SUARAINDONEWS.COM, JAKARTA — Ada kabar menarik dari pasar pangan dunia. Setelah beberapa bulan mengalami kenaikan, harga pangan global akhirnya mulai turun pada Oktober 2026. Namun, jangan buru-buru senang! Sebab, di tengah penurunan harga sejumlah bahan pangan, harga gula justru melonjak tajam.
Berdasarkan laporan Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa atau Food and Agriculture Organization (FAO) yang dirilis Jumat (6/11/2026), indeks harga pangan dunia atau FAO Food Price Index tercatat sebesar 133,9 poin.
Angka ini turun 1,2 persen dibandingkan September 2026. Penurunan terutama dipicu melemahnya harga serealia, produk susu, dan daging di pasar internasional.
Tetapi, ada satu komoditas yang justru bergerak berlawanan arah, yaitu gula.
FAO mencatat indeks harga gula mencapai 121,3 poin pada Oktober 2026. Angka ini naik 6,6 persen dibandingkan bulan sebelumnya dan melonjak 28,8 persen dibandingkan Oktober tahun lalu.
Bahkan, kenaikan tersebut menjadi yang tertinggi sejak Desember 2024.
Apa penyebabnya?
FAO menjelaskan, kenaikan harga gula dipengaruhi gangguan panen dan pengolahan tebu akibat curah hujan di wilayah utama produksi Brasil bagian tengah-selatan.
Selain itu, produksi gula India juga menjadi perhatian. Curah hujan monsun yang berada di bawah normal dan tidak merata menimbulkan kekhawatiran terhadap hasil produksi.
Belum lagi, produksi gula di Uni Eropa dan Thailand diperkirakan mengalami penurunan pada musim 2026/2027.
Sementara itu, bagaimana dengan beras?
Ternyata, harga beras dunia justru ikut naik, meskipun harga serealia secara keseluruhan mengalami penurunan.
Indeks harga serealia FAO turun 4,5 persen menjadi 116,8 poin. Harga gandum dan jagung melemah karena permintaan internasional yang lebih rendah serta prospek pasokan yang cukup melimpah.
Namun, harga beras internasional naik 1,6 persen. Kenaikan ini dipengaruhi keterlambatan panen di sejumlah negara eksportir, cuaca buruk, dan meningkatnya biaya produksi.
Untuk produk susu, indeks harganya turun 1,1 persen. Sedangkan indeks harga daging melemah 1,2 persen pada Oktober 2026.
Berbeda dengan kedua komoditas tersebut, minyak nabati masih mengalami kenaikan tipis sebesar 0,3 persen.
Yang juga perlu diperhatikan adalah proyeksi produksi beras dunia. FAO memperkirakan produksi beras global pada 2026 turun 2,5 persen menjadi 552 juta ton. Penurunan ini menjadi kontraksi pertama dalam empat musim terakhir.
Bahkan, FAO memperingatkan bahwa tekanan terhadap ketahanan pangan dunia masih berlanjut. Sebanyak 41 negara dan wilayah diperkirakan masih membutuhkan bantuan pangan dari luar, dengan 31 di antaranya berada di kawasan Afrika.
Konflik, gangguan keamanan, dan perubahan cuaca menjadi sejumlah faktor yang memperburuk kondisi pangan di berbagai negara.
Lantas, apakah turunnya harga pangan dunia otomatis membuat harga beras, gula, dan kebutuhan pokok di Indonesia ikut turun?
Belum tentu.
Sebab, indeks FAO mengukur harga komoditas pangan di pasar internasional, bukan harga eceran di pasar Indonesia. Harga di dalam negeri juga dipengaruhi produksi lokal, distribusi, biaya transportasi, nilai tukar, hingga kebijakan pemerintah.
Jadi, meskipun harga pangan dunia mulai melemah, masyarakat tetap perlu mencermati perkembangan harga kebutuhan pokok di pasar dalam negeri.
(Agus Marwan)























