SUARAINDONEWS.COM, JAKARTA – Persaingan kekuatan ekonomi Amerika Serikat (AS), China dan Rusia kembali terlihat dari pergerakan cadangan devisa masing-masing negara di tengah ketidakpastian global sepanjang 2026.
Konflik di Timur Tengah antara AS dan Iran yang belum berakhir serta perang Rusia-Ukraina yang terus berlangsung memberikan tekanan terhadap perekonomian global. Gangguan pasokan energi di Timur Tengah turut mendorong kenaikan harga minyak dunia, ongkos pengiriman, hingga biaya impor sejumlah negara.
Dalam situasi tersebut, cadangan devisa menjadi salah satu bantalan penting bagi negara untuk memenuhi kebutuhan impor, kewajiban luar negeri serta menjaga stabilitas mata uang ketika pasar keuangan mengalami tekanan.
Namun, besarnya cadangan devisa tidak serta-merta menunjukkan seluruh dana dapat digunakan secara langsung. Komposisi aset, perubahan harga emas, nilai tukar hingga sanksi internasional turut menentukan kekuatan cadangan masing-masing negara.
China Punya Cadangan Terbesar
China menjadi negara dengan cadangan devisa terbesar dibandingkan AS dan Rusia.
Berdasarkan data hingga Agustus 2026, cadangan devisa China mencapai US$3,438 triliun, naik US$19,55 miliar atau 0,57% dibandingkan Juli.
Jika dibandingkan dengan posisi akhir 2025 sebesar US$3,358 triliun, cadangan devisa China telah bertambah sekitar US$80,53 miliar atau 2,4%.
Pergerakannya sempat mengalami tekanan pada awal tahun. Cadangan devisa China naik menjadi US$3,428 triliun pada Februari, sebelum turun menjadi US$3,342 triliun pada Maret yang menjadi posisi terendah sepanjang 2026.
Setelah itu, cadangan kembali meningkat menjadi US$3,411 triliun pada April dan US$3,442 triliun pada Mei. Nilainya sempat turun pada Juni sebelum kembali meningkat pada Juli dan Agustus.
State Administration of Foreign Exchange (SAFE) menjelaskan, perubahan cadangan devisa China dipengaruhi bukan hanya oleh transaksi valuta asing, tetapi juga perubahan nilai tukar dan harga aset yang dihitung dalam dolar AS.
China juga terus mengubah komposisi aset cadangannya.
Kepemilikan China atas surat utang pemerintah AS turun menjadi sekitar US$618 miliar pada Juli 2026, terendah sejak 2008.
Di sisi lain, People’s Bank of China terus menambah cadangan emas selama 22 bulan berturut-turut.
Jumlah emas China meningkat dari 74,19 juta troy ons pada Januari menjadi 76,73 juta troy ons pada Agustus 2026. Artinya, terdapat tambahan sekitar 2,54 juta troy ons atau sekitar 79 ton emas.
Cadangan Rusia Terseret Perang dan Harga Emas
Cadangan internasional Rusia menunjukkan pergerakan yang lebih tajam sepanjang 2026.
Pada Januari, cadangan Rusia mencapai US$833,57 miliar, menjadi posisi tertinggi dalam delapan bulan pertama tahun ini.
Namun, cadangan tersebut kemudian turun menjadi US$809,31 miliar pada Februari dan kembali merosot menjadi US$748,98 miliar pada Maret.
Setelah sempat meningkat pada April, cadangan Rusia kembali mengalami penurunan selama tiga bulan berikutnya hingga menyentuh US$720,35 miliar pada Juli.
Dibandingkan posisi Januari, angka tersebut turun lebih dari US$113 miliar.
Perubahan besar terjadi pada Agustus. Cadangan Rusia melonjak US$48,67 miliar atau 6,76% dalam satu bulan menjadi US$769,02 miliar.
Namun, lonjakan tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan bertambahnya simpanan valuta asing Rusia. Kenaikan terbesar justru berasal dari peningkatan nilai emas yang berada dalam cadangan Bank Sentral Rusia.
Nilai komponen emas Rusia meningkat dari US$292,85 miliar pada Juli menjadi US$333,48 miliar pada Agustus.
