumlah studi sebelumnya juga menunjukkan Jakarta mengalami penurunan tanah akibat penggunaan air tanah yang tinggi dan beban pembangunan.
Meski skalanya berbeda, pola yang terjadi dinilai mirip. Kota besar, populasi padat, dan tekanan terhadap sumber daya air.
Kota raksasa seperti Mexico City sudah memberi peringatan. Pertanyaannya, apakah kota lain siap mengantisipasi sebelum terlambat?
(Anton)



















































