SUARAINDONEWS.COM, JAKARTA – Fenomena unik di dunia sains kembali menarik perhatian. Kali ini, bukan susu sapi atau kambing yang menjadi sorotan, melainkan cockroach milk alias susu kecoa. Cairan nutrisi yang dihasilkan kecoa kumbang Pasifik (Diploptera punctata) ini mengandung kristal protein dengan kepadatan energi tinggi dan menjadi objek penelitian ilmiah selama bertahun-tahun.
Berbeda dari kebanyakan kecoa yang berkembang biak dengan bertelur, Diploptera punctata melahirkan anak secara langsung. Induknya menghasilkan cairan kaya nutrisi untuk memberi makan embrio yang berkembang di dalam tubuhnya. Dari cairan inilah para ilmuwan menemukan kristal protein yang menyimpan berbagai zat gizi.
Penelitian yang dipublikasikan pada 2016 dalam jurnal IUCrJ mengungkap bahwa kristal tersebut mengandung protein, lemak, karbohidrat, serta asam amino esensial. Kepadatan energinya dilaporkan lebih dari tiga kali lipat susu kerbau dalam jumlah yang setara. Temuan ini membuat susu kecoa menjadi bahan pembicaraan, terutama ketika dunia terus mencari sumber pangan alternatif yang kaya nutrisi.
Namun, jangan buru-buru membayangkan susu kecoa bakal dijual dalam kemasan di supermarket. Cairan tersebut bukan susu yang bisa diperah seperti susu sapi. Nutrisi itu diproduksi induk kecoa untuk mendukung perkembangan embrio, sementara pengambilan kristalnya membutuhkan proses yang rumit.
Penelitian ini juga mendapat perhatian kembali pada 2026 setelah dikaitkan dengan penghargaan Ig Nobel Kimia, yang mengapresiasi penelitian unik sekaligus mendorong masyarakat memikirkan sains dari sudut pandang berbeda.
Dalam laporan penelitian dan penjelasan ilmiah yang tersedia, para peneliti menyoroti kemampuan kristal tersebut menyimpan nutrisi dalam bentuk terkonsentrasi. Struktur proteinnya menjadi perhatian karena dapat membantu ilmuwan memahami bagaimana protein berinteraksi dengan lemak dan menyimpan energi.
Meski begitu, belum ada bukti klinis yang cukup untuk menyatakan susu kecoa aman dan layak dijadikan pengganti susu untuk konsumsi sehari-hari. Kandungan energi yang tinggi tidak otomatis berarti suatu bahan pangan lebih sehat atau lebih bermanfaat bagi tubuh manusia.
Tantangan lainnya adalah produksi. Mengumpulkan kristal secara langsung dari embrio kecoa dinilai tidak praktis untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam skala besar. Karena itu, salah satu arah penelitian yang menarik adalah kemungkinan mempelajari struktur protein tersebut dan mengembangkan cara produksi buatan melalui teknologi biologi.
Sejumlah laporan sains juga mengingatkan bahwa istilah superfood perlu digunakan secara hati-hati. Kandungan nutrisi yang menjanjikan tetap harus diuji melalui penelitian keamanan, potensi alergi, kualitas produksi, serta manfaatnya bagi manusia.
Dengan demikian, susu kecoa memang menawarkan temuan menarik dalam ilmu biologi dan teknologi pangan. Akan tetapi, untuk saat ini, kristal protein tersebut masih menjadi objek penelitian, bukan alternatif susu yang sudah terbukti aman dikonsumsi masyarakat.
Temuan ini sekaligus menunjukkan bahwa sumber inspirasi teknologi pangan bisa datang dari proses biologis yang tidak biasa. Namun, sebelum sebuah temuan laboratorium menjadi produk konsumsi, masih diperlukan pengujian ilmiah yang ketat untuk memastikan keamanan dan manfaatnya.
(Purwantiningsih)

























