SUARAINDONEWS.COM, YOGYAKARTA — Inovasi kecerdasan buatan (AI) mulai merambah dunia farmasi. Kali ini, gebrakan datang dari mahasiswi Universitas Gadjah Mada (UGM), Ramelgia Yasmina Rulla, yang berhasil menyabet Juara 1 Nasional dalam Pharmalearn Competition 2026.
Bukan sekadar menang lomba, Ramelgia membawa gagasan teknologi yang menyentuh persoalan penting dalam pelayanan kesehatan: bagaimana memastikan informasi obat pasien tetap akurat ketika berpindah dari satu rumah sakit atau fasilitas kesehatan ke tempat lainnya.
Melalui inovasi bernama MEDISYNC, Ramelgia merancang sistem berbasis AI yang terintegrasi dengan platform kesehatan nasional SATUSEHAT. Teknologi ini ditujukan untuk membantu mendeteksi ketidaksesuaian informasi pengobatan pasien, sehingga risiko kesalahan akibat perbedaan atau ketidaklengkapan catatan obat dapat diantisipasi.
Prestasi tersebut diraih dalam Pharmalearn Competition 2026 yang diselenggarakan UKM Studi Ilmiah Farmasi Poltekkes Surakarta pada September 2026. Kompetisi bertema Pharmacy 5.0: Shaping the Future of Digital Healthcare itu diikuti ratusan peserta dari lebih dari 30 perguruan tinggi di Indonesia.
Sejumlah kampus ternama turut ambil bagian, di antaranya Universitas Indonesia, Universitas Udayana, dan Universitas Airlangga.
MEDISYNC, AI yang Membantu Mengawasi Riwayat Obat Pasien
Gagasan MEDISYNC mengangkat persoalan yang kerap menjadi tantangan dalam pelayanan kesehatan, yakni ketidaksesuaian informasi obat atau medication discrepancy.
Bayangkan seorang pasien menjalani pengobatan di rumah sakit A, kemudian pindah ke rumah sakit B. Dalam proses perpindahan tersebut, informasi mengenai obat yang pernah dikonsumsi, dosis, maupun perubahan terapi harus tersampaikan dengan benar.
Jika catatan pengobatan tidak lengkap atau berbeda, tenaga kesehatan berpotensi menghadapi kesulitan dalam memastikan terapi yang tepat.
Di sinilah MEDISYNC menawarkan solusi. Dengan memanfaatkan AI dan integrasi SATUSEHAT, sistem ini dirancang membantu membandingkan informasi pengobatan serta mengidentifikasi kemungkinan ketidaksesuaian catatan obat ketika pasien berpindah fasilitas kesehatan.
Tujuannya jelas, yakni mendukung koordinasi pengobatan yang lebih aman, meningkatkan kesinambungan informasi medis, dan membantu tenaga kesehatan mengantisipasi risiko kesalahan informasi obat.
Meski demikian, MEDISYNC masih berupa gagasan inovasi yang dipresentasikan dalam kompetisi, bukan aplikasi yang telah resmi diterapkan atau menjadi fitur SATUSEHAT.
SATUSEHAT Jadi Bagian Penting Transformasi Digital Kesehatan
Inovasi MEDISYNC juga relevan dengan perkembangan ekosistem digital kesehatan nasional.
SATUSEHAT merupakan platform Kementerian Kesehatan yang dikembangkan untuk menghubungkan dan mengintegrasikan data kesehatan dari berbagai fasilitas pelayanan kesehatan.
Melalui interoperabilitas data, informasi medis pasien diharapkan dapat tersambung dengan lebih baik sehingga pelayanan kesehatan menjadi lebih terkoordinasi.
Integrasi tersebut membuka peluang pengembangan teknologi seperti MEDISYNC untuk membantu tenaga kesehatan mengidentifikasi perbedaan informasi pengobatan pasien.
Namun, penerapan teknologi AI dalam pelayanan kesehatan tetap membutuhkan pengujian, perlindungan data pribadi, validasi sistem, serta pengawasan tenaga kesehatan agar hasilnya aman dan dapat dipertanggungjawabkan.
Mahasiswa Farmasi Tak Lagi Hanya Bicara Obat, tetapi Juga Teknologi
Kemenangan Ramelgia memperlihatkan bahwa dunia kefarmasian terus berkembang. Mahasiswa farmasi tidak hanya dituntut memahami obat dan cara penggunaannya, tetapi juga ditantang menguasai teknologi digital untuk menjawab persoalan pelayanan kesehatan modern.
Fakultas Farmasi UGM menilai pencapaian ini menjadi gambaran potensi mahasiswa dalam menggabungkan keilmuan farmasi dengan inovasi teknologi.
Prestasi tersebut juga sejalan dengan semangat Pharmacy 5.0, yakni mendorong pemanfaatan teknologi canggih untuk mendukung pelayanan kesehatan yang lebih efektif dan berorientasi pada kebutuhan manusia.
Dari ruang kompetisi mahasiswa, gagasan MEDISYNC membawa pesan penting: teknologi bukan sekadar soal kecanggihan, tetapi bagaimana inovasi dapat membantu melindungi keselamatan pasien.
Jika suatu saat dikembangkan dan melalui tahapan validasi yang diperlukan, konsep seperti MEDISYNC berpotensi menjadi salah satu pendukung transformasi pelayanan kesehatan digital di Indonesia.
Ramelgia telah membuktikan bahwa ide besar tidak harus lahir dari perusahaan teknologi raksasa. Dari bangku kuliah farmasi UGM, sebuah gagasan AI kini membawa nama Indonesia dalam percakapan tentang masa depan layanan kesehatan digital.
(Yulianto)
























