SUARAINDONEWS.COM, Jakarta — Dunia pertambangan nasional mendadak ramai setelah Asosiasi Penambang Rakyat Indonesia atau APRI mengklaim produksi emas tambang rakyat di Indonesia mencapai 120 ton per tahun — angka yang disebut lebih besar dibanding produksi emas PT Freeport Indonesia.
Ketua Umum APRI Gatot Sugiharto mengatakan produksi emas dari tambang rakyat jauh lebih besar dari yang selama ini diperkirakan publik. Bahkan menurutnya, produksi Freeport dalam kondisi normal hanya berada di kisaran 50–60 ton per tahun.
“Tambang rakyat itu sekitar 120 ton setahun. Freeport saja enggak sampai setengahnya,” ujar Gatot dalam rapat di DPR RI.
Pernyataan itu langsung memicu perhatian karena selama ini tambang rakyat kerap dipandang sebelah mata dibanding perusahaan tambang raksasa.
Namun APRI menilai potensi besar tambang rakyat justru terkendala aturan yang rumit. Gatot menyebut banyak penambang kesulitan memperoleh legalitas karena proses izin dinilai mahal dan berbelit.
Di tengah melonjaknya harga emas dunia, isu tambang rakyat kini kembali jadi sorotan. Banyak pihak mulai mempertanyakan: jika produksinya sebesar itu, ke mana sebenarnya aliran emas tambang rakyat Indonesia selama ini?




















































