SUARAINDONEWS.COM, JAKARTA — Jepang memiliki teknologi evakuasi untuk menghadapi bencana tsunami dan banjir berupa SAFE+ (Safe Plus), sebuah shelter apung yang dikembangkan Tajima Motor Corporation.
Kapsul ini dirancang untuk menjadi perlindungan tambahan ketika air akibat tsunami atau banjir mulai memasuki wilayah permukiman. Saat terjadi genangan atau kenaikan muka air, struktur SAFE+ dirancang untuk ikut mengapung sehingga penghuni dapat tetap berada di dalam shelter sambil menunggu proses penyelamatan.
Tajima Motor Corporation mengembangkan SAFE+ sebagai floating disaster shelter untuk menghadapi tsunami, banjir dan dalam spesifikasi terbaru juga mencakup perlindungan terhadap angin kencang. Perusahaan menyebut shelter ini merupakan perangkat tambahan dalam sistem mitigasi bencana, bukan pengganti evakuasi menuju tempat aman.
“SAFE+ adalah fasilitas tambahan untuk menghadapi situasi ketika evakuasi menjadi sulit,” demikian penjelasan Tajima Motor Corporation mengenai fungsi shelter tersebut. Perusahaan tetap menekankan bahwa evakuasi lebih awal ke lokasi aman merupakan langkah utama dalam menghadapi bencana.
Teknologi SAFE+ sendiri telah dikembangkan sejak 2013 dan mulai diproduksi sebagai produk pada 2014. Pengembangannya tidak terlepas dari pengalaman Jepang menghadapi gempa dan tsunami, termasuk pelajaran dari Gempa Besar Jepang Timur 2011.
Untuk versi terbaru, SAFE+ menggunakan struktur komposit yang memadukan inti material khusus dengan lapisan polyurea. Struktur tersebut dirancang untuk menghasilkan kombinasi bobot ringan, kekuatan, ketahanan terhadap air dan kemampuan menyerap benturan.
Tajima kini menawarkan tiga ukuran SAFE+. SAFE+400 mampu menampung 14 orang, SAFE+500 sebanyak 20 orang, sedangkan SAFE+600 memiliki kapasitas hingga 24 orang. Harga standar masing-masing model dimulai dari sekitar 5,9 juta yen, 6,9 juta yen dan 7,9 juta yen atau setara ratusan juta rupiah, sebelum biaya transportasi, pemasangan dan opsi tambahan.
Fitur keselamatan juga menjadi bagian utama desainnya. SAFE+ terbaru dilengkapi sabuk pengaman empat titik untuk setiap tempat duduk serta perlindungan kepala. Shelter juga memiliki baterai penyimpan energi sebagai perlengkapan standar pada model terbaru.
Pada pengujian yang dipublikasikan pengembang, SAFE+ menjalani sejumlah pengujian, termasuk jatuh ke permukaan air dari ketinggian sekitar tiga meter, pengujian terbalik dan kemampuan kembali ke posisi semula, serta pengujian struktur terhadap benturan benda yang datang dari luar.
Model SAFE+ sebelumnya juga telah menggunakan konstruksi yang dirancang agar tetap mengapung dan memiliki kemampuan untuk kembali ke posisi normal ketika terbalik. Dokumen teknis Tajima menyebut desain tersebut sebagai struktur yang memiliki kemampuan self-righting hingga kondisi 180 derajat.
Selain untuk kondisi darurat, shelter ini dapat disesuaikan dengan kebutuhan penggunanya. Tajima menyediakan sejumlah opsi, seperti ramp untuk pengguna kursi roda, pendingin udara, lantai datar, sumber listrik dan pengaturan interior khusus.
Pada Juli 2026, Tajima Motor Corporation juga mulai memproduksi SAFE+ di TAJIMA Ryuyo Factory. Seluruh model terbaru diproduksi berdasarkan pesanan, dengan proses yang mencakup pembuatan struktur, pemasangan interior, pelapisan, pengecatan, perakitan, pemeriksaan kualitas hingga pengiriman dan pemasangan.
Tajima menyebut pengalaman perusahaan di bidang motorsport sejak 1978 turut menjadi dasar pengembangan teknologi SAFE+. Perusahaan kemudian memperluas pengalamannya dalam desain kendaraan dan material komposit ke bidang mitigasi bencana.
Meski dirancang untuk mengapung saat terjadi banjir atau tsunami, Tajima menegaskan SAFE+ bukan pengganti rencana evakuasi, bangunan tahan gempa, tanggul maupun fasilitas evakuasi lainnya. Shelter tersebut diposisikan sebagai lapisan perlindungan tambahan ketika evakuasi ke tempat aman sulit dilakukan.
Dengan tiga pilihan kapasitas hingga 24 orang, SAFE+ kini tidak hanya ditawarkan untuk rumah pribadi, tetapi juga untuk pemerintah daerah, perusahaan, fasilitas sosial, hingga institusi yang membutuhkan tambahan perlindungan menghadapi risiko tsunami dan banjir.
(Ginanjar Prio Wibowo)

























