SUARAINDONEWS.COM, Jakarta – Perdebatan soal siapa yang lebih hebat antara Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo tampaknya tak akan pernah selesai. Namun, sebuah studi terbaru justru menemukan hal yang jauh lebih mengejutkan. Pilihan seseorang terhadap salah satu dari dua megabintang sepak bola itu ternyata berkaitan dengan cara berpikir, karakter, bahkan kecenderungan ideologi politiknya.
Temuan tersebut berasal dari studi bertajuk Political Identity Beyond Politics: The Messi-Ronaldo Preference Across 26 Countries yang dilakukan peneliti dari Nanyang Technological University dan National University of Singapore, bekerja sama dengan Universidad Carlos III de Madrid, Spanyol.
Dalam penelitian yang melibatkan 10.661 responden di 26 negara itu, para peneliti hanya mengajukan satu pertanyaan sederhana: “Anda lebih menyukai Lionel Messi atau Cristiano Ronaldo?”
Jawabannya ternyata membuka pola yang tidak terduga.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang memiliki pandangan politik lebih liberal cenderung memilih Lionel Messi. Sebaliknya, mereka yang memiliki pandangan lebih konservatif lebih banyak menjatuhkan pilihan kepada Cristiano Ronaldo.
Mengapa hal itu bisa terjadi?
Menurut para peneliti, jawabannya bukan terletak pada kemampuan bermain sepak bola semata, melainkan pada citra yang melekat pada masing-masing pemain.
Lionel Messi selama ini dikenal sebagai sosok yang pendiam, rendah hati, minim kontroversi, serta lebih sering berbicara lewat performanya di lapangan. Karakter tersebut dinilai lebih dekat dengan nilai-nilai yang mengedepankan kerja kolektif, kesederhanaan, dan inklusivitas.
Sebaliknya, Cristiano Ronaldo memiliki citra sebagai pribadi yang sangat percaya diri, disiplin, kompetitif, ambisius, dan menonjolkan pencapaian individu. Karakter itu dianggap lebih selaras dengan pandangan yang menghargai prestasi personal, ketegasan, serta nilai-nilai tradisional yang sering dikaitkan dengan kelompok konservatif.
Meski demikian, peneliti menegaskan bahwa studi ini tidak menyimpulkan bahwa menyukai Messi otomatis membuat seseorang liberal atau menjadi penggemar Ronaldo berarti konservatif. Penelitian ini hanya menemukan adanya korelasi statistik, bukan hubungan sebab-akibat.
Penelitian juga menemukan bahwa hubungan tersebut paling kuat terjadi pada responden berusia muda. Semakin tua usia responden, pengaruh ideologi terhadap pilihan antara Messi dan Ronaldo semakin melemah hingga tidak lagi signifikan.
Selain ideologi politik, peneliti juga meneliti faktor lain seperti penggunaan media sosial berbasis video pendek, tingkat refleksi kognitif, kepribadian, hingga kondisi demokrasi di masing-masing negara. Namun, seluruh faktor tersebut memiliki pengaruh yang lebih kecil dibanding ideologi politik.
Temuan ini pun langsung memicu perdebatan di media sosial. Banyak warganet mengaku terkejut karena sebuah pilihan yang selama ini dianggap sekadar soal selera olahraga ternyata dapat mencerminkan kecenderungan psikologis dan cara seseorang memandang dunia.
Bagi sebagian orang, Messi dan Ronaldo mungkin hanya dua legenda sepak bola. Namun di mata para peneliti, rivalitas keduanya kini menjadi jendela baru untuk memahami bagaimana identitas sosial, budaya, dan politik dapat tercermin dari preferensi yang tampaknya sederhana.
Jadi, kalau suatu saat ada teman bertanya, “Tim Messi atau Tim Ronaldo?”, mungkin pertanyaan itu tidak lagi sesederhana membahas sepak bola.
(Anton)
























