SUARAINDONEWS.COM, Tangerang Selatan – Kanker ovarium menjadi salah satu ancaman serius bagi kesehatan perempuan di Indonesia. Penyakit yang kerap dijuluki sebagai “Silent Killer” ini sering tidak menunjukkan gejala spesifik pada stadium awal, sehingga banyak kasus baru terdeteksi saat sudah memasuki stadium lanjut.
Menanggapi kondisi tersebut, Columbia Asia Hospital BSD menekankan pentingnya kesadaran masyarakat terhadap faktor risiko genetik, khususnya riwayat keluarga, sebagai langkah preventif yang sangat penting untuk menekan angka kematian akibat kanker ovarium.
Berdasarkan data Global Cancer Observatory (GLOBOCAN) 2022, terdapat sekitar 14.896 kasus baru kanker ovarium di Indonesia dengan angka kematian mencapai 9.581 jiwa. Tingginya angka fatalitas tersebut sebagian besar dipengaruhi oleh keterlambatan diagnosis. Padahal, angka harapan hidup (survival rate) lima tahun pada pasien yang terdeteksi pada stadium awal dapat mencapai lebih dari 90 persen. Sebaliknya, angka tersebut menurun drastis hingga di bawah 30 persen apabila kanker baru ditemukan pada stadium lanjut.
dr. Klemens Edward, Sp.OG, Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Columbia Asia Hospital BSD, menjelaskan bahwa riwayat keluarga merupakan salah satu faktor risiko paling signifikan yang masih sering diabaikan masyarakat.
“Kanker ovarium sering kali tidak menunjukkan gejala yang jelas pada tahap awal. Keluhan seperti perut kembung atau begah sering dianggap sebagai gangguan pencernaan biasa. Padahal, riwayat keluarga merupakan faktor risiko yang sangat penting. Jika ada anggota keluarga inti, seperti ibu atau saudara kandung, yang memiliki riwayat kanker ovarium atau kanker payudara, maka risiko seseorang mengalami kanker ovarium meningkat secara signifikan. Melalui edukasi yang tepat dan deteksi dini, kami ingin mendorong perempuan untuk lebih proaktif melakukan konsultasi medis secara berkala,” ujar dr. Klemens.
Selain faktor genetik, masyarakat juga perlu mewaspadai sejumlah gejala yang dapat menjadi tanda awal kanker ovarium, seperti perut yang sering terasa penuh atau kembung, nyeri panggul, cepat kenyang saat makan, hingga perubahan pola buang air besar maupun buang air kecil. Jika gejala-gejala tersebut berlangsung selama lebih dari dua minggu, masyarakat disarankan segera berkonsultasi dengan tenaga medis untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
Metode skrining yang dapat dilakukan antara lain pemeriksaan fisik, USG transvaginal, serta pemeriksaan penanda tumor CA-125 guna membantu mendeteksi adanya kelainan sejak dini.
Sementara itu, dr. Jeffry Oeswadi, MARS, FISQua, Hospital Director Columbia Asia Hospital BSD, menegaskan komitmen rumah sakit dalam menghadirkan layanan kesehatan perempuan yang komprehensif, tidak hanya berfokus pada pengobatan tetapi juga pencegahan.
“Kami berkomitmen memberikan pelayanan kesehatan yang kredibel dan berkualitas. Fokus kami tidak hanya pada pengobatan, tetapi juga upaya preventif melalui edukasi dan skrining kesehatan. Dengan dukungan fasilitas modern serta tim medis yang berpengalaman, kami mengajak masyarakat untuk tidak menunda pemeriksaan kesehatan reproduksi. Deteksi dini bukan hanya tentang menemukan penyakit lebih cepat, tetapi juga memberikan kesempatan hidup yang lebih baik bagi perempuan Indonesia,” kata dr. Jeffry.
Sebagai bagian dari komitmen tersebut, Columbia Asia Hospital BSD terus memperkuat peran edukatifnya melalui berbagai kampanye kesehatan perempuan guna meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini kanker ginekologi. Upaya ini diharapkan dapat membantu mengurangi keterlambatan diagnosis sekaligus menurunkan angka kematian akibat kanker ovarium di Indonesia.
Selain itu, rumah sakit juga menyediakan layanan Pap Smear dengan biaya yang terjangkau dan didukung oleh dokter spesialis berpengalaman, sehingga masyarakat dapat lebih mudah mengakses pemeriksaan kesehatan reproduksi secara rutin.
Dengan meningkatnya kesadaran terhadap faktor risiko dan pentingnya pemeriksaan berkala, diharapkan semakin banyak perempuan Indonesia yang dapat mendeteksi kanker ovarium sejak dini dan memperoleh peluang kesembuhan yang lebih tinggi.
(Anton)



















































