SUARAINDONEWS.COM, PARIS — Teknologi medis dunia terus berkembang. Kali ini, perhatian tertuju pada Prancis yang mengembangkan jantung buatan bernama Aeson, sebuah perangkat canggih yang dirancang untuk membantu pasien gagal jantung tahap akhir ketika transplantasi jantung manusia belum bisa segera dilakukan.
Dikembangkan oleh perusahaan Carmat, Aeson bukan sekadar pompa mekanis biasa. Perangkat ini dirancang untuk menggantikan fungsi kedua bilik jantung manusia, yakni bilik kanan dan kiri, sekaligus meniru cara kerja jantung alami dalam mengalirkan darah ke seluruh tubuh.
Teknologi ini semakin menarik perhatian setelah hasil penelitian klinis EFICAS dipublikasikan pada 31 Agustus 2026 dalam jurnal European Heart Journal. Penelitian yang melibatkan 55 pasien gagal jantung berat tersebut mencatat tingkat pencapaian indikator keberhasilan utama sebesar 72,7 persen.
Angka itu diperoleh dari 40 pasien yang mencapai kriteria keberhasilan penelitian. Indikator tersebut mencakup kelangsungan hidup selama 180 hari dengan dukungan Aeson atau keberhasilan menjalani transplantasi jantung dalam periode tersebut, tanpa mengalami stroke yang melumpuhkan maupun kerusakan perangkat yang memerlukan operasi ulang atau transplantasi darurat.
Hasil penelitian juga mencatat, 96 persen pasien tidak mengalami stroke yang melumpuhkan hingga 180 hari. Sebanyak 76 persen pasien berhasil keluar dari rumah sakit, sementara 92 persen pasien yang masih hidup berada pada kelas fungsional NYHA I atau II, yang menunjukkan tidak ada keterbatasan aktivitas atau hanya keterbatasan ringan.
Bukan Pompa Biasa, Bisa Menyesuaikan Kebutuhan Tubuh
Salah satu keunggulan Aeson terletak pada sistem pengaturan otomatisnya. Perangkat ini menggunakan sensor untuk memantau kondisi aliran darah dan menyesuaikan kemampuan pompa berdasarkan kebutuhan tubuh pasien.
Sistem elektrohidraulik di dalamnya menggerakkan membran yang membantu memompa darah. Mekanisme tersebut menghasilkan aliran darah berdenyut sehingga lebih menyerupai kerja jantung manusia.
Aeson juga menggunakan material bioprostetik pada bagian yang bersentuhan dengan darah. Teknologi tersebut dirancang untuk meningkatkan kompatibilitas perangkat dengan tubuh pasien.
Berbeda dengan LVAD atau alat bantu bilik kiri jantung, Aeson menggantikan fungsi kedua bilik jantung sekaligus. Karena itu, teknologi ini ditujukan bagi pasien dengan gangguan berat pada kedua sisi jantung yang tidak dapat ditangani secara memadai dengan terapi lain.
Masih Membutuhkan Donor Jantung
Meski terdengar seperti teknologi masa depan, Aeson belum menjadi jantung permanen yang dapat digunakan seumur hidup.
Penggunaan perangkat ini saat ini terutama ditujukan sebagai bridge to transplant, yaitu penopang sementara bagi pasien gagal jantung tahap akhir sambil menunggu transplantasi jantung manusia.
Dengan bantuan Aeson, pasien diharapkan memiliki kesempatan bertahan hidup hingga tersedia organ donor yang sesuai. Keputusan pemasangan tetap harus melalui penilaian dokter spesialis dan tim medis yang memiliki keahlian khusus.
Perangkat ini juga membutuhkan sistem pendukung eksternal berupa pengontrol, kabel penghubung, dan baterai yang dibawa pasien dalam tas khusus. Artinya, pengguna tetap memerlukan pemantauan medis serta pengelolaan perangkat secara berkala.
Hasil Penelitian Menjanjikan, Tetapi Tetap Ada Risiko
Hasil studi EFICAS menjadi perkembangan penting bagi teknologi jantung buatan. Namun, angka keberhasilan 72,7 persen tidak boleh diartikan sebagai angka kesembuhan seluruh pasien.
Penelitian tersebut merupakan studi klinis terhadap 55 pasien dengan kondisi gagal jantung sangat berat. Hasilnya menunjukkan potensi Aeson sebagai terapi penopang menuju transplantasi, tetapi belum membuktikan bahwa perangkat ini dapat menggantikan jantung manusia secara permanen.
Selain itu, teknologi jantung buatan memiliki risiko yang harus diperhatikan, termasuk komplikasi operasi, perdarahan, gangguan saraf, infeksi, dan kemungkinan kerusakan perangkat.
Di sisi lain, perusahaan pengembangnya juga pernah menghadapi persoalan keuangan. Kegiatan usaha dan pengembangan Aeson kemudian dilanjutkan melalui entitas baru, Carmat SAS, setelah badan usaha lama Carmat SA menjalani proses likuidasi pada Januari 2026.
Harapan Baru bagi Pasien Gagal Jantung Berat
Kehadiran Aeson menunjukkan bagaimana teknologi dapat membuka peluang baru dalam penanganan penyakit jantung. Terutama bagi pasien yang mengalami kerusakan berat pada kedua bilik jantung dan membutuhkan bantuan mekanis untuk mempertahankan fungsi sirkulasi darah.
Dengan hasil penelitian terbaru, Aeson semakin menunjukkan potensinya sebagai salah satu pilihan teknologi penopang jantung menuju transplantasi.
Meski begitu, perjalanan menuju jantung buatan yang benar-benar dapat menggantikan organ manusia sepanjang hidup masih membutuhkan penelitian, pengujian keamanan, dan pengembangan teknologi lebih lanjut.
Jadi, Aeson memang bisa meniru sebagian fungsi penting jantung manusia. Namun, untuk saat ini, teknologi tersebut belum berarti manusia bisa hidup tanpa membutuhkan donor jantung selamanya.
(Akhirudin)

























