SUARAINDONEWS.COM, Jakarta – Di saat biaya kuliah kerap menjadi alasan banyak anak muda terpaksa menunda mimpi, sebuah kampus di Nusa Tenggara Timur justru menghadirkan solusi yang tak biasa dan bikin publik salut.
Universitas Muhammadiyah Maumere membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk membayar biaya kuliah menggunakan hasil bumi dan hasil laut. Ya, bukan uang tunai, melainkan hasil panen dan tangkapan yang selama ini menjadi sumber penghidupan masyarakat setempat.
Bagi keluarga petani dan nelayan yang kesulitan mengumpulkan uang tunai setiap semester, kebijakan ini menjadi angin segar. Mahasiswa bisa membawa berbagai komoditas seperti padi, jagung, kelapa, kemiri, kakao, hingga hasil tangkapan laut untuk disetorkan kepada kampus.
Selanjutnya, pihak kampus membantu memasarkan komoditas tersebut dan hasil penjualannya akan digunakan untuk membayar biaya pendidikan mahasiswa.
Kebijakan ini langsung menjadi perbincangan karena dianggap sebagai bentuk keberpihakan nyata terhadap masyarakat kecil. Di tengah isu mahalnya biaya pendidikan dan tingginya angka putus kuliah akibat faktor ekonomi, langkah kampus ini dinilai menghadirkan solusi yang dekat dengan kondisi masyarakat.
Banyak warga di wilayah pedesaan sebenarnya memiliki hasil kebun atau hasil laut yang cukup melimpah. Namun persoalannya, mereka sering kesulitan menjual hasil tersebut dengan harga yang layak atau mendapatkan akses pasar yang memadai. Akibatnya, kebutuhan pendidikan anak-anak mereka kerap terhambat.
Melihat kondisi itu, Universitas Muhammadiyah Maumere memilih turun tangan. Kampus bukan hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga membantu menjembatani pemasaran hasil produksi masyarakat agar memiliki nilai ekonomi yang lebih bermanfaat.
Kebijakan tersebut sekaligus membuktikan bahwa akses pendidikan tidak selalu harus bergantung pada kemampuan menyediakan uang tunai. Selama ada kemauan dan kreativitas, berbagai solusi dapat dihadirkan untuk membantu mahasiswa tetap mengenyam pendidikan tinggi.
Di media sosial, banyak netizen mengaku kagum dengan terobosan tersebut. Tidak sedikit yang menyebut kebijakan itu sebagai contoh nyata pendidikan yang membumi dan memahami kondisi masyarakat di daerah.
Di saat banyak orang membicarakan kecerdasan buatan, digitalisasi, dan kampus modern, Universitas Muhammadiyah Maumere justru viral karena hal yang sederhana: membuka jalan agar anak petani dan nelayan tetap bisa kuliah tanpa harus terbebani persoalan uang tunai.
Bagi sebagian mahasiswa di NTT, kelapa, jagung, kemiri, atau ikan hasil tangkapan bukan sekadar komoditas. Kini, hasil bumi dan hasil laut itu juga bisa menjadi tiket untuk meraih gelar sarjana dan mengubah masa depan.
(Anton)




















































