SUARAINDONEWS.COM, LONDON — Pemerintah Inggris meminta masyarakat meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan keadaan darurat, mulai dari serangan siber, pemadaman listrik, gangguan pasokan air, hingga bencana alam yang dapat mengganggu kehidupan sehari-hari.
Melalui kampanye nasional Be Ready, pemerintah mendorong setiap rumah tangga menyiapkan persediaan kebutuhan dasar yang cukup untuk tiga hari. Langkah ini merupakan bagian dari program kesiapsiagaan nasional selama tiga tahun untuk memperkuat ketahanan masyarakat menghadapi berbagai risiko.
Panduan tersebut mencakup persediaan air minum, makanan tahan lama, uang tunai, obat-obatan, senter, baterai cadangan, radio, pengisi daya portabel, serta dokumen penting. Pemerintah juga menyarankan keluarga menyiapkan perlengkapan pertolongan pertama dan kebutuhan khusus bagi bayi maupun hewan peliharaan.
Setiap orang dianjurkan memiliki sekitar tiga liter air minum per hari, atau sembilan liter untuk tiga hari. Jumlah tersebut belum termasuk kebutuhan air untuk memasak dan mencuci.
Masyarakat juga diminta menyimpan makanan yang bisa langsung dikonsumsi tanpa dimasak, seperti daging, ikan, buah, dan sayuran kalengan. Perlengkapan lain yang disarankan meliputi selimut, pakaian hangat, kantong tidur, cairan pembersih tangan, serta tisu basah.
Pemerintah menekankan bahwa persediaan tidak harus dibeli sekaligus. Warga dapat mengumpulkannya secara bertahap sesuai kemampuan ekonomi dan kebutuhan keluarga.
Menteri Pertahanan Inggris Wes Streeting menyambut respons masyarakat terhadap imbauan tersebut. Dalam wawancara dengan BBC Newsnight, ia menilai persiapan sederhana di rumah dapat membantu keluarga menghadapi gangguan layanan dasar.
“Ini menggembirakan karena masyarakat mengambil langkah-langkah praktis untuk bersiap menghadapi keadaan darurat,” kata Streeting.
Ia menambahkan, “Memiliki sejumlah kebutuhan sehari-hari di rumah, mulai dari makanan kaleng hingga senter, dapat membantu keluarga menghadapi gangguan, baik akibat banjir, pemadaman listrik, maupun pipa air yang pecah.”
Menurut Streeting, kesiapsiagaan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan masyarakat.
“Kita semua bisa berperan dalam membuat Inggris lebih tangguh,” ujarnya.
Imbauan tersebut bukan berarti pemerintah memastikan bencana besar atau perang akan segera terjadi. Kampanye Be Ready ditujukan untuk membantu masyarakat menghadapi kemungkinan gangguan jangka pendek yang dapat memengaruhi layanan publik dan kebutuhan sehari-hari.
Imbauan pemerintah turut mendorong peningkatan pembelian sejumlah perlengkapan darurat. Laporan media Inggris menyebut beberapa pengecer mengalami lonjakan penjualan makanan kaleng, radio, senter, dan pengisi daya portabel setelah kampanye tersebut mendapat perhatian masyarakat.
Namun, peningkatan pembelian itu tidak otomatis menunjukkan Inggris sedang mengalami kelangkaan pangan nasional. Persediaan sejumlah produk di supermarket dilaporkan masih memadai.
Pemerintah tidak meminta masyarakat melakukan aksi borong. Sebaliknya, warga dianjurkan memanfaatkan barang yang sudah tersedia di rumah dan menambah persediaan secara bertahap.
Radio bertenaga baterai atau putar manual juga menjadi salah satu perlengkapan yang direkomendasikan agar masyarakat tetap dapat memperoleh informasi ketika listrik dan jaringan komunikasi terganggu.
Sementara itu, warga yang mengonsumsi obat resep secara rutin diminta menyiapkan persediaan untuk beberapa hari. Mereka yang bergantung pada perangkat medis juga dianjurkan menyimpan petunjuk penggunaan dalam bentuk cetak dan memastikan sumber daya cadangan tersedia.
Peningkatan kesiapsiagaan masyarakat berlangsung di tengah kekhawatiran Inggris terhadap perkembangan ancaman keamanan, khususnya dari Rusia.
Dalam tulisannya di The Telegraph, Streeting memperingatkan bahwa negara-negara yang berpotensi menjadi lawan Inggris dapat memiliki kemampuan militer dan ekonomi perang untuk melancarkan serangan pada 2030.
“Pada 2030, kekuatan militer dan ekonomi perang mereka dapat menempatkan mereka dalam posisi untuk menyerang,” tulis Streeting.
