SUARAINDONEWS.COM, JAKARTA — Rencana pembangunan kereta gantung sebagai moda penghubung atau feeder Stasiun LRT Harjamukti menuju kawasan Mekarsari-Cileungsi, Kabupaten Bogor, memasuki tahap piloting atau uji coba teknologi.
Perkembangan terbaru proyek tersebut disampaikan Direktur Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Allan Tandiono. Menurutnya, uji coba awal disiapkan di kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, sebelum teknologi tersebut dikembangkan untuk rencana koridor Harjamukti-Mekarsari.
“Mereka lagi exercise piloting di Taman Mini. Jadi dari stasiun LRT Taman Mini masuk ke Taman Mini,” ujar Allan di Jakarta, Jumat (11/9/2026).
Uji coba tersebut direncanakan menghubungkan Stasiun LRT TMII dengan area parkir TMII. Kemenhub tengah berkoordinasi dengan pengelola TMII serta PT Minsky Cakrawala Nusa, Malcon Group dan Unitsky Nusantara Technologies untuk mempersiapkan pelaksanaannya.
“Kami tunggu, kami juga fasilitasi rapat dengan Taman Mini. Taman Mini juga sangat welcome. Nanti dari stasiun LRT nyambung ke parkiran, jaraknya dekat,” kata Allan.
Tahap piloting ini dilakukan setelah studi kelayakan atau feasibility study (FS) proyek selesai. PT Minsky Cakrawala Nusa sebelumnya telah menyampaikan laporan akhir FS kepada Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kemenhub pada 13 Mei 2026.
Rencana koridor utama proyek memiliki panjang sekitar 11,5 kilometer. Jalur tersebut dirancang menghubungkan kawasan Mekarsari-Cileungsi dengan simpul transportasi di Stasiun LRT Harjamukti, sehingga masyarakat di kawasan tersebut nantinya memiliki alternatif akses menuju jaringan transportasi massal LRT Jabodebek.
Berbeda dengan pembangunan infrastruktur yang menggunakan anggaran pemerintah, skema investasi proyek ini diarahkan menggunakan 100 persen pembiayaan swasta. Dengan skema tersebut, pembangunan feeder diharapkan tidak membebani APBN.
Teknologi yang direncanakan menggunakan konsep Suspended String Light Rail Transport (SSLRT) atau sistem transportasi rel layang dengan kendaraan yang berjalan pada struktur rel di atas.
Proyek tersebut diharapkan dapat menjadi alternatif konektivitas bagi masyarakat dari kawasan Mekarsari dan Cileungsi menuju LRT Jabodebek. Kehadiran feeder juga ditujukan untuk memperluas jangkauan transportasi massal dari kawasan yang belum memiliki akses langsung ke jaringan LRT.
Sebelumnya, Kemenhub dan PT Minsky Cakrawala Nusa telah menggelar kick-off meeting dan menandatangani komitmen pelaksanaan FS pada 9 Oktober 2025. Setelah FS selesai, proyek kemudian bergerak menuju tahap pengujian teknologi.
Dalam tahap awal, pemerintah tidak langsung menguji teknologi pada koridor Harjamukti-Mekarsari. Piloting di TMII menjadi lokasi uji coba untuk melihat penerapan teknologi tersebut pada koneksi jarak pendek antara stasiun LRT dan kawasan TMII.
Jika tahap piloting berjalan sesuai rencana dan hasil evaluasi memenuhi persyaratan, proyek selanjutnya dapat diarahkan menuju tahapan implementasi koridor Harjamukti-Mekarsari.
Dengan demikian, proyek kereta gantung Harjamukti-Mekarsari saat ini masih berada dalam proses persiapan dan pengujian teknologi. Pembangunan koridor utama sepanjang sekitar 11,5 kilometer belum dapat disebut telah dimulai secara penuh.
Proyek ini menjadi salah satu opsi pengembangan jaringan feeder LRT Jabodebek untuk memperkuat konektivitas kawasan Cileungsi-Mekarsari dengan transportasi massal, dengan skema investasi yang diarahkan sepenuhnya berasal dari pihak swasta.
(Purwantiningsih)

























