SUARAINDONEWS.COM, JAKARTA — China mengembangkan rumah sakit berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang mampu menyimulasikan pelayanan medis dalam skala besar. Sistem yang dikembangkan tim Tsinghua University tersebut dirancang untuk menjalankan berbagai tugas medis, mulai dari konsultasi, diagnosis, hingga rekomendasi pengobatan.
Proyek bernama Agent Hospital ini menjadi sorotan setelah muncul pemberitaan yang menyebut sistem tersebut mampu menangani hingga 3.000 pasien per hari. Namun, angka itu merujuk pada klaim kapasitas layanan yang disimulasikan, bukan bukti bahwa 3.000 pasien nyata telah sembuh tanpa keterlibatan dokter manusia.
Agent Hospital dikembangkan sebagai lingkungan rumah sakit virtual yang memungkinkan dokter AI berinteraksi dengan pasien virtual dan mempraktikkan berbagai skenario medis. Teknologi ini dirancang untuk membantu meningkatkan kemampuan sistem kecerdasan buatan dalam memahami gejala, menyusun diagnosis, serta memberikan rekomendasi penanganan penyakit.
Dalam simulasi tersebut, AI menjalankan sejumlah tahapan pelayanan medis, termasuk menerima keluhan pasien, melakukan penilaian awal, menganalisis kemungkinan penyakit, dan menyarankan langkah pengobatan.
Lingkungan virtual ini juga memungkinkan sistem mempelajari berbagai kasus penyakit dalam waktu relatif singkat. Proses simulasi dilaporkan dapat berjalan hingga 100 kali lebih cepat daripada waktu nyata sehingga memungkinkan pengujian terhadap banyak skenario medis.
Perkembangan Agent Hospital menunjukkan bagaimana AI mulai dimanfaatkan untuk mendukung sektor kesehatan, terutama dalam pengolahan informasi medis dan membantu tenaga kesehatan mengambil keputusan.
Pada 29 Juli 2026, Tsinghua University melaporkan perkembangan sistem rumah sakit AI tersebut yang telah mencakup 26 departemen dan simulasi lebih dari 1.000 jenis penyakit. Laporan itu juga menyebut lebih dari 40 dokter di Beijing Tsinghua Changgung Hospital telah menggunakan sistem AI untuk membantu pelayanan pasien.
Meski demikian, teknologi tersebut belum berarti menggantikan dokter manusia sepenuhnya. Keputusan akhir mengenai diagnosis, resep obat, dan terapi tetap menjadi tanggung jawab tenaga medis.
Perkembangan lain terlihat dalam pemanfaatan AI di klinik mata. Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature Medicine pada September 2026 membahas penerapan sistem AI-TEC untuk mendukung pelayanan klinis nyata.
Penerapan tersebut menunjukkan bahwa AI mulai bergerak dari lingkungan simulasi menuju penggunaan dalam proses pelayanan medis. Namun, penggunaannya tetap membutuhkan pengawasan dan penilaian tenaga kesehatan.
Dalam penelitian itu, kemampuan sistem dianalisis melalui sejumlah indikator, termasuk ketepatan pengolahan citra medis. Nilai akurasi diagnostik tidak dapat disamakan dengan persentase pasien yang sembuh karena keduanya mengukur hal berbeda.
Penggunaan AI di sektor kesehatan diharapkan dapat membantu mempercepat proses analisis, mendukung deteksi penyakit, dan meningkatkan efisiensi pelayanan. Teknologi ini juga berpotensi membantu fasilitas kesehatan menghadapi tingginya jumlah pasien dan keterbatasan tenaga medis.
Namun, penerapan AI dalam pelayanan kesehatan masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti keamanan data pasien, potensi kesalahan diagnosis, perlindungan privasi, serta kebutuhan pengawasan terhadap rekomendasi yang dihasilkan sistem.
Dengan perkembangan tersebut, Agent Hospital menjadi salah satu contoh upaya China mengintegrasikan kecerdasan buatan dalam dunia medis. Meski AI semakin mampu menjalankan simulasi dan membantu pekerjaan klinis, keterlibatan dokter manusia tetap penting untuk memastikan diagnosis dan pengobatan sesuai dengan kondisi pasien.
(Robby Bustami)

