Ia menyebut Inggris memiliki sedikit lebih dari 1.000 hari untuk menyelesaikan misi mempersiapkan diri bersama negara-negara sekutunya.
“Untuk mencegah hal terburuk, kita harus mempersiapkan diri menghadapinya,” tegasnya.
Pernyataan tersebut merupakan peringatan mengenai risiko keamanan dan kebutuhan memperkuat pertahanan. Hal itu bukan kepastian bahwa perang akan terjadi dalam kurun waktu 1.000 hari.
Ketegangan dengan Rusia juga meningkat setelah Moskow memperingatkan bahwa fasilitas Inggris di Ukraina yang digunakan untuk mendukung serangan jarak jauh terhadap Rusia dapat dianggap sebagai target yang sah.
Ancaman keamanan Inggris juga tercermin dari meningkatnya laporan insiden drone di atau dekat fasilitas Kementerian Pertahanan Inggris.
Data yang diperoleh melalui permintaan informasi publik dan dilaporkan The Independent mencatat sekitar 340 insiden keamanan terkait drone hingga Agustus 2026. Angka tersebut meningkat dibandingkan 250 insiden sepanjang 2025 dan 126 insiden pada 2024.
Meski demikian, angka tersebut tidak membuktikan bahwa seluruh insiden dilakukan oleh Rusia atau Iran. Identitas pihak yang bertanggung jawab atas kejadian-kejadian tersebut perlu dibedakan dari dugaan yang disampaikan sejumlah pengamat keamanan.
Peningkatan insiden itu memperkuat perhatian pemerintah terhadap perlindungan fasilitas militer dan infrastruktur strategis dari ancaman yang berkembang.
Selain risiko keamanan, Inggris juga menghadapi tekanan terhadap sektor pertanian akibat gelombang panas dan kekeringan.
Kondisi cuaca ekstrem membuat sejumlah petani menghadapi penurunan hasil panen dan keterbatasan pakan ternak. Sebagian peternak sapi perah bahkan dilaporkan mulai menggunakan persediaan pakan musim dingin lebih awal karena rumput tidak tumbuh optimal akibat kekeringan.
Agriculture and Horticulture Development Board (AHDB) memperkirakan pasokan susu Inggris pada tahun produksi 2026/2027 mencapai 12,74 miliar liter, turun sekitar 284 juta liter dibandingkan tahun sebelumnya. Tekanan panas pada sapi dan keterbatasan pakan hijauan menjadi beberapa faktor yang memengaruhi produksi.
Sementara itu, analisis Energy and Climate Intelligence Unit (ECIU) memperkirakan kerugian pendapatan petani tanaman pangan Inggris akibat tiga musim panen buruk pada 2024–2026 mendekati £4,8 miliar jika disesuaikan dengan inflasi.
Angka tersebut merupakan estimasi kerugian pendapatan petani akibat penurunan produksi sejumlah tanaman dibandingkan rata-rata 10 tahun, bukan nilai kerugian seluruh sektor pangan atau ukuran langsung kelangkaan di pasar.
Serikat Petani Nasional Inggris (National Farmers Union/NFU) turut memperingatkan bahwa penurunan hasil panen dan meningkatnya biaya produksi dapat memperlemah ketahanan rantai pasok pangan jika berlangsung berkepanjangan.
Meski begitu, pemerintah Inggris masih menilai rantai pasok pangan memiliki ketahanan. Risiko terhadap hasil panen, harga, dan ketersediaan sejumlah komoditas terus dipantau, sementara dukungan bagi petani juga disiapkan untuk menghadapi dampak kekeringan.
Kampanye Be Ready memperlihatkan bahwa kesiapsiagaan nasional tidak hanya berkaitan dengan kemampuan militer, tetapi juga kesiapan rumah tangga menghadapi gangguan layanan dasar.
Persediaan air minum, makanan tahan lama, obat-obatan, alat penerangan, uang tunai, dan dokumen penting dapat membantu masyarakat bertahan sementara ketika listrik padam, pasokan air terhenti, atau distribusi kebutuhan pokok terganggu.
Pesan utama pemerintah Inggris adalah agar masyarakat bersiap tanpa perlu panik. Ancaman keamanan dan tekanan terhadap pertanian memang nyata, tetapi belum menjadi bukti bahwa perang atau kelangkaan pangan nasional pasti akan terjadi dalam waktu dekat.
Dengan persiapan sederhana yang dilakukan secara bertahap, pemerintah berharap keluarga dapat lebih tangguh menghadapi keadaan darurat sekaligus mengurangi ketergantungan pada bantuan segera ketika layanan publik terganggu.
(Yulianto)

