Dengan demikian, nilai emas bertambah US$40,63 miliar atau menyumbang sekitar 83,5% dari total kenaikan cadangan Rusia pada Agustus.
Sementara komponen cadangan selain emas hanya bertambah sekitar US$8,05 miliar.
Jika dibandingkan dengan akhir 2025, cadangan Rusia masih meningkat US$14,17 miliar atau 1,88%. Namun, posisinya masih 7,74% lebih rendah dibandingkan Januari 2026.
Besarnya cadangan Rusia juga menghadapi persoalan akses. Sebagian aset Bank Sentral Rusia dibekukan negara-negara Barat sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.
Aset yang dibekukan tersebut tetap tercatat sebagai bagian dari cadangan internasional Rusia, tetapi tidak seluruhnya dapat digunakan oleh Moskow.
AS Punya Cadangan Valas Kecil, tetapi Dolar Jadi Kunci
Kondisi berbeda terlihat di Amerika Serikat.
Berdasarkan data U.S. Department of the Treasury, cadangan valuta asing AS sepanjang 2026 berada pada kisaran US$37,72 miliar hingga US$39,17 miliar.
Hingga 28 Agustus 2026, cadangan valuta asing AS tercatat sekitar US$38,24 miliar, turun sekitar US$0,36 miliar atau 0,92% dibandingkan posisi akhir 2025.
Cadangan tersebut sempat mencapai US$39,17 miliar pada Januari, kemudian turun menjadi US$37,78 miliar pada Maret. Setelah itu, nilainya bergerak dalam rentang yang relatif sempit hingga Agustus.
Angka tersebut jauh lebih kecil dibandingkan cadangan devisa China maupun Rusia.
Namun, struktur kekuatan finansial AS berbeda. Amerika Serikat merupakan penerbit dolar AS yang digunakan secara luas dalam perdagangan internasional, pembayaran lintas negara dan cadangan devisa bank sentral berbagai negara.
Karena itu, AS tidak memiliki kebutuhan yang sama dengan negara lain untuk menyimpan dolar sebagai cadangan valuta asing.
Kebutuhan pembiayaan operasi pemerintah dan militer AS juga tidak secara langsung diambil dari cadangan devisa. Pembiayaan pemerintah AS terutama berlangsung melalui anggaran negara dan penerbitan surat utang.
AS juga memiliki cadangan emas terbesar di dunia, sekitar 261,5 juta troy ons atau 8.133 ton.
Namun, dalam laporan resmi pemerintah AS, emas tersebut masih dinilai menggunakan harga US$42,22 per troy ons.
Dengan metode pencatatan tersebut, nilai emas AS dalam laporan cadangan resmi hanya sekitar US$11,04 miliar.
Nilai tersebut akan jauh berbeda apabila dihitung menggunakan harga pasar emas yang dalam data yang digunakan telah berada di kisaran US$4.300 per troy ons.
Tiga Negara, Tiga Strategi
Pergerakan cadangan devisa sepanjang 2026 menunjukkan perbedaan strategi antara AS, China dan Rusia.
China mempertahankan cadangan devisa di atas US$3,4 triliun sembari meningkatkan kepemilikan emas dan mengurangi kepemilikan surat utang pemerintah AS.
Rusia mempertahankan cadangan dalam jumlah besar dengan porsi emas yang signifikan, tetapi sebagian asetnya menghadapi pembatasan akibat sanksi internasional.
Sementara AS memiliki cadangan valuta asing yang jauh lebih kecil, tetapi posisi dolar sebagai mata uang utama sistem keuangan global membuat kekuatan finansialnya tidak dapat diukur hanya dari besarnya cadangan valuta asing.
Dengan demikian, ukuran cadangan devisa bukan satu-satunya indikator untuk melihat daya tahan ekonomi suatu negara. Jenis aset, kemampuan mengaksesnya, posisi mata uang, kondisi fiskal serta situasi geopolitik ikut menentukan seberapa besar bantalan keuangan yang benar-benar dapat digunakan ketika tekanan global meningkat.
(Agus Marwan)
























