SUARAINDONEWS.COM, Jakarta – Siapa sangka limbah kulit pisang yang selama ini dianggap sampah justru mengantarkan sebuah sekolah di perbatasan Indonesia-Timor Leste menjadi juara tingkat Asia Pasifik.
Prestasi membanggakan itu datang dari SMP IL Kapten Fatubaa, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang berhasil meraih gelar Regional Winner AIA Healthiest Schools Competition 2025/2026 melalui inovasi Huka Upcycling Project. Program tersebut mengalahkan hampir 1.000 peserta dari berbagai negara di kawasan Asia Pasifik dan membawa pulang hadiah utama sebesar 40.000 dolar AS atau sekitar Rp650 juta untuk pengembangan program kesehatan dan keberlanjutan sekolah.
Prestasi ini terasa semakin istimewa karena lahir dari sekolah yang berada di wilayah perbatasan Indonesia dengan Timor Leste, jauh dari hiruk-pikuk kota besar dan fasilitas pendidikan yang serba lengkap.
Alih-alih melihat kulit pisang sebagai sampah, para guru dan siswa justru mengubahnya menjadi berbagai produk bernilai ekonomi, mulai dari es krim, kompos organik, hingga pupuk cair yang bermanfaat bagi lingkungan dan masyarakat sekitar.
Program yang diberi nama Huka Upcycling Project tidak hanya mengajarkan siswa mengelola limbah organik, tetapi juga membangun kesadaran tentang pentingnya ekonomi sirkular dan keberlanjutan.
Yang membuat proyek ini semakin menarik, inovasi tersebut tidak dikerjakan hanya oleh pihak sekolah. Orang tua murid, petani, koperasi, hingga masyarakat sekitar ikut terlibat dalam proses pengumpulan dan pengolahan limbah kulit pisang. Bahkan, kolaborasi juga melibatkan pelajar dari Timor-Leste sehingga manfaatnya dirasakan lintas komunitas. Program ini telah memberikan dampak positif kepada lebih dari 1.000 orang.
Keberhasilan SMP IL Kapten Fatubaa menjadi bukti bahwa inovasi tidak selalu lahir dari sekolah unggulan di kota besar. Dengan kreativitas, kepedulian terhadap lingkungan, dan semangat gotong royong, sekolah di wilayah perbatasan pun mampu mencuri perhatian dunia.
Kompetisi AIA Healthiest Schools merupakan ajang tingkat Asia Pasifik yang mendorong sekolah-sekolah menghadirkan solusi nyata di bidang kesehatan, lingkungan, dan keberlanjutan. Pada edisi 2025/2026, hampir 1.000 proposal dari berbagai negara ikut bersaing sebelum akhirnya SMP IL Kapten Fatubaa dinobatkan sebagai pemenang regional.
Prestasi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berprestasi. Dari sebuah sekolah di ujung timur Indonesia, lahir inovasi sederhana yang kini diakui di panggung internasional.
Kulit pisang yang dulu berakhir di tempat sampah kini berubah menjadi simbol kreativitas, kepedulian lingkungan, sekaligus bukti bahwa anak-anak Indonesia mampu bersaing dengan sekolah-sekolah terbaik di kawasan Asia Pasifik.
(Anton)
























