SUARAINDONEWS. COM, Cilegon – PT Hutama Karya (Persero) mencatat kinerja positif pada proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Jawa 9 & 10 Suralaya berkapasitas 2 x 1.000 MW di Cilegon, Banten.
Genap satu tahun melewati masa uji operasi, proyek hasil kolaborasi dengan Doosan Heavy Industries & Construction tersebut menunjukkan kinerja yang konsisten dengan tingkat efisiensi tinggi. Capaian ini sekaligus memperkuat keandalan pasokan listrik pada sistem Jawa–Bali yang melayani kebutuhan rumah tangga, bisnis, hingga industri.
Plt. Executive Vice President (EVP) Sekretaris Perusahaan PT Hutama Karya (Persero), Hamdani, mengatakan keberhasilan melewati masa uji operasi selama satu tahun menjadi indikator penting atas keandalan desain dan konstruksi yang diterapkan pada proyek tersebut.
“Keberhasilan menyelesaikan masa uji operasi selama satu tahun menunjukkan bahwa PLTU Jawa 9 & 10 Suralaya tidak hanya dibangun dengan standar tinggi, tetapi juga mampu beroperasi secara optimal, efisien, dan sesuai ketentuan lingkungan yang berlaku,” ujar Hamdani di Cilegon, Sabtu (23/5/2026).
PLTU Jawa 9 & 10 Suralaya milik PT Indo Raya Tenaga ini merupakan salah satu proyek strategis nasional dengan skema engineering, procurement, and construction (EPC). Pembangkit dibangun menggunakan teknologi Ultra Super Critical (USC) yang mampu menghasilkan listrik lebih efisien dibandingkan pembangkit konvensional. Teknologi tersebut juga memungkinkan konsumsi batu bara dan fuel oil lebih rendah sehingga membantu menekan emisi.
Pemerintah sendiri telah menetapkan standar baku mutu pembangkit listrik termal melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Nomor 15 Tahun 2019. Kementerian ESDM menegaskan bahwa pemenuhan standar tersebut menjadi salah satu indikator penting dalam penyediaan energi yang lebih bersih.
Selama masa uji operasi, PLTU Jawa 9 & 10 Suralaya mencatat performa operasional yang stabil. Penggunaan teknologi USC memungkinkan pembangkit menghasilkan energi listrik dengan konsumsi bahan bakar lebih hemat serta dampak lingkungan yang tetap terkendali sesuai standar yang berlaku.
Kinerja pembangkitan turut didukung oleh infrastruktur pendukung berkapasitas besar. Pembangkit ini dilengkapi cerobong setinggi 265 meter dan jetty berkapasitas hingga 80.000 DWT untuk menunjang kebutuhan logistik batu bara secara efisien. Selain itu, tersedia sistem Air Insulated Switchgear (AIS) 500 kV dan transmission line yang menjaga stabilitas penyaluran listrik ke jaringan Jawa–Bali.
Fasilitas Balance of Plant (BOP) juga melengkapi operasional pembangkit agar dapat berjalan secara terintegrasi dan berkesinambungan.
Dari sisi lingkungan, PLTU Jawa 9 & 10 Suralaya dilengkapi sistem pengendalian modern seperti Electrostatic Precipitator (ESP), Flue Gas Desulfurization (FGD), dan Selective Catalytic Reduction (SCR). Teknologi tersebut digunakan untuk mengendalikan partikulat, sulfur oksida (SOx), dan nitrogen oksida (NOx), sehingga emisi gas buang tetap berada di bawah ambang batas yang ditetapkan pemerintah.
Keberhasilan masa uji operasi ini sekaligus menegaskan kapasitas PT Hutama Karya (Persero) sebagai BUMN konstruksi dalam pembangunan infrastruktur energi berskala besar. Perusahaan menegaskan komitmennya untuk terus mengedepankan aspek mutu, keselamatan, dan kepatuhan terhadap ketentuan lingkungan dalam setiap proyek yang dijalankan.
(Anton)




















































