SUARAINDONEWS.COM, Jakarta – Belakangan ini, media sosial ramai membahas cara sederhana untuk membantu meredakan rasa cemas dan overthinking, yakni dengan menempelkan benda dingin seperti es batu atau botol berisi air dingin di area ketiak. Banyak warganet mengaku merasa lebih tenang setelah mencobanya. Lalu, apakah cara ini benar-benar ada dasar ilmiahnya?
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa paparan dingin memang dapat memengaruhi sistem saraf otonom, khususnya sistem saraf parasimpatis yang berfungsi membantu tubuh kembali ke kondisi rileks setelah mengalami stres.
Salah satu bagian penting dari sistem ini adalah saraf vagus, yaitu saraf yang menghubungkan otak dengan berbagai organ, termasuk jantung, paru-paru, dan saluran pencernaan. Saraf ini berperan dalam mengatur detak jantung, pernapasan, tekanan darah, hingga respons tubuh terhadap stres.
Ketika sistem saraf parasimpatis lebih aktif, detak jantung cenderung melambat, napas menjadi lebih teratur, dan tubuh mulai keluar dari kondisi “fight or flight” menuju kondisi yang lebih tenang.
Menurut berbagai ulasan medis, paparan dingin pada area tubuh tertentu dapat membantu merangsang respons tersebut. Karena itu, sebagian psikolog maupun terapis juga memanfaatkan teknik berbasis suhu dingin sebagai salah satu strategi untuk membantu seseorang yang sedang mengalami kecemasan akut atau emosi yang sangat intens.
Teknik yang sering direkomendasikan antara lain membasuh wajah dengan air dingin, mengompres wajah menggunakan handuk dingin, mandi air dingin dalam waktu singkat, atau memegang benda dingin selama beberapa saat. Tujuannya bukan menghilangkan kecemasan secara instan, melainkan membantu tubuh lebih cepat kembali tenang sehingga seseorang lebih mudah mengendalikan pikirannya.
Belakangan, muncul pula tren menempelkan kompres dingin atau botol berisi air dingin di area ketiak. Area ini memiliki banyak pembuluh darah besar yang berada cukup dekat dengan permukaan kulit sehingga sensasi dingin lebih cepat dirasakan tubuh. Meski demikian, penelitian yang secara khusus membuktikan efektivitas teknik ini masih sangat terbatas.
Para ahli menegaskan bahwa manfaat paparan dingin kemungkinan berasal dari respons fisiologis tubuh terhadap suhu rendah, bukan karena area ketiak memiliki kemampuan khusus untuk “mengobati” kecemasan.
Sejumlah studi mengenai stimulasi saraf vagus juga menunjukkan hasil yang menjanjikan dalam membantu mengurangi gejala kecemasan. Namun, sebagian besar penelitian menggunakan alat medis khusus atau metode yang berbeda, sehingga hasilnya tidak bisa langsung disamakan dengan penggunaan es batu di rumah.
Karena itu, para pakar mengingatkan agar masyarakat tidak menganggap terapi dingin sebagai pengganti penanganan medis atau psikologis.
Jika rasa cemas hanya muncul sesekali, teknik sederhana seperti latihan pernapasan, meditasi, olahraga ringan, tidur yang cukup, hingga paparan dingin dapat menjadi cara pendukung untuk membantu tubuh lebih rileks.
Namun, apabila kecemasan berlangsung terus-menerus, mengganggu aktivitas sehari-hari, sulit tidur, sering mengalami serangan panik, atau menurunkan kualitas hidup, sebaiknya segera berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater agar mendapatkan penanganan yang tepat.
Dengan kata lain, menempelkan benda dingin di area tubuh, termasuk ketiak, memang memiliki dasar ilmiah sebagai salah satu cara membantu tubuh menjadi lebih tenang. Akan tetapi, teknik ini sebaiknya dipandang sebagai strategi pendukung untuk mengelola stres, bukan sebagai terapi utama atau pengobatan bagi gangguan kecemasan.
(Anton)

























