SUARAINDONEWS.COM, Jakarta — Ketua DPR RI Puan Maharani menerima audiensi peserta Parlemen Remaja (Parja) Terbaik 2024 dan 2025 di Gedung DPR RI, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (12/8/2026).
Dalam pertemuan tersebut, Puan berdiskusi langsung dengan para peserta mengenai pengalaman mengikuti program Parja, proses pembentukan undang-undang hingga berbagai informasi mengenai DPR yang beredar di media sosial.
Puan juga menyinggung soal banyaknya hoaks yang menyerang DPR. Ia meminta para peserta Parja yang merupakan generasi muda tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum diketahui kebenarannya.
“Saya terinsipirasi dengan prestasi dan teladan kalian para peserta Parlemen Remaja di daerah masing-masing,” kata Puan.
Dalam sesi diskusi, salah satu Parja Terbaik 2025, Muhammad Fattan Faydzulhaq, mengungkapkan dirinya pernah dituding sebagai buzzer pemerintah setelah mengikuti program Parlemen Remaja.
Menanggapi hal tersebut, Puan mengatakan menjadi anggota DPR memang tidak mudah karena kerap menghadapi berbagai tudingan, termasuk serangan dan informasi hoaks di media sosial.
“Contohnya seperti RUU Perampasan Aset, kan hoaksnya disebutkan DPR tidak mau mengesahkan. Di konten-konten hoaks itu, foto Ketua DPR juga terus disebar,” ujar Puan.
Menurut Puan, kenyataannya pembahasan RUU Perampasan Aset masih berjalan. DPR saat ini tengah meminta masukan masyarakat melalui proses meaningful participation.
“Padahal yang sebenarnya adalah RUU Perampasan Aset sedang dibahas dan tahapannya saat ini DPR sedang meminta masukan masyarakat. Begitu banyak masukan sedang didengar dari berbagai elemen masyarakat,” katanya.
Puan menjelaskan DPR juga masih mengkaji substansi RUU tersebut agar tidak terjadi tumpang tindih dengan undang-undang lain yang sudah berlaku.
Dalam kesempatan itu, Fattan juga menyampaikan pengalamannya ketika mengikuti simulasi proses legislasi dalam program Parja. Menurutnya, pengalaman tersebut membuatnya memahami bahwa penyusunan undang-undang tidak sesederhana yang dibayangkan.
“Ternyata penyusunan UU tidak semudah membalik telapak tangan, karena saya merasakan sendiri saat simulasi di Parja. Saya menjelaskan mengenai hal ini ke teman-teman saya,” ujar Fattan, yang kini menjadi mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum Universitas Airlangga.
Puan kemudian menjelaskan bahwa proses pembahasan setiap RUU dapat berbeda-beda. Ada RUU yang dapat diselesaikan lebih cepat, sementara RUU lainnya membutuhkan waktu lebih panjang.
“RUU yang cepat pembahasannya biasanya yang perubahannya tidak terlalu banyak seperti satu ayat atau satu pasal. Kalau yang mulai dari nol itu yang biasanya lama. Proses pembahasan antara DPR dan Pemerintah memerlukan waktu,” jelasnya.
Audiensi tersebut diikuti 12 peserta Parja Terbaik 2024 dan 2025 yang diagendakan bertemu dengan Puan. Satu peserta berhalangan hadir dan akan menyusul peserta lainnya dalam menghadiri Sidang Tahunan MPR RI pada 14 Agustus 2026.
Program Parlemen Remaja DPR RI merupakan kegiatan edukasi politik dan demokrasi tahunan yang ditujukan bagi pelajar SMA, SMK, dan MA sederajat. Para peserta terpilih mendapatkan kesempatan merasakan pengalaman menjadi anggota parlemen sekaligus mengikuti simulasi persidangan di Gedung DPR RI.
Peserta program sebelumnya harus melalui proses seleksi dan mayoritas merupakan siswa berprestasi di bidang masing-masing, termasuk peraih kejuaraan maupun duta daerah.
Dalam audiensi tersebut, Wakil Ketua Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI Irine Yusiana Roba Putri juga menyampaikan pentingnya keterwakilan perempuan di parlemen.
“Saat ini DPR punya sejarah karena Ibu Puan adalah perempuan pertama yang menjadi Ketua DPR di Indonesia. Dan dari kepemimpinan Ibu Ketua, lahir sejumlah UU yang ramah gender, keterwakilan perempuan di DPR juga naik. Ketika perempuan berdaya maka negara akan kuat,” ujar Irine.
Sementara itu, Anggota Komisi XI DPR RI Pinka Hapsari mengatakan DPR tetap terbuka terhadap aspirasi masyarakat. Ia juga menyampaikan pengalamannya sebagai anggota DPR dari kalangan muda.
“Decision making memang tidak mudah, tetapi di DPR tetap bekerja untuk menghasilkan sesuatu yang terbaik bagi rakyat. DPR juga selalu terbuka, karena sidang-sidang komisi bisa dilihat secara live oleh masyarakat,” kata Pinka.
Anggota Komisi V DPR RI Mochamad Herviano Widyatama juga menyatakan kesiapan memperjuangkan aspirasi yang disampaikan peserta Parja, termasuk mengenai peningkatan infrastruktur di berbagai daerah.
“Aspirasi tentang infrastruktur akan terus diperjuangkan di komisi, terutama di Komisi V DPR yang memang membidangi soal urusan infrastruktur,” ujarnya.
Di akhir pertemuan, para peserta Parja Terbaik 2024-2025 menyampaikan sejumlah harapan kepada DPR. Mereka berharap DPR tetap menjadi wadah bagi suara rakyat, bekerja secara transparan dan menjalankan fungsi pengawasan serta keseimbangan kekuasaan.
“Semoga DPR terus menjadi wadah bagi suara rakyat, serta menjalankan check and balances,” ujar perwakilan Teladan Parja 2024, Jovanka Anabelle Garcia Silaban.
Puan kemudian menitipkan pesan kepada para peserta agar pengalaman yang diperoleh selama mengikuti Parja dapat dibagikan kepada masyarakat, termasuk melalui media sosial.
“Program Parlemen Remaja dimaksudkan untuk peserta memahami cara kerja parlemen. Peserta Parja bisa menjelaskan apa pengalaman dan pengetahuan yang didapat saat menjadi Parja, termasuk melalui medsos. Jangan sampai termakan hoaks,” pesan Puan.
“Kami berharap program Parja DPR dapat bermanfaat buat peserta. Semoga peserta Parja dapat melihat bahwa di DPR masih banyak yang bekerja, hanya saja tidak terliput di media,” pungkasnya.
(Purwantiningsih)

























