SUARAINDONEWS.COM, MATARAM — Siapa bilang gunung cuma tempat naik-turun, berburu sunrise, foto-foto, lalu pulang bawa cerita? Gunung Rinjani di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), ternyata punya kontribusi ekonomi yang bikin melongo!
Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) mencatat kawasan wisata alam ini telah menyumbang Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp96,9 miliar selama 2021 hingga September 2026.
Bukan cuma negara yang kecipratan manfaat. Aktivitas wisata dan jasa lingkungan di kawasan Rinjani juga menghasilkan efek berganda ekonomi atau multiplier effect mencapai Rp443 miliar sepanjang 2021–2025.
Angka tersebut menunjukkan bahwa keindahan alam ternyata bisa menjadi mesin penggerak ekonomi. Mulai dari penginapan, transportasi, kuliner, pemandu wisata, porter, sampai jasa pendakian ikut merasakan perputaran uang dari kedatangan wisatawan.
Kepala BTNGR Budhy Kurniawan mengungkapkan, dampak ekonomi wisata Rinjani rata-rata mencapai 3,7 kali lipat dari uang yang dibelanjakan pengunjung.
Artinya, setiap wisatawan mengeluarkan Rp1 untuk berwisata, perputaran ekonominya bisa memberikan dampak hingga Rp3,7 di berbagai sektor pendukung.
“Pertumbuhan multiplier effect yang signifikan ini menunjukkan bahwa Taman Nasional Gunung Rinjani memberikan manfaat ekonomi yang semakin luas bagi masyarakat dan daerah,” ujar Budhy, seperti diberitakan ANTARA, Rabu (28/10/2026).
PNBP Rinjani Terus Nanjak, 2026 Sudah Tembus Rp28,3 Miliar
Kalau melihat datanya, kontribusi Rinjani ke negara terus meningkat.
Pada 2021, PNBP masih tercatat Rp577,5 juta. Setahun kemudian melonjak menjadi Rp4,9 miliar, lalu naik lagi menjadi Rp14,7 miliar pada 2023.
Tren positif berlanjut pada 2024 dengan Rp22,5 miliar dan mencapai Rp25,9 miliar sepanjang 2025.
Yang lebih menarik, hingga September 2026 saja, PNBP Rinjani sudah mencapai Rp28,3 miliar.
Kepala BTNGR menyebut peningkatan tersebut mencerminkan tingginya minat wisatawan serta pengelolaan wisata alam yang semakin berkembang.
Jadi, Rinjani bukan hanya menawarkan pemandangan gunung, danau, dan lautan awan. Di balik keindahannya, ada aktivitas ekonomi yang ikut menghidupi banyak orang.
Bromo Juga Ramai, Jeep dan UMKM Ikut Kebagian Rezeki
Fenomena gunung sebagai penggerak ekonomi juga terlihat di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur.
Pada semester pertama 2025, jumlah wisatawan yang berkunjung ke Bromo mencapai 321.732 orang. Angka tersebut meningkat dibandingkan periode yang sama pada 2024, yang mencatat 262.974 pengunjung.
Ramainya wisatawan menjadi peluang bagi masyarakat sekitar. Jasa jeep, penginapan, warung makan, penyedia transportasi, hingga pemandu wisata ikut bergerak melayani pengunjung.
Namun, jumlah wisatawan tersebut merupakan data kunjungan, bukan angka PNBP. Meski begitu, Bromo memperlihatkan bagaimana destinasi alam dapat menghidupkan berbagai usaha lokal.
Gunung Gede Pangrango Punya Cerita Berbeda: Wisata Jalan, Sampah Jadi PR
Di Jawa Barat, Gunung Gede Pangrango juga menjadi magnet pendaki dan pencinta alam.
Kegiatan pendakian, berkemah, dan rekreasi memberikan peluang ekonomi bagi masyarakat serta pengelola jasa wisata. Namun, meningkatnya aktivitas pengunjung juga membawa pekerjaan rumah serius, yaitu persoalan sampah.
Pada April 2026, jalur pendakian Gunung Gede Pangrango kembali menjadi sorotan setelah ditemukan sampah di jalur pendakian. Sebelumnya, operasi pembersihan di kawasan tersebut pernah mengangkut sekitar 115,5 kilogram sampah.
Kondisi ini menjadi pengingat: semakin ramai gunung dikunjungi, semakin besar pula tanggung jawab untuk menjaga lingkungannya.
Jangan Sampai Alam Cuma Jadi Mesin Uang
Besarnya pendapatan Rinjani memang membanggakan. Tetapi, jangan sampai kesuksesan pariwisata justru membuat alamnya menjadi korban.
Gunung bukan sekadar lokasi wisata yang bisa terus dipadati pengunjung. Ada hutan, satwa, sumber air, ekosistem, serta masyarakat yang kehidupannya bergantung pada kelestarian kawasan tersebut.
Rinjani sendiri masih menghadapi tantangan keselamatan pendaki dan pengelolaan sampah. Karena itu, peningkatan kunjungan harus berjalan beriringan dengan pengawasan jalur, kesiapan evakuasi, pembatasan sesuai daya dukung lingkungan, dan edukasi wisatawan.
Bromo, Gede Pangrango, dan kawasan gunung lainnya juga membutuhkan pengelolaan serupa.
Pesannya sederhana: alam boleh menghasilkan uang, masyarakat boleh mendapatkan rezeki, dan negara boleh menerima pendapatan. Tetapi, jangan sampai semuanya dibayar dengan rusaknya lingkungan.
Karena gunung bukan cuma tempat healing. Gunung adalah sumber kehidupan yang harus dijaga agar keindahan dan manfaatnya tetap bisa dinikmati generasi berikutnya.
(Riana P)
























