SUARAINDONEWS.COM, Jakarta – Air minum isi ulang menjadi pilihan banyak masyarakat karena harganya lebih terjangkau dibandingkan air minum dalam kemasan. Namun, di balik tampilannya yang bening, ternyata bisa saja tersimpan ancaman yang tidak terlihat oleh mata.
Belakangan, media sosial ramai membahas temuan lumut, endapan, hingga keluhan mengenai kualitas air dari sejumlah depot air minum isi ulang. Banyak warganet mempertanyakan apakah air yang tampak jernih benar-benar aman dikonsumsi.
Dokter sekaligus edukator kesehatan, dr. Adam Prabata, mengatakan masyarakat sebaiknya tidak hanya terpaku pada kondisi air yang terlihat secara kasat mata. Menurutnya, ancaman terbesar justru berasal dari cemaran mikrobiologis seperti bakteri, virus, maupun parasit yang tidak bisa dilihat tanpa pemeriksaan laboratorium.
“Yang terlihat seperti lumut atau endapan memang bisa menjadi tanda adanya masalah. Namun, yang lebih perlu diwaspadai adalah cemaran mikrobiologis seperti bakteri, virus, atau parasit yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang,” ujar dr. Adam.
Ia menjelaskan, air yang terlihat jernih belum tentu memenuhi syarat sebagai air minum yang aman. Keamanan air harus dipastikan melalui pengujian fisik, kimia, dan mikrobiologi sesuai standar kesehatan.
Menurut dr. Adam, konsumsi air yang telah terkontaminasi mikroorganisme dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan, mulai dari diare, infeksi saluran pencernaan, hingga penyakit lain yang ditularkan melalui air.
Risikonya menjadi lebih serius apabila terjadi pada anak-anak. Infeksi saluran cerna yang berulang dapat mengganggu penyerapan nutrisi sehingga menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko stunting.
Ia juga mengungkapkan bahwa berbagai penelitian mikrobiologi di Indonesia menunjukkan hasil yang beragam. Sejumlah depot air minum isi ulang memang telah memenuhi standar kesehatan, namun masih ditemukan depot yang airnya mengandung bakteri indikator pencemaran seperti Escherichia coli (E. coli) maupun total coliform akibat buruknya higiene dan sanitasi.
Temuan tersebut juga sejalan dengan sejumlah penelitian yang dipublikasikan oleh berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Studi menunjukkan bahwa kebersihan peralatan, sanitasi depot, hingga higiene operator sangat menentukan kualitas bakteriologis air minum isi ulang. Depot yang tidak memenuhi standar berpotensi menghasilkan air yang tercemar bakteri penyebab penyakit.
Karena itu, dr. Adam mengimbau masyarakat lebih teliti sebelum memilih depot air minum isi ulang. Konsumen disarankan memastikan depot telah memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) yang diterbitkan Dinas Kesehatan sebagai bukti telah memenuhi persyaratan kesehatan.
Sementara bagi yang memilih air minum dalam kemasan, masyarakat diminta memastikan produk telah memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) dan memiliki izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
“Jangan hanya percaya karena airnya bening atau rasanya biasa saja. Mikroorganisme penyebab penyakit tidak bisa dilihat dengan mata. Karena itu, pastikan sumber air minum yang dikonsumsi benar-benar memenuhi standar kesehatan,” tegas dr. Adam.
Di tengah meningkatnya konsumsi air isi ulang di Indonesia, edukasi mengenai keamanan air minum dinilai semakin penting. Sebab, air yang tampak bersih belum tentu benar-benar bebas dari ancaman yang tak terlihat, tetapi dapat berdampak besar terhadap kesehatan keluarga, terutama anak-anak.
(Anton)

























