SUARAINDONEWS. COM, JAKARTA — Wakil Ketua MPR RI sekaligus Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas), mengajak generasi muda menjadi bagian penting dari gerakan mewujudkan Indonesia Emas tanpa bandar narkoba.
Pesan tersebut disampaikan Ibas saat menerima audiensi Kader Inti Pemuda Anti Narkoba (KIPAN) Indonesia, GRANAT, para duta anti narkoba, serta sejumlah elemen masyarakat dalam Audiensi Kebangsaan bertema “Indonesia Emas Tanpa Bandar Narkoba: Generasi Muda Keren, Jadi Solusi dan Penggerak Kemajuan Bangsa”, di Rumah Kebangsaan MPR RI, Jakarta, Selasa (22/9/2026).
Mengawali pertemuan, Ibas Yudhoyono menyampaikan pesan kepada generasi muda:
“Jadilah generasi yang bermakna dan berdampak. Berpikir besar, bertindak nyata, dan membumi dalam manfaat.”
Menurut Edhie Baskoro, tema Indonesia Emas tidak hanya berbicara mengenai pertumbuhan ekonomi dan kemajuan teknologi. Indonesia Emas juga membutuhkan generasi muda yang sehat, berkarakter, produktif, kreatif, dan mampu menjadi solusi bagi berbagai persoalan bangsa.
Bukan Hanya Lindungi Pemuda, Bandar Harus Diburu
Ibas menegaskan bahwa pemberantasan narkoba harus dilakukan secara menyeluruh dari hulu hingga hilir.
Generasi muda harus diperkuat melalui pencegahan dan edukasi. Namun pada saat yang sama, jaringan pemasok, pengedar, dan bandar narkoba harus menjadi sasaran utama pemberantasan.
“Tidak ada yang bisa kita lakukan sendiri. Mari kita berkolaborasi, mari kita bersinergi,” ujar Ibas.
Menurutnya, perang melawan narkoba tidak boleh berhenti pada penangkapan pengguna atau kurir. Penegakan hukum perlu diarahkan untuk mengungkap jaringan yang lebih besar, termasuk aktor yang mengendalikan perdagangan narkotika dan keuntungan ekonomi di baliknya.
“Putus jalurnya, bongkar jaringannya, kejar bandarnya.”
Ibas juga mendorong penelusuran aliran dana yang berasal dari perdagangan narkoba sehingga pemberantasan tidak hanya menyasar barang, tetapi juga keuntungan dan aset yang dihasilkan dari kejahatan tersebut.
Ekonomi Bayangan dan Perputaran Uang Narkoba
Ibas mengingatkan bahwa perdagangan narkoba memiliki dimensi ekonomi yang sangat besar.
Dalam pemaparannya kepada para pegiat anti narkoba, Wakil Ketua Umum Partai Demokrat itu menyampaikan:
“Sektor ekonomi bayangan itu hari ini berputar kurang lebih hampir 100 kuadriliun rupiah.”
Ia kemudian menyebut sejumlah aktivitas ilegal yang perlu dicermati, di antaranya judi online, perdagangan narkoba, perdagangan manusia, dan penebangan liar.
Angka tersebut memiliki cakupan dan metodologi yang berbeda. Karena itu, Ibas menilai pemberantasan narkoba perlu melihat persoalan bukan hanya dari sisi kesehatan dan keamanan, tetapi juga dari sisi ekonomi ilegal dan aliran keuangan kejahatan.
Perkuat Titik Rawan Masuk Narkoba
Ibas juga menyoroti pentingnya pengawasan terhadap berbagai titik rawan masuknya narkoba ke Indonesia.
Dengan wilayah Indonesia yang luas dan berbentuk kepulauan, pengawasan terhadap perbatasan darat, perbatasan laut, pelabuhan, pintu masuk internasional, serta jalur-jalur ilegal menjadi bagian penting dalam memutus mata rantai penyelundupan.
Anggota Komisi XII DPR RI tersebut mendorong penguatan sinergi antara BNN, Polri, TNI, Bea Cukai, Imigrasi, pemerintah daerah, dan masyarakat.
“Jangan sampai wilayah perbatasan dan kawasan yang sulit diawasi justru dimanfaatkan jaringan narkotika,” ujarnya.
Menurutnya, teknologi, pertukaran informasi, deteksi dini, dan pengawasan terpadu perlu terus dikembangkan untuk mempersempit ruang gerak jaringan narkotika.
