SUARAINDONEWS. COM, Jakarta – Derasnya arus informasi di media sosial menjadi tantangan baru bagi generasi muda Indonesia. Di tengah kemudahan mengakses berbagai platform digital, pelajar dituntut memiliki kemampuan berpikir kritis agar tidak mudah terpengaruh informasi palsu, ujaran kebencian, maupun berbagai bentuk disinformasi.
Pesan tersebut disampaikan Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Sistem Informasi Sekretariat Jenderal MPR RI, Budi Muliawan, S.H., M.H., saat menjadi narasumber dalam kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) SMA Islam Al Azhar 19 Ciracas di Aula Serbaguna Hj. Siti Marsiyam Mardjani, Jakarta, Selasa (14/7/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri Ketua Pembina Yayasan Pendidikan Al Islam Bahrul Ulum Ciracas, Hj. Harimurti, Kepala SMA Islam Al Azhar 19 Ciracas, Tati Ferawati, serta Wakil Kepala Sekolah, Muhammad Alhabib Yusron.
Dalam paparannya yang bertajuk “Membangun Karakter Kebangsaan di Era Digital”, Budi Muliawan mengatakan Generasi Z merupakan generasi yang lahir dan tumbuh bersama perkembangan internet sehingga menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Oleh karena itu, setiap informasi yang diterima harus disaring dan diverifikasi sebelum dipercaya maupun disebarluaskan.
Menurutnya, tantangan generasi muda saat ini bukan lagi perang fisik, melainkan perang melawan _hoaks_ , disinformasi, manipulasi informasi, hingga penyalahgunaan teknologi kecerdasan buatan ( _Artificial Intelligence/AI_ ). Karena itu, kemampuan berpikir kritis menjadi bekal penting bagi setiap pelajar.
“Karakter kebangsaan tidak cukup dipelajari di dalam kelas, tetapi harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari, termasuk saat bermedia sosial. Salah satu bentuk bela negara di era digital adalah tidak mudah percaya pada hoaks dan tidak ikut menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya,” ujarnya.
Budi Muliawan juga mengingatkan bahwa algoritma media sosial dapat membentuk cara pandang seseorang karena terus menyajikan konten yang sesuai dengan kebiasaan penggunanya. Kondisi tersebut berpotensi menciptakan _filter bubble_ atau gelembung informasi yang membuat seseorang hanya menerima sudut pandang tertentu.
Karena itu, ia mendorong para pelajar untuk membiasakan diri berdiskusi secara terbuka, menghargai perbedaan pendapat, serta memperluas wawasan dari berbagai sumber informasi yang kredibel.
Selain itu, ia menekankan pentingnya etika digital dengan menghindari perundungan siber ( _cyberbullying_ ), ujaran kebencian, serta penyebaran konten negatif yang dapat merusak persatuan bangsa.
Dalam kesempatan tersebut, Budi Muliawan juga mengajak para siswa memahami sejarah perjuangan bangsa, mulai dari Sumpah Pemuda hingga Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Menurutnya, pemahaman sejarah menjadi fondasi penting untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air dan kepercayaan diri sebagai generasi penerus bangsa.
Empat Pilar MPR RI Menjadi Benteng di Era Digital
Kepada para peserta MPLS, Budi Muliawan memperkenalkan Empat Pilar MPR RI, yaitu Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika.
Ia menjelaskan bahwa penguatan nilai-nilai kebangsaan menjadi benteng penting agar generasi muda tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang menyesatkan maupun berbagai upaya yang dapat memecah belah persatuan bangsa.
Selain itu, para pelajar juga didorong memanfaatkan teknologi digital secara positif dan produktif, baik untuk meningkatkan kompetensi, mengembangkan kreativitas, mempromosikan budaya Indonesia, maupun menyebarluaskan berbagai prestasi anak bangsa.
Di akhir paparannya, Budi Muliawan berpesan agar para siswa terus membangun karakter melalui penguatan nilai-nilai agama, menghormati orang tua dan guru, serta aktif mengikuti berbagai kegiatan organisasi di lingkungan sekolah sebagai sarana membangun kepemimpinan dan kepedulian sosial.
Pelajar Antusias Berdialog
Sesi dialog berlangsung hangat dan interaktif. Para pelajar mengajukan berbagai pertanyaan seputar kebebasan berekspresi di media sosial, ancaman radikalisme digital, hingga peran MPR RI dalam membuka ruang partisipasi bagi generasi muda.
Salah seorang siswi, Salwa, yang aktif menulis puisi bertema politik di media sosial, menanyakan apakah MPR RI menyediakan ruang bagi generasi muda untuk menyampaikan gagasan dan aspirasi secara terbuka.
Menanggapi hal tersebut, Budi Muliawan mengapresiasi semangat literasi para pelajar. Ia menjelaskan bahwa MPR RI menyediakan berbagai kanal komunikasi, seperti situs web resmi, Instagram, YouTube, dan media sosial lainnya yang dapat dimanfaatkan masyarakat, termasuk pelajar, untuk memperoleh informasi sekaligus menyampaikan aspirasi secara santun dan bertanggung jawab.
Ia juga mengundang para siswa untuk berkunjung ke Gedung MPR RI guna mengenal lebih dekat lembaga negara tersebut, sekaligus memanfaatkan berbagai fasilitas yang tersedia, termasuk perpustakaan MPR RI yang memiliki koleksi literatur kebangsaan dan konstitusi.
Sementara itu, pertanyaan mengenai ancaman radikalisme di ruang digital disampaikan oleh seorang siswa bernama Aufa. Menurut Budi Muliawan, langkah paling penting untuk menangkal paham radikal adalah membiasakan diri melakukan verifikasi terhadap setiap informasi serta tidak mudah terpengaruh narasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya.
Ia menambahkan bahwa peran orang tua dan guru tetap sangat penting dalam mendampingi aktivitas digital anak, termasuk penggunaan media sosial maupun permainan daring (_online game_). Penguatan karakter dan nilai-nilai kebangsaan sejak dini menjadi fondasi penting untuk membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki integritas, akhlak mulia, serta tanggung jawab sebagai warga negara.
Menutup kegiatan tersebut, Budi Muliawan berharap dialog kebangsaan bersama pelajar dapat terus dilakukan sebagai bagian dari upaya menyiapkan generasi muda yang kritis, berkarakter, cinta tanah air, serta mampu memanfaatkan perkembangan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab.
(Anton)
























