SUARAINDONEWS.COM, Jakarta – Konflik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali memanas setelah kedua negara saling melancarkan serangan sepanjang Kamis (16/7) hingga Jumat (17/7). Eskalasi ini menjadi yang terbesar sejak gencatan senjata yang disepakati pada bulan lalu mulai runtuh.
Militer Amerika Serikat mengonfirmasi telah melancarkan gelombang serangan udara untuk hari keenam berturut-turut dengan sasaran sejumlah fasilitas strategis milik Iran. Serangan terbaru menyasar kawasan di sekitar Selat Hormuz, termasuk infrastruktur militer, bandara, jembatan, dan jalur transportasi yang dinilai memiliki nilai strategis bagi kemampuan pertahanan Iran.
Washington menyatakan operasi tersebut bertujuan melemahkan kemampuan militer Iran sekaligus melindungi kepentingan dan personel militer AS yang berada di kawasan Timur Tengah.
Iran tidak tinggal diam. Pemerintah di Teheran membalas dengan meluncurkan rudal balistik dan drone ke sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah, termasuk fasilitas militer di Yordania yang menurut Iran digunakan dalam operasi serangan terhadap wilayahnya. Iran juga menuduh salah satu serangan AS mengenai rumah sakit kanker anak-anak di Ahvaz sehingga memicu kecaman keras dari pemerintah setempat.
Ketegangan juga meluas ke Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang menjadi lintasan sekitar seperlima perdagangan minyak dunia. Pemerintah Iran menegaskan Selat Hormuz merupakan “garis merah” yang tidak boleh diganggu dan memperingatkan akan mengambil langkah lebih tegas apabila serangan Amerika Serikat terus berlanjut.
Meningkatnya konflik membuat aktivitas pelayaran di Selat Hormuz terganggu. Sejumlah kapal tanker mengurangi pelayaran atau menunda perjalanan karena alasan keamanan, sementara harga energi global kembali mengalami tekanan akibat kekhawatiran terhadap pasokan minyak dunia.
Di tengah meningkatnya aksi militer, peluang penyelesaian melalui jalur diplomasi semakin mengecil. Meski Washington dan Teheran sama-sama menyatakan masih membuka ruang dialog, serangan balasan yang terus berlangsung menunjukkan situasi di lapangan masih jauh dari mereda.
Para pengamat menilai apabila eskalasi terus berlanjut, konflik tidak hanya berdampak pada stabilitas keamanan kawasan Timur Tengah, tetapi juga berpotensi mengganggu perdagangan internasional, distribusi energi global, serta memicu gejolak ekonomi di berbagai negara yang bergantung pada pasokan minyak dari kawasan Teluk.
(Anton)

























