SUARAINDONEWS.COM, BANTEN — Pemerintah Provinsi Banten bakal punya cara berbeda untuk membina pelajar SMA/SMK sederajat yang dinilai membutuhkan perhatian khusus. Mulai Oktober 2026, sejumlah siswa akan mengikuti pembinaan karakter dengan menginap di barak TNI selama dua hari satu malam.
Program ini menyasar siswa yang membutuhkan pembinaan, termasuk mereka yang memiliki tingkat kehadiran rendah, sering bolos, hingga terlibat dalam tawuran. Namun, pemerintah daerah menegaskan peserta tidak akan diperlakukan sebagai prajurit atau mengikuti latihan militer.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Banten Jamaluddin mengatakan, pembinaan tersebut lebih diarahkan untuk membentuk kebiasaan positif, kedisiplinan, tanggung jawab dan kemandirian siswa.
Istilahnya bukan mau bikin anak sekolah jadi tentara, tetapi memberikan suasana pembinaan yang berbeda agar mereka punya pengalaman baru dan bisa memperbaiki kebiasaan.
“Di situ diajarin, tapi tidak digembleng seperti TNI,” kata Jamaluddin, seperti dikutip dari laporan media di Banten.
Ada tiga lokasi yang disiapkan untuk kegiatan tersebut, yakni Yonif 320/Badak Putih di Pandeglang, Batalyon Kavaleri 9 di Tangerang Selatan, serta Grup 1 Kopassus di Kota Serang.
Selama berada di barak, siswa akan mengikuti berbagai kegiatan yang dikaitkan dengan Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Mulai dari bangun pagi, ibadah, olahraga, belajar, membangun interaksi sosial, hingga latihan kemandirian dan tanggung jawab.
Pendekatan Pramuka juga akan digunakan dalam kegiatan pembinaan tersebut.
Jadi, selama dua hari satu malam, siswa tidak sekadar diajak bangun pagi lalu baris-berbaris. Ada rangkaian kegiatan yang diarahkan untuk membangun kebiasaan positif dan kemampuan bersosialisasi.
Dindikbud Banten menyebut program tersebut tidak hanya ditujukan kepada siswa yang pernah melakukan pelanggaran. Pengurus OSIS/MPK dan siswa yang dinilai memiliki potensi kepemimpinan juga dapat dilibatkan.
Target program disebut mencapai sekitar 600 hingga 1.000 siswa. Namun, daftar peserta dan kriteria final siswa yang akan dikirim ke barak masih dalam pembahasan.
Pemprov Banten juga menekankan bahwa urusan pembinaan siswa bukan hanya pekerjaan guru Bimbingan dan Konseling (BK).
Dinas Pendidikan, kepala sekolah, guru hingga orang tua akan dilibatkan agar pembinaan tidak berhenti setelah siswa pulang dari barak.
Pasalnya, kalau cuma dua hari dibina kemudian kembali ke kebiasaan lama, tentu hasilnya tidak akan maksimal. Karena itu, lingkungan sekolah dan keluarga tetap menjadi bagian penting dalam proses pembinaan setelah siswa kembali mengikuti kegiatan belajar mengajar.
Penggunaan barak TNI sendiri dipilih karena fasilitas dan lingkungan yang dinilai mendukung kegiatan kedisiplinan serta pembentukan karakter.
Pemprov Banten memastikan program tersebut bukan bentuk militerisasi pendidikan. TNI dilibatkan sebagai bagian dari proses pembinaan, sementara kegiatan tetap diarahkan pada pendidikan karakter pelajar.
Di sisi lain, rencana tersebut juga memunculkan perhatian mengenai bagaimana mekanisme pembinaan dilakukan. Sejumlah pihak menilai kriteria peserta, bentuk kegiatan, pendampingan, pengawasan, serta evaluasi perlu dibuat jelas agar program tetap berada dalam koridor pendidikan dan perlindungan anak.
Dengan skema tersebut, Pemprov Banten ingin menjadikan pembinaan di barak bukan sebagai hukuman bagi siswa, melainkan momentum untuk membangun kebiasaan baru.
Ujungnya sederhana: siswa kembali ke sekolah dengan pola hidup yang lebih tertib, punya rasa tanggung jawab, lebih mandiri, dan yang paling penting tidak kembali mengulang perilaku yang membuat mereka harus mendapatkan pembinaan.
(Akhirudin)

























