SUARAINDONEWS.COM, JAKARTA — Bayangkan sudah keliling dunia ikut turnamen, pulang-pulang bukan cuma bawa koper dan oleh-oleh, tapi juga sekitar 60 medali.
Itulah cerita atlet pickleball Indonesia Angie Bong.
Dalam unggahan di media sosialnya, Angie mengungkapkan perjalanan sekitar satu tahun menekuni pickleball secara profesional. Ia mengaku telah mengumpulkan sekitar 60 medali dari berbagai kompetisi di luar negeri.
Namun, di balik tumpukan medali tersebut, ada cerita yang justru bikin Angie kecewa.
Soal sponsor.
Angie mengaku dukungan sponsor yang selama ini membantunya berkompetisi di level internasional justru lebih banyak datang dari perusahaan asing. Sementara dukungan dari perusahaan Indonesia, menurut pengakuannya, masih sangat minim.
Angie bahkan mengaku beberapa kali kesulitan mendapatkan respons ketika mencoba menghubungi perusahaan di Indonesia untuk meminta dukungan, termasuk untuk kebutuhan perlengkapan olahraga.
Menurutnya, persoalan tersebut bukan sekadar soal mendapatkan uang untuk bertanding. Ada hal lain yang jauh lebih membuatnya sedih: identitas Indonesia yang dibawanya saat bertanding.
Medali Ada, Tapi Nama Indonesia Tak Selalu Muncul
Angie mengungkapkan bahwa dukungan sponsor dari luar negeri membuat dirinya dalam beberapa pertandingan harus mengikuti ketentuan sponsor.
Ia menyebut pernah menggunakan identitas atau bendera negara sponsor saat bertanding di sejumlah turnamen.
Dalam sebuah turnamen di China, misalnya, Angie mengaku menggunakan bendera China karena mendapat pembiayaan dari pihak tersebut. Ia juga menyebut pengalaman serupa terjadi saat bertanding di Vietnam dan Kanada.
Bagi Angie, kondisi tersebut terasa ironis.
Sebab, ketika naik podium dan meraih medali, dirinya tetap ingin membawa nama Indonesia.
Menurutnya, persoalan tersebut membuat rasa bangga sebagai atlet Indonesia menjadi kurang lengkap.
Bukan Cuma Soal Duit
Angie menegaskan, keluhannya bukan semata-mata karena tidak mendapatkan uang dari sponsor Indonesia.
Yang lebih membuatnya sedih adalah ketika Indonesia tidak disebut sebagai negara yang dibawanya saat meraih prestasi.
Ia berharap semakin banyak perusahaan dalam negeri yang mau melihat atlet dari cabang olahraga yang sedang berkembang seperti pickleball.
Sebab, untuk mengikuti kompetisi internasional, atlet tidak hanya membutuhkan kemampuan bermain.
Ada tiket pesawat, hotel, biaya pendaftaran turnamen, perlengkapan, transportasi, hingga kebutuhan selama berada di negara tujuan.
Angie menyebut dirinya bahkan bisa mengikuti turnamen luar negeri hingga dua kali dalam sebulan. Kondisi tersebut membuat biaya perjalanan menjadi tantangan besar.
60 Medali dalam Setahun
Angie bukan atlet yang baru muncul kemarin sore.
Profil Pickleball.com mencatat dirinya sebagai pemain pickleball asal Indonesia. Sejumlah catatan pertandingan juga menunjukkan keterlibatannya dalam berbagai kompetisi internasional.
Salah satu prestasinya adalah menjadi runner-up Women’s Singles Open 19+ pada Skechers International Pickleball Tournament Malaysia 2026.
Ia juga disebut meraih gelar bersama Bagoes Adam Setyobudi pada kategori Mixed Doubles 30+ dalam Pickleball World Cup 2026.
Media yang mengulas perjalanan Angie juga menyebut dirinya berada di peringkat 15 Asia kategori tunggal putri dan peringkat pertama Indonesia untuk ganda campuran.
Dari Tenis, Nyemplung ke Pickleball
Angie sebelumnya merupakan atlet tenis. Ia mulai mengenal pickleball ketika berada di Malaysia dan kemudian semakin serius menekuni olahraga tersebut.
Menurut Angie, perkembangan pickleball di sejumlah negara Asia sudah jauh lebih pesat. Lapangan semakin banyak dan turnamen internasional digelar lebih rutin.
Sementara di Indonesia, menurutnya, kompetisi pickleball masih relatif terbatas.
Angie menyebut kondisi itu menjadi salah satu tantangan bagi atlet Indonesia yang ingin mengejar pengalaman internasional.
Atlet Indonesia Disebut Tak Kalah, Masalahnya Biaya
Angie menilai kemampuan atlet Indonesia sebenarnya tidak kalah dari negara lain.
Masalahnya adalah kesempatan bertanding.
Semakin sering turun di turnamen internasional, semakin banyak pengalaman yang didapat. Tetapi semakin sering terbang ke luar negeri, semakin besar pula biaya yang harus dikeluarkan.
Karena itu, Angie berharap pemerintah maupun pihak swasta dapat ikut membantu pembiayaan perjalanan atlet Indonesia ke berbagai kompetisi internasional.
Ia juga berharap organisasi pickleball di Indonesia terus memperkuat pembinaan dan dukungan kepada para atlet.
Curhat Viral, Sponsor Lokal Mulai Berdatangan
Ada kabar menarik setelah curhat Angie ramai diperbincangkan.
Angie mengatakan mulai mendapatkan respons dari sejumlah pihak di Indonesia. Bahkan, menurut pengakuannya, sudah ada beberapa sponsor lokal yang masuk dalam proses kerja sama.
Artinya, cerita ini belum selesai.
Justru dari tumpukan 60 medali itulah Angie sedang membuka satu pertanyaan besar:
Kalau atlet Indonesia sudah keliling dunia membawa prestasi, apakah dunia usaha Tanah Air juga siap ikut membawa mereka naik podium?
Buat Angie, dukungan sponsor bukan sekadar soal siapa yang membayar tiket pesawat.
Ada nama Indonesia yang ingin terus ia bawa.
(Riana P)

























