SUARAINDONEWS.COM, Jakarta — Ketika anak-anak usia lima tahun di banyak negara masih dimanjakan dengan gawai atau diantar hingga depan kelas, sebuah pemandangan kontras dari Jepang mendadak viral dan memantik perdebatan dunia pendidikan global.
Sebuah rekaman video dari Taman Kanak-Kanak Keyano Mori Gakuen memperlihatkan barisan bocah mungil dengan tas ransel di punggung, berjuang menapaki jalur terjal berpasir di Gunung Hōei. Bukan sekadar bukit biasa, melainkan kawah sekunder di lereng Gunung Fuji dengan ketinggian mencapai 2.700 meter di atas permukaan laut (mdpl) — level yang bahkan mampu membuat pendaki dewasa kehabisan napas.
Aksi yang disebut sebagai “kegiatan tahunan” itu langsung membelah opini publik. Sebagian netizen memuji ketangguhan mental anak-anak Jepang, sementara sebagian lainnya merasa ngeri melihat risiko yang harus dihadapi anak usia dini di medan ekstrem.
Saat Tangisan Menjadi Ujian Mental
Di tengah jalur pendakian yang berat, tangisan kelelahan mulai terdengar. Beberapa anak tampak melambat dan bertanya kapan perjalanan akan berakhir.
Namun di situlah filosofi pendidikan alam terbuka Jepang atau Yagai Hoiku diterapkan. Alih-alih menggendong atau langsung membantu, para guru justru memberi ruang kepada anak-anak untuk mengambil keputusan sendiri: menyerah dan turun, atau terus melangkah bersama teman-temannya menuju puncak.
Bagi para pendukung metode ini, pendekatan tersebut dianggap mampu membentuk grit atau daya juang, sekaligus melatih kemandirian sejak usia dini. Hasilnya, seluruh peserta tahun ini dilaporkan berhasil mencapai puncak.
Antara Pendidikan Karakter dan Risiko Keselamatan
Meski demikian, tak sedikit pihak yang menganggap metode tersebut terlalu ekstrem untuk anak TK. Kritik di media sosial pun bermunculan, mulai dari kekhawatiran soal hipotermia, dehidrasi, hingga risiko cedera pada tulang dan sendi anak yang masih dalam masa pertumbuhan.
“Ini terlalu ekstrem untuk anak TK. Di ketinggian 2.700 mdpl kadar oksigen lebih tipis. Mengapa harus mengambil risiko sebesar itu demi label kemandirian?” tulis salah satu netizen dalam komentar yang mendapat ribuan tanda suka.
Perdebatan kemudian melebar ke isu pola asuh modern. Sebagian pihak menilai fenomena helicopter parenting — pola asuh yang terlalu protektif — justru melahirkan generasi yang rapuh dan mudah menyerah ketika menghadapi tekanan hidup.
Di sisi lain, banyak pula yang mempertanyakan apakah pembentukan karakter memang harus dilakukan di medan seberat lereng gunung dengan risiko alam yang sulit diprediksi.
Kini, perdebatan itu kembali kepada para orang tua: apakah anak perlu dibiarkan menghadapi tantangan keras demi membentuk mental tangguh, atau justru dilindungi agar tetap berada di zona aman?
(Anton)




















































