SUARAINDONEWS.COM, Jakarta – Nuklir sering identik dengan hal berbahaya. Tapi di dunia medis, teknologi ini justru jadi senjata canggih untuk melawan kanker.
Layanan kedokteran nuklir kini digunakan untuk diagnosis, perencanaan terapi, hingga evaluasi pengobatan. Teknologi ini memanfaatkan zat radioaktif dalam dosis aman yang disebut radiofarmaka.
Dokter spesialis kedokteran nuklir, Lim Andreas, menjelaskan nuklir dalam konteks medis bukan bom atau reaktor besar, melainkan teknologi yang dirancang dengan standar keselamatan ketat dan paparan radiasi serendah mungkin.
Dengan bantuan alat seperti PET-CT Scan dan SPECT-CT Scan, dokter bisa melihat kondisi organ secara detail, menentukan stadium kanker, hingga memantau respons terapi secara lebih presisi.
Tak hanya untuk diagnosis, teknologi ini juga digunakan dalam terapi. Radiofarmaka bekerja langsung menarget sel kanker tanpa merusak jaringan sehat di sekitarnya.
Keunggulannya, pengobatan jadi lebih tepat sasaran, minim tindakan operasi, dan bisa disesuaikan dengan kondisi tiap pasien.
Layanan ini juga bisa digunakan untuk berbagai penyakit lain, mulai dari gangguan jantung, otak, hingga kelainan tulang dan metabolik.
Melihat meningkatnya kasus kanker, teknologi ini makin dibutuhkan. Mayapada Hospital Jakarta Selatan pun menghadirkan layanan Nuclear Medicine and Molecular Imaging dengan teknologi pencitraan radiasi rendah yang masih terbatas di Indonesia.
Dengan pendekatan ini, pasien bisa mendapatkan diagnosis lebih akurat dan terapi yang lebih terarah.
Nuklir memang terdengar menakutkan. Tapi di dunia medis, justru jadi harapan baru dalam pengobatan kanker.
(Anton)




















































