SUARAINDONEWS.COM, Jakarta – Saat banyak mata uang dunia naik turun mengikuti gejolak ekonomi global, ada satu mata uang yang nyaris tidak bergerak selama hampir empat dekade. Mata uang tersebut adalah Riyal Arab Saudi.
Sejak tahun 1986, nilai tukar Riyal Saudi dipatok tetap di level 3,75 riyal per dolar Amerika Serikat. Artinya, selama hampir 40 tahun masyarakat Arab Saudi tidak mengalami fluktuasi kurs yang tajam seperti yang terjadi di banyak negara lain.
Fakta ini kembali ramai diperbincangkan di media sosial. Banyak warganet bertanya-tanya, bagaimana Arab Saudi bisa menjaga mata uangnya tetap stabil selama puluhan tahun?
Jawabannya ternyata tidak sederhana.
Salah satu faktor terbesar adalah kekuatan sektor minyak yang dimiliki Arab Saudi. Sebagai salah satu eksportir minyak terbesar di dunia, negara tersebut menerima pemasukan miliaran dolar setiap tahun. Karena minyak diperdagangkan menggunakan dolar AS, pasokan dolar di Arab Saudi sangat melimpah.
Cadangan devisa yang besar inilah yang menjadi “tameng” utama ketika terjadi gejolak ekonomi global. Saat ada tekanan terhadap mata uang, pemerintah dan bank sentral memiliki amunisi yang cukup untuk mempertahankan nilai tukar riyal.
Tak hanya itu, Bank Sentral Arab Saudi juga menerapkan kebijakan kurs tetap atau fixed exchange rate. Dengan sistem ini, pemerintah berkomitmen menjaga nilai tukar riyal tetap berada di kisaran yang telah ditentukan.
Berbeda dengan banyak negara yang membiarkan nilai mata uangnya mengikuti mekanisme pasar, Arab Saudi secara aktif menjaga kestabilan kurs melalui berbagai instrumen moneter dan cadangan devisa.
Yang menarik, meski dunia sempat diguncang krisis keuangan global, pandemi COVID-19, hingga gejolak geopolitik Timur Tengah, patokan kurs 3,75 riyal per dolar tetap bertahan.
Hal ini membuat banyak ekonom menilai Riyal Saudi sebagai salah satu mata uang paling stabil di dunia.
Di media sosial, fenomena ini memicu perbandingan dengan berbagai mata uang negara berkembang yang sering mengalami pelemahan saat ekonomi global bergejolak. Tidak sedikit warganet yang menyebut stabilitas Riyal Saudi sebagai bukti kuatnya fondasi ekonomi berbasis energi yang dimiliki kerajaan tersebut.
Namun para pengamat mengingatkan bahwa stabilitas tersebut bukan tanpa biaya. Untuk mempertahankan kurs tetap, Arab Saudi harus memiliki cadangan devisa besar, disiplin fiskal yang kuat, serta kemampuan menjaga kepercayaan pasar terhadap ekonominya.
Kini, ketika dunia mulai memasuki era transisi energi dan ketergantungan terhadap minyak perlahan berkurang, muncul pertanyaan baru: mampukah Arab Saudi mempertahankan stabilitas Riyal untuk puluhan tahun berikutnya?
Sejauh ini jawabannya masih “ya”. Setidaknya hingga 2026, Riyal Saudi tetap kokoh di level yang sama seperti hampir 40 tahun lalu, sebuah pencapaian yang sulit ditandingi oleh banyak negara di dunia.
(Anton)




















































