SUARAINDONEWS.COM, MAKKAH – Kabar duka datang dari Masjidil Haram, Makkah. Syekh Ibrahim bin Adil Al Madani, salah satu muazin Masjidil Haram, meninggal dunia pada Senin dini hari, 21 September 2026.
Kabar wafatnya Syekh Ibrahim Al Madani disampaikan sejumlah pihak yang mengikuti aktivitas Masjidil Haram dan kemudian diberitakan sejumlah media Saudi. Rekaman lantunan azan dan takbirnya juga kembali beredar di media sosial setelah kabar kepergiannya.
Momen yang menjadi perhatian jamaah adalah azan Subuh yang dikumandangkan Syekh Ibrahim pada Senin dini hari. Azan tersebut disebut menjadi lantunan terakhirnya dari Masjidil Haram.
Akun Inside the Haramain turut membagikan rekaman azan tersebut dan menyebutnya sebagai azan terakhir Syekh Ibrahim Al Madani di Masjidil Haram, yang bertepatan dengan 11 Rabiul Awal 1448 Hijriah.
Salat Jenazah di Masjidil Haram
Salat jenazah Syekh Ibrahim Al Madani dijadwalkan dilaksanakan setelah salat Asar pada Senin di Masjidil Haram, Makkah.
Setelah salat jenazah, jenazah Syekh Ibrahim akan dimakamkan di Pemakaman Al-Mu’alla, salah satu kompleks pemakaman bersejarah di Makkah.
Syekh Ibrahim dikenal sebagai salah satu dari 24 muazin utama Masjidil Haram. Para muazin tersebut menjalankan tugas secara bergantian untuk mengumandangkan azan salat lima waktu serta azan pertama Subuh.
Selain mengumandangkan azan, Syekh Ibrahim juga dikenal menjalankan tugas tabligh, yakni menyampaikan takbir dan gerakan imam kepada jamaah melalui sistem pengeras suara Masjidil Haram.
Lantunan azan Subuh menjadi salah satu tugas yang membuat suara Syekh Ibrahim cukup dikenal oleh jamaah.
Mulai Jadi Muazin Sejak Usia 15 Tahun
Syekh Ibrahim Al Madani lahir di Madinah pada 1976. Ia tumbuh dalam keluarga religius dan mendapat pengaruh dari sang kakek yang dikenal sebagai penghafal Al-Qur’an.
Ia kemudian menempuh pendidikan di bidang Studi Al-Qur’an.
Perjalanan Syekh Ibrahim sebagai muazin dimulai sejak usia 15 tahun. Ketika itu, ia mulai mengumandangkan azan di sebuah masjid di lingkungan tempat tinggalnya di Madinah.
Tugas tersebut kemudian dijalankannya secara bergantian bersama tiga orang tetangganya hingga ia menyelesaikan pendidikan kuliah.
Setelah itu, Syekh Ibrahim sempat berhenti mengumandangkan azan karena menjalankan kewajiban mengajar di luar Madinah.
Pada 1428 Hijriah atau sekitar 2007-2008, ia kembali dipercaya menjadi muazin di Masjid Al-Maddah.
Dari masjid tersebut, perjalanan pengabdiannya berlanjut hingga akhirnya ia dipercaya mengumandangkan azan di Masjidil Haram.
Syekh Ibrahim secara resmi ditunjuk sebagai salah satu muazin Masjidil Haram pada 1439 Hijriah atau sekitar 2017-2018.
Membawa Tradisi Azan Madinah ke Masjidil Haram
Lahir dan tumbuh di Madinah membuat Syekh Ibrahim sangat mengenal tradisi serta karakter lantunan azan khas kota tersebut.
Pengalamannya berkunjung ke Makkah bersama sang ayah juga memperkenalkannya dengan karakter lantunan azan khas Makkah.
Dalam salah satu kunjungannya ke Makkah, Syekh Ibrahim bertemu dengan Syekh Abdul Latif Mulla, mantan muazin Masjidil Haram yang juga merupakan sahabat sang kakek.
Dalam sebuah wawancara yang kembali menjadi perhatian setelah wafatnya, Syekh Ibrahim pernah menceritakan pengalamannya ketika pertama kali mengumandangkan azan di Masjidil Haram.
Ia mengaku terharu ketika melihat jamaah melakukan tawaf mengelilingi Ka’bah sembari mendengarkan lantunan azannya.
Kini, perjalanan panjang Syekh Ibrahim Al Madani sebagai muazin telah berakhir. Lantunan azan Subuh yang dikumandangkannya pada Senin dini hari menjadi salah satu rekaman terakhir yang kembali dikenang jamaah setelah kabar wafatnya.
(Agung Suhartono)
























