SUARAINDONEWS.COM, JAKARTA — Masih ingat zaman telepon rumah, kaset VHS, rental VCD, SMS berbayar, sampai nongkrong di warnet cuma buat buka Facebook? Kalau masih punya kenangan itu, tetapi sekarang sudah terbiasa scroll TikTok, Instagram, belanja online, bahkan menggunakan kecerdasan buatan atau AI, bisa jadi kamu termasuk generasi Zillennials!
Belakangan ini, istilah Zillennials ramai dibicarakan. Sebutan ini merujuk pada kelompok generasi yang berada di antara Milenial dan Generasi Z. Mereka umumnya dikaitkan dengan kelahiran sekitar 1992 hingga akhir 1990-an, meskipun batas tahunnya berbeda-beda menurut sejumlah sumber.
Menariknya, Zillennials disebut sebagai generasi yang merasakan dua dunia sekaligus. Mereka sempat menikmati kehidupan ketika internet belum menguasai segalanya, tetapi juga tumbuh menyaksikan ledakan teknologi digital yang mengubah cara manusia bekerja, berkomunikasi, dan mencari hiburan.
Bayangkan saja, dulu kalau mau menghubungi teman harus menelepon rumah. Kalau mau mencari informasi, harus membuka buku atau pergi ke warnet. Mau mendengarkan lagu? Kaset, CD, atau MP3 player jadi andalan.
Sekarang ceritanya berbeda. Tinggal buka smartphone, semua bisa dilakukan. Mau video call, pesan makanan, transfer uang, belanja, sampai mencari jawaban menggunakan AI, semuanya tersedia dalam genggaman.
Perubahan itulah yang membuat Zillennials menarik untuk dibahas.
Bukan Milenial Sepenuhnya, Bukan Gen Z Sepenuhnya
Zillennials merupakan gabungan istilah Generation Z dan Millennials. Mereka sering disebut sebagai microgeneration, yaitu kelompok kecil yang berada di antara dua generasi besar.
Sosiolog Deborah Carr dari Boston University menjelaskan bahwa kelompok ini tumbuh dalam masa perubahan besar teknologi dan sosial. Mereka mengenal dunia sebelum internet menjadi kebutuhan utama, tetapi juga mampu mengikuti perkembangan teknologi digital.
Pengalaman tersebut membuat mereka memiliki perspektif dari dua zaman. Mereka memahami kebiasaan lama, tetapi tidak asing dengan cara hidup modern.
Sementara itu, pakar generasi Jason Dorsey menggambarkan kelompok peralihan ini sebagai generasi yang memiliki perpaduan karakter. Mereka masih membawa sebagian nilai kehidupan analog, tetapi memiliki naluri digital yang kuat.
Dulu Main di Luar, Sekarang Dunia Ada di Smartphone
Coba ingat masa kecil dulu. Main sepeda, petak umpet, bermain bola di lapangan, atau menunggu tayangan kartun di televisi menjadi hiburan sehari-hari.
Belum ada kewajiban mengunggah setiap momen ke media sosial. Belum ada FYP yang membuat orang betah berjam-jam menatap layar.
Kemudian teknologi mulai berubah. Friendster dan Facebook muncul, disusul Twitter, YouTube, Instagram, hingga Snapchat. Ponsel sederhana berganti smartphone. Komunikasi yang sebelumnya mengandalkan SMS dan telepon berubah menjadi pesan instan dan video call.
Kini, generasi yang pernah merasakan semua perubahan itu juga harus beradaptasi dengan teknologi kecerdasan buatan.
Dari mencari informasi melalui mesin pencari, sekarang cukup mengetik pertanyaan kepada AI. Dari membeli tiket langsung di loket, kini semuanya bisa dilakukan melalui aplikasi.
Benarkah Zillennials Punya Keuntungan Dua Dunia?
Sebuah kajian akademik berjudul Zillenial Microgeneration: Hybrid Traits, Digital Behavior, and Generational Boundaries yang diterbitkan pada 31 Desember 2025 membahas karakteristik kelompok ini.
Kajian tersebut menggambarkan Zillennials sebagai generasi dengan karakter campuran. Mereka terbiasa menggunakan teknologi, memiliki kecenderungan belajar mandiri, menghargai fleksibilitas, serta memperhatikan keseimbangan kehidupan dan pekerjaan.
Majalah Fortune dalam artikel yang diterbitkan 3 Juli 2026 juga mengangkat Zillennials sebagai kelompok yang memiliki pengalaman menarik dalam dunia kerja.
Pengalaman melewati perubahan teknologi dari era analog ke digital dinilai dapat menjadi modal untuk menghadapi perkembangan teknologi berikutnya, termasuk AI.
Namun, bukan berarti semua Zillennials otomatis lebih pintar atau lebih unggul dibandingkan generasi lain. Kemampuan setiap orang tetap dipengaruhi pendidikan, lingkungan, pengalaman, dan kesempatan yang dimiliki.
Generasi yang Paling Paham Perubahan Zaman?
Di Indonesia, pengalaman Zillennials terasa cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Mereka pernah merasakan zaman wartel, rental PlayStation, warnet, Nokia, BlackBerry, BBM, hingga sekarang terbiasa menggunakan WhatsApp, Instagram, TikTok, dan berbagai aplikasi digital.
Mereka juga menjadi saksi perubahan cara masyarakat bekerja, berbisnis, berbelanja, hingga membangun hubungan sosial.
Dulu mencari teman harus bertemu langsung atau bertukar nomor telepon. Sekarang, kenalan bisa dimulai dari kolom komentar media sosial.
Dulu mencari pekerjaan harus datang membawa surat lamaran. Sekarang, banyak proses rekrutmen dilakukan secara daring.
Dunia berubah begitu cepat dan Zillennials menjadi salah satu kelompok yang mengalami langsung perpindahan tersebut.
Pada akhirnya, Zillennials bukan sekadar istilah untuk membedakan tahun kelahiran. Sebutan ini menggambarkan generasi yang punya pengalaman melewati dua zaman berbeda.
Jadi, kalau kamu masih ingat suara modem internet saat tersambung ke jaringan, pernah punya teman lewat Friendster, merasakan serunya BBM, tetapi sekarang tidak bisa lepas dari smartphone dan mulai akrab dengan AI, mungkin kamu termasuk Zillennials.
Nah, pertanyaannya, kamu tim yang masih ingat zaman warnet dan rental VCD, atau sudah masuk generasi yang sejak kecil akrab dengan smartphone?
(Purwantiningsih)
























