SUARAINDONEWS.COM, JAKARTA — Pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor tidak berhenti ketika pelajaran di kelas selesai. Melalui sistem pendidikan 24 jam, kehidupan sehari-hari santri di asrama juga menjadi bagian dari proses belajar dan pembentukan karakter.
Sistem tersebut menjadi salah satu ciri pendidikan Gontor yang kembali mendapat perhatian dalam momentum peringatan 100 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor pada September 2026.
Rektor Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, KH Hamid Fahmy Zarkasyi, menjelaskan bahwa pendidikan pesantren memiliki karakteristik yang menyatukan pembelajaran formal, nonformal, dan informal dalam kehidupan berasrama selama 24 jam.
“Keunggulan mutlak sistem pendidikan pesantren terletak pada kemampuannya menyatukan kurikulum formal, nonformal, dan informal secara terpadu dalam ekosistem asrama 24 jam,” kata Hamid dalam Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) 2026 di Jakarta.
Di Gontor, proses pendidikan tidak hanya berlangsung melalui materi pelajaran di ruang kelas. Kehidupan santri sehari-hari dirancang menjadi ruang untuk menerapkan pengetahuan sekaligus membentuk sikap, kedisiplinan, kemandirian, dan tanggung jawab.
Kurikulum Kulliyyatu-l-Mu’allimin al-Islamiyah (KMI) menjadi salah satu bagian utama sistem tersebut. Pembelajaran KMI mencakup berbagai bidang ilmu, termasuk pendidikan agama, bahasa Arab, bahasa Inggris, ilmu pengetahuan, serta materi kependidikan dan keguruan.
Selain pembelajaran akademik, santri juga menjalani berbagai kegiatan organisasi dan aktivitas pondok. Kegiatan tersebut memberikan kesempatan kepada santri untuk belajar mengelola kegiatan, bekerja sama, berkomunikasi, mengambil tanggung jawab, serta menjalankan tugas secara mandiri.
Pembiasaan bahasa juga menjadi bagian dari kehidupan santri. Bahasa yang dipelajari di kelas kemudian digunakan dalam aktivitas sehari-hari sehingga pembelajaran tidak berhenti pada teori.
Begitu pula dengan praktik mengajar. Bagi siswa tingkat akhir KMI, kemampuan mengajar dipraktikkan melalui Tarbiyah Amaliyah sebagai bagian dari proses pendidikan dan persiapan untuk menjalankan tugas pengabdian.
Dengan pola tersebut, pendidikan di Gontor menempatkan kehidupan sehari-hari sebagai bagian dari proses pembentukan pribadi santri. Apa yang dipelajari di kelas kemudian diuji melalui kegiatan, kebiasaan, organisasi, interaksi sosial dan tanggung jawab yang dijalankan di lingkungan pondok.
Nilai-nilai yang menjadi dasar kehidupan di Gontor terangkum dalam Panca Jiwa, yakni keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah Islamiyah dan kebebasan. Gontor menjadikan Panca Jiwa sebagai salah satu landasan kehidupan seluruh warga pondok.
Konsep pendidikan holistik tersebut juga menjadi salah satu tema yang diangkat Gontor dalam GIHES 2026. Pimpinan Gontor menegaskan bahwa sistem pendidikan pesantren diarahkan untuk membentuk manusia secara utuh, tidak hanya dari sisi akademik, tetapi juga kehidupan, mental dan karakter.
Momentum satu abad Gontor kemudian menjadi kesempatan untuk melihat kembali perjalanan sistem pendidikan tersebut. Puncak peringatan 100 tahun berlangsung pada 18–20 September 2026 dan diikuti berbagai kegiatan, termasuk Resepsi Kesyukuran dan Reuni Akbar alumni.
Dalam memasuki abad kedua, Gontor juga telah memaparkan visi strategis baru yang diarahkan untuk membawa lembaga pendidikan tersebut menjadi bagian dari gerakan peradaban berbasis pendidikan. Visi tersebut disampaikan dalam Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Gontor di Ponorogo, Sabtu (19/9/2026).
Dengan sistem pendidikan 24 jam, ruang belajar di Gontor tidak hanya berada di dalam kelas. Asrama, organisasi, penggunaan bahasa, kegiatan harian hingga praktik mengajar menjadi bagian dari proses yang dirancang untuk membentuk pengetahuan sekaligus karakter, kemandirian dan tanggung jawab santri.
(Purwantiningsih)

