“Kita tidak boleh hanya menunggu narkoba beredar. Kita harus mencegahnya sejak dari pintu masuk.”
Orang Tua dan Keluarga adalah Benteng Penting
Ibas menegaskan bahwa pemberantasan narkoba bukan hanya tugas negara dan aparat penegak hukum.
Orang tua dan keluarga juga memiliki posisi penting dalam membangun karakter dan ketahanan anak menghadapi tekanan lingkungan.
“Komitmen itu harus dirumuskan tidak hanya sebatas komitmen dari pemimpin, tapi juga sampai dengan level-level regulator kita, aparatur kita, organisasi pendukung, termasuk kepala-kepala daerah dan di dalamnya adalah orang tua dan keluarga-keluarga yang ada di Indonesia,” kata Ibas.
Menurut Ibas Yudhoyono, keluarga harus menjadi ruang pertama bagi anak untuk mendapatkan edukasi, perhatian, rasa aman, kepercayaan diri, dan tempat untuk bercerita.
Ia juga menekankan pentingnya membangun self-love, self-confidence, dan self-esteem, sehingga anak muda tidak mencari penerimaan, keberanian, atau ketenangan melalui narkoba.
“Indonesia ini mencintai mereka tidak hanya dengan sekadar memberikan pukulan kepada warganya, tetapi juga dengan mengasihi dan mencintai, to love their soul,” ujar Ibas.
Pendidikan Anti Narkoba Dimulai Sejak Dini
Ibas mendorong agar pendidikan anti narkoba dimulai sejak usia dini, mulai dari SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi.
Menurutnya, pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada nilai akademik dan kurikulum, tetapi juga harus membentuk karakter, keterampilan, keberanian mengambil keputusan, dan kemampuan menghadapi tekanan sosial.
Para duta anti narkoba juga diminta menggunakan pendekatan yang sesuai dengan perkembangan Gen Z dan Alpha.
“Jadilah kalian duta-duta literasi anti narkoba yang terus menggunakan cara-cara terkini, pendekatan melalui AI, pendekatan melalui bahasa-bahasa generasi kalian,” katanya.
Pesan anti narkoba, lanjut Edhie Baskoro, harus hadir di ruang yang dekat dengan kehidupan anak muda: sekolah, kampus, komunitas, olahraga, seni, kreativitas, hingga media sosial.
Generasi Muda Harus Punya Ruang untuk Berkembang
Menurut Ibas, menciptakan Indonesia Emas tanpa narkoba bukan hanya dengan mengatakan “tidak” terhadap narkoba, tetapi juga dengan membuka lebih banyak jalan bagi anak muda untuk mengatakan “ya” terhadap masa depan.
Ia mendorong generasi muda mengembangkan potensi melalui olahraga, seni, kompetisi, kewirausahaan, social entrepreneurship, ekonomi kreatif, teknologi, e-sports, hingga kegiatan lingkungan.
“Lebih baik ikut sport, lebih baik ikut pentas, lebih baik ikut kompetisi yang kira-kira bisa membawa penguatan keterampilan kita,” ujar Ibas.
Ia menilai generasi muda harus didorong menjadi solusi dan penggerak kemajuan bangsa, sesuai tema Audiensi Kebangsaan tersebut.
“Indonesia membutuhkan generasi yang bisa memutar perekonomian. Kalau tinggal di daerah, jadilah social entrepreneur. Kembangkan potensi ekonomi rakyat agar menjadi lebih bermanfaat dan lebih bernilai,” katanya.
Legislasi Harus Berdampak Nyata
Ibas juga menyoroti pentingnya penguatan regulasi dan implementasi kebijakan terkait narkoba.
Menurutnya, legislasi tidak boleh berhenti sebagai tulisan di atas kertas.
“Legislasi itu bukan hanya ukuran kertas dan tulisan-tulisan yang menggugah pikiran kita. Tapi selanjutnya bagaimana kita mengimplementasi, bagaimana kita membuat agar aturan tersebut menjadi impactful, agar aturan tersebut bisa kita rasakan kehadirannya.”
Karena itu, kebijakan pemberantasan narkoba harus terus dievaluasi dan diperkuat agar mampu menjawab perkembangan modus peredaran narkotika.
Ibas juga menilai dukungan terhadap aparat penegak hukum, pengawasan perbatasan, penguatan kelembagaan, pencegahan, pembinaan, dan rehabilitasi harus berjalan secara berkelanjutan.
