SUARAINDONEWS.COM, JAKARTA — Persiapan panen raya perdana di Kawasan Swasembada Pangan, Energi, dan Air Nasional (KSPEAN) Wanam, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, terus dikebut. Salah satu pekerjaan rumahnya adalah memastikan kebutuhan air untuk lahan pertanian tetap aman.
Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menyiapkan sejumlah opsi sumber air untuk mendukung panen raya yang direncanakan berlangsung sekitar Oktober-November 2026.
Salah satu opsi yang disiapkan adalah memanfaatkan air rawa dengan estimasi volume sekitar 160.000 meter kubik. Selain itu, Kementerian PU juga menyiapkan opsi pemanfaatan air tanah melalui pembangunan sumur.
Namun, sebelum sumur dibangun, survei geolistrik akan dilakukan lebih dulu untuk mengetahui posisi akuifer dan potensi air tanah di kawasan tersebut.
Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan pengembangan lumbung pangan di berbagai wilayah merupakan bagian dari strategi Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat swasembada pangan nasional.
“Sekitar Oktober-November akan ada panen raya padi di Wanam sekitar 180 hektar, (produksi) bisa sekitar 130-140 ton. Bagaimana hebatnya Pak Presiden naruh lumbung pangan nasional di seluruh titik di Indonesia, nggak cuma satu titik di pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi. Jadi begitu di sini kering, di sana masih ada hujan. Hari ini kita bicara cuaca paling bagus di Papua. Untung kita masih punya Wanam,” kata Dody.
Lokasi panen raya perdana tersebut memiliki luas pengolahan tanah sekitar 220 hektare, dengan luas penanaman mencapai 127 hektare.
Untuk lokasi tanam bagian selatan seluas 107 hektare, kebutuhan air tercatat sekitar 48.384 meter kubik, sementara ketersediaannya mencapai 52.410 meter kubik. Artinya, kebutuhan air di kawasan tersebut masih bisa ditutupi oleh ketersediaan yang ada.
Kondisinya berbeda di lokasi bagian utara yang memiliki luas 20 hektare. Kebutuhan air di kawasan ini mencapai 34.560 meter kubik, sedangkan ketersediaannya baru sekitar 805 meter kubik.
Artinya, masih ada defisit air yang harus dicari solusinya. Karena itu, sumber air alternatif menjadi salah satu fokus Kementerian PU agar persiapan panen tidak terganggu.
Secara keseluruhan, pengembangan KSPEAN Wanam yang merupakan amanat Inpres Nomor 14 Tahun 2025 mencakup lahan seluas 10.000 hektare.
Kawasan tersebut punya karakter lahan yang cukup beragam, mulai dari lahan kering, semi-basah hingga rawa. Kondisi ini membuat pengelolaan air tidak bisa menggunakan satu pola untuk semua lokasi.
Sistem tata air harus disesuaikan dengan karakter masing-masing kawasan agar air tidak cuma tersedia saat dibutuhkan, tetapi juga bisa dikendalikan ketika debitnya berlebihan.
Untuk mendukung hal tersebut, Kementerian PU terus mengerjakan pembangunan jaringan irigasi rawa sekaligus infrastruktur pengendalian banjir.
Hingga 25 September 2026, pembangunan infrastruktur sumber daya air (SDA) di KSPEAN Wanam telah mencapai sekitar 125,6 kilometer dari total target 179,1 kilometer.
Pembangunan infrastruktur air ini menjadi salah satu kunci agar aktivitas pertanian di Papua Selatan bisa terus berjalan. Pasalnya, tantangannya bukan cuma bagaimana menyediakan air ketika lahan membutuhkan, tetapi juga bagaimana mengendalikan kelebihan air di kawasan rawa.
Melalui pembangunan jaringan irigasi rawa, pengendalian banjir, serta penyiapan sumber air alternatif, Kementerian PU terus memperkuat infrastruktur pendukung KSPEAN Wanam.
Dengan begitu, lahan pertanian di kawasan tersebut diharapkan bisa dimanfaatkan lebih optimal dan ikut menopang target swasembada pangan nasional.
(Ginanjar Prio Wibowo)

























