SUARAINDONEWS.COM, JAKARTA — Siapa bilang Bahasa Indonesia cuma populer di dalam negeri? Sekarang, bahasa yang kita gunakan sehari-hari mulai menarik perhatian dunia. Dari Mesir, Arab Saudi, Australia, hingga Uzbekistan, sejumlah perguruan tinggi luar negeri mulai membuka ruang bagi Bahasa Indonesia untuk dipelajari mahasiswa mereka.
Kabar menarik ini disampaikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti saat membuka Bulan Bahasa dan Sastra 2026 di Jakarta, Rabu (28/10/2026).
Menurut Abdul Mu’ti, minat perguruan tinggi luar negeri terhadap Bahasa Indonesia terus berkembang. Bahkan, sejumlah kampus sudah memasukkannya ke dalam program studi maupun kurikulum pembelajaran.
Salah satu yang mencuri perhatian adalah Universitas Al-Azhar di Mesir. Kampus ternama tersebut telah membuka Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia di Fakultas Bahasa dan Terjemah.
Di Arab Saudi, sejumlah institusi pendidikan juga mulai mengembangkan program pembelajaran Bahasa Indonesia. Salah satunya Universitas Majma’ah yang telah menyelenggarakan program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA).
Program tersebut bahkan berhasil meluluskan 49 peserta pada September 2026. Mereka mengikuti pembelajaran yang berlangsung selama Juli hingga Agustus.
Bergeser ke Australia, University of Tasmania juga menyelenggarakan pengajaran Bahasa Indonesia. Sementara di Uzbekistan, salah satu perguruan tinggi mulai memasukkan Bahasa Indonesia ke dalam kurikulum, meski belum menjadi program studi mandiri.
Fenomena ini menunjukkan bahwa Bahasa Indonesia punya peluang semakin dikenal di lingkungan pendidikan internasional. Bukan hanya untuk mengenal tata bahasa, tetapi juga membuka jalan bagi mahasiswa asing memahami budaya, masyarakat, dan kehidupan Indonesia.
Pengajar Lokal Jadi Kunci Bahasa Indonesia Terus Berkembang
Agar pembelajaran Bahasa Indonesia di luar negeri tidak sekadar menjadi program sesaat, pemerintah juga mendorong pemberdayaan pengajar lokal.
Para pengajar yang sudah mengikuti pelatihan dan memiliki lisensi atau kompetensi sesuai standar dapat membantu melanjutkan kegiatan pembelajaran di negara masing-masing.
Menurut Abdul Mu’ti, langkah ini bisa menjadi solusi untuk menjaga keberlanjutan program BIPA sekaligus menekan biaya pengiriman tenaga pengajar dari Indonesia tanpa mengurangi mutu pembelajaran.
Data Badan Bahasa hingga Juni 2025 mencatat, sebanyak 2.213 pengajar telah melayani 200.956 pemelajar BIPA di 772 lembaga yang tersebar di 57 negara.
Bahasa Indonesia Mendunia, Bahasa Daerah Jangan Dilupakan
Menariknya, semangat mengenalkan Bahasa Indonesia ke dunia juga harus berjalan beriringan dengan pelestarian bahasa daerah dan penguasaan bahasa asing.
Dalam momentum Bulan Bahasa dan Sastra 2026, pemerintah kembali mengingatkan pentingnya Trigatra Bangun Bahasa, yaitu utamakan Bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, dan kuasai bahasa asing.
Artinya, semakin banyak bahasa yang dikuasai bukan alasan untuk melupakan bahasa sendiri.
Bayangkan, ketika mahasiswa di Mesir belajar Bahasa Indonesia, warga Arab Saudi mengikuti kelas BIPA, dan kampus Australia mengajarkannya, masyarakat Indonesia justru punya kesempatan semakin besar untuk memperkenalkan identitas bangsanya kepada dunia.
Bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Di dalamnya ada budaya, sejarah, cara berpikir, dan identitas sebuah bangsa.
Jadi, kalau orang luar negeri saja mulai tertarik belajar Bahasa Indonesia, bagaimana dengan kita? Sudah bangga menggunakan bahasa sendiri hari ini?
(Robby Bustami)
