Tanggapan Fraksi: Pencegahan dan Pemberantasan Harus Berjalan Bersama
Pesan tersebut mendapat dukungan dari sejumlah anggota Fraksi Partai Demokrat yang hadir dalam audiensi. Hinca Panjaitan menilai pemberantasan narkoba merupakan pekerjaan yang tidak pernah selesai dan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Ia mendorong agar gerakan anak muda tidak berhenti sebagai pelopor anti narkoba, tetapi juga mengambil peran lebih konkret dalam melawan peredaran dan jaringan bandar narkoba.
Sementara itu, Irjen Pol. (Purn) Drs. Frederik Kalalembang menekankan pentingnya memperkuat pencegahan dan edukasi kepada masyarakat. Menurutnya, regulasi yang ada perlu diiringi dengan sosialisasi yang nyata, termasuk memberikan pemahaman mengenai dampak penyalahgunaan narkoba serta memperkuat peran keluarga dalam proses pemulihan.
Senada, H. Teuku Ibrahim menyoroti pentingnya pendekatan yang lebih langsung kepada masyarakat, khususnya sekolah, orang tua, dan lingkungan anak muda. Ia menilai pemberantasan narkoba tidak cukup hanya dengan retorika, tetapi membutuhkan kehadiran di lapangan, sosialisasi yang konsisten, serta kolaborasi untuk mencegah anak-anak dan generasi muda terjerumus sejak dini.
Ketiganya juga menyatakan keterbukaan untuk memperkuat kolaborasi dengan KIPAN, GRANAT, dan komunitas anti narkoba lainnya dalam memperluas edukasi dan pencegahan di masyarakat.
Mereka yang Terjerumus Masih Punya Masa Depan
Dalam tanggapannya, Ibas juga menyampaikan bahwa masyarakat atau generasi muda yang pernah terjerumus narkoba tidak boleh kehilangan kesempatan untuk pulih dan bangkit.
“Tidak semua masyarakat yang terjerumus ataupun generasi muda kita yang terjerumus itu adalah mereka yang tersesat. Mereka juga bisa pulih. Mereka juga bisa bangkit. Bahkan mereka bisa menjadi penggerak,” ujarnya.
Menurut Ibas, pemberantasan harus tegas terhadap jaringan kejahatan narkoba, sementara masyarakat yang membutuhkan pertolongan harus mendapatkan pembinaan dan ruang pemulihan.
Dengan pendekatan tersebut, gerakan anti narkoba tidak hanya berbicara tentang penindakan, tetapi juga tentang menyelamatkan manusia dan masa depan generasi bangsa.
Satu Pemuda Bergerak, Satu Generasi Terselamatkan
Ibas menutup pertemuan dengan mengajak generasi muda untuk tidak menjadi penonton.
“Satu pemuda bergerak bisa menyelamatkan satu generasi.”
Ia mengajak KIPAN Indonesia, GRANAT Indonesia, para duta anti narkoba, komunitas pemuda, orang tua, sekolah, dan seluruh elemen masyarakat untuk terus bersuara, bergerak, merangkul, dan menjadi teladan.
“Bergeraklah karena dirimu dan diammu adalah pembiaran bagi kehancuran generasi muda kita. Ayo bersuara, ayo bergerak, ayo merangkul, menjadi teladan.”
Bagi Wakil Ketua MPR RI tersebut, membangun Indonesia Emas berarti mempersiapkan manusia Indonesia yang sehat, cerdas, berkarakter, kreatif, produktif, dan mampu menciptakan peluang.
Karena itu, generasi muda tidak cukup hanya dijauhkan dari narkoba. Mereka harus diberikan ruang untuk tumbuh, berkarya, berprestasi, dan menjadi penggerak kemajuan bangsa.
“Pemuda keren itu bukan karena berani mencoba zat berbahaya, tapi karena berani berkata tidak.”
Dalam kesempatan tersebut, KIPAN Indonesia juga menyampaikan apresiasi atas penerimaan Fraksi Partai Demokrat terhadap aspirasi yang dibawa dalam audiensi. Perwakilan KIPAN menilai pertemuan bersama Ibas dan jajaran Fraksi Demokrat menjadi ruang penting untuk menyampaikan aspirasi sekaligus membuka peluang kolaborasi dalam memperkuat gerakan anti narkoba di berbagai daerah.
(Riana P)
























