SUARAINDONEWS.COM, BALI — Komisaris Utama sekaligus Komisaris Independen PT Pertamina Hulu Energi (PHE), Denny JA, menerima AMA Appreciation Award 2026 dalam ajang AMA Indonesia Conference 2026 yang digelar di Sanur, Bali, Jumat (2/10/2026).
Penghargaan tersebut diberikan oleh Asosiasi Manajemen Indonesia (AMA), organisasi profesional yang berdiri sejak 1989 dan menjadi wadah pembelajaran serta jejaring bagi para praktisi manajemen di Indonesia.
Penghargaan diserahkan dalam konferensi bertema From Management to Wealth Creation, yang mengangkat perubahan makna kepemimpinan korporasi di tengah perkembangan teknologi, dinamika ekonomi, dan kebutuhan masyarakat.
AMA Indonesia menilai Denny JA berkontribusi dalam memperluas wawasan strategis PHE, mendorong pengambilan keputusan yang profesional dan bertanggung jawab, serta memperkuat ekosistem pembelajaran dan kepemimpinan perusahaan.
Dalam pidatonya, Denny JA mengajak para peserta untuk tidak memandang penghargaan sebagai puncak perjalanan, melainkan sebagai momentum untuk kembali mempertanyakan makna kepemimpinan.
Ia mengangkat pertanyaan mengenai tugas seorang pemimpin korporasi di tengah perubahan zaman yang berlangsung cepat, perkembangan teknologi, serta kebutuhan manusia yang terus bergerak.
Menurut Denny JA, kepemimpinan tidak cukup hanya berorientasi pada pertumbuhan perusahaan dan pencapaian keuntungan, tetapi juga harus mampu menciptakan nilai baru yang memberikan dampak lebih luas.
Belajar dari Elon Musk dan SpaceX
Merenungkan tema wealth creation, Denny JA mengangkat kisah Elon Musk dan SpaceX sebagai contoh bagaimana penciptaan nilai baru dapat mengubah lanskap industri.
Menurutnya, hal menarik dari Elon Musk bukan semata-mata besarnya kekayaan yang dihasilkan, melainkan bagaimana kekayaan tersebut tercipta melalui inovasi dan kemampuan membuka peluang ekonomi baru.
Selama puluhan tahun, eksplorasi ruang angkasa didominasi pemerintah, lembaga pertahanan, dan proyek ilmiah yang membutuhkan biaya sangat besar. Namun, pengembangan roket yang dapat digunakan kembali atau reusable rocket oleh SpaceX turut mengubah pendekatan tersebut.
Sebelumnya, sebagian besar roket hanya digunakan satu kali. Melalui teknologi roket yang dapat kembali ke Bumi dan digunakan kembali, biaya peluncuran dapat ditekan dan peluang pengembangan ekonomi ruang angkasa semakin terbuka.
Denny JA menjelaskan, penciptaan kekayaan tidak selalu berasal dari penguasaan pangsa pasar yang sudah ada. Kekayaan juga dapat lahir dari kemampuan menciptakan kemungkinan baru, menjawab kebutuhan yang belum terpenuhi, dan membangun pasar yang sebelumnya belum tersedia.
Dari ekosistem SpaceX, kemudian berkembang Starlink, jaringan internet berbasis ribuan satelit di orbit rendah Bumi yang memungkinkan semakin banyak wilayah terhubung dengan dunia.
Teknologi tersebut membuka alternatif konektivitas bagi daerah terpencil, kapal di tengah laut, wilayah dengan infrastruktur terbatas, hingga lokasi bencana.
Denny JA memandang perkembangan tersebut sebagai gambaran wealth creation yang lebih luas, yakni kemampuan menciptakan nilai melalui teknologi, keberanian, dan imajinasi untuk memperluas batas kemungkinan manusia.
Defining Question dalam Kepemimpinan
Dalam pidatonya, Denny JA juga memperkenalkan konsep defining question, yakni pertanyaan mendasar yang menentukan arah seorang pemimpin dalam membawa organisasi.
Ia menilai setiap pemimpin perlu mempertanyakan apa yang paling dibutuhkan oleh zaman, manusia, dan lingkungan saat ini, serta kontribusi yang dapat diberikan oleh organisasi yang dipimpinnya.
“Apa yang paling dibutuhkan zaman, manusia, dan lingkungan saya saat ini, yang dapat diberikan oleh organisasi yang saya pimpin?” menjadi pertanyaan yang menurutnya penting untuk direnungkan oleh setiap pemimpin.
Pertanyaan tersebut juga menjadi landasan pemikirannya ketika dipercaya menjabat sebagai Komisaris Utama PHE, perusahaan hulu minyak dan gas bumi yang memiliki posisi strategis dalam mendukung ketahanan energi Indonesia.
Denny JA memiliki latar belakang profesional di berbagai bidang usaha, mulai dari perhotelan, restoran, konsultan politik, lembaga survei, hingga pertambangan.
Pengalaman lintas sektor tersebut menjadi bekal dalam melihat tantangan kepemimpinan dari perspektif yang lebih luas, termasuk ketika menghadapi kebutuhan transformasi di industri energi.
Menurutnya, terdapat dua agenda besar yang perlu berjalan beriringan, yakni meningkatkan produksi energi dan memperkuat institusi agar mampu mengambil keputusan secara profesional dan bertanggung jawab.
Produksi tanpa institusi yang kuat dinilai rentan, sementara institusi tanpa keberanian mengambil keputusan berisiko terjebak dalam birokrasi yang tidak menghasilkan terobosan.
PHE Dorong Produksi dan Ekspansi Global
Dalam upaya memperkuat ketahanan energi nasional, PHE mencanangkan aspirasi 1M29, yakni mencapai produksi satu juta barel minyak per hari pada 2029.
Target tersebut membutuhkan berbagai terobosan, mulai dari eksplorasi, pemanfaatan teknologi, optimalisasi lapangan eksisting, hingga pengembangan sumber pertumbuhan produksi baru.
Selain memperkuat produksi dalam negeri, PHE juga mengembangkan strategi PHE Goes Global melalui peluang merger dan akuisisi secara selektif di luar negeri.
Langkah tersebut membuka peluang bagi PHE untuk memperoleh sumber produksi internasional yang dapat mendukung ketahanan energi Indonesia.
Denny JA berpandangan bahwa pencarian sumber energi tidak harus terbatas pada wilayah domestik ketika kebutuhan nasional melampaui kapasitas produksi dalam negeri. Karena itu, korporasi membutuhkan visi, kapasitas, dan keberanian untuk menjajaki peluang di tingkat global.
Namun, peningkatan produksi juga harus disertai penguatan tata kelola, kualitas keputusan, efisiensi proses bisnis, serta kemampuan perusahaan dalam mengelola risiko.
Dorong Penguatan Business Judgment Rule
Salah satu isu yang menjadi perhatian Denny JA adalah pentingnya membangun ekosistem pengambilan keputusan bisnis yang profesional dan bertanggung jawab, khususnya melalui penguatan Business Judgment Rule (BJR).
Dalam industri hulu migas, ketidakpastian merupakan bagian dari kegiatan usaha. Tidak semua kegiatan eksplorasi berhasil menemukan cadangan minyak atau gas yang ekonomis untuk diproduksi.
Menurut Denny JA, kegagalan komersial tidak serta-merta dapat disamakan dengan pelanggaran hukum. Penilaian terhadap suatu keputusan perlu mempertimbangkan proses pengambilan keputusan, informasi yang tersedia, itikad baik, konflik kepentingan, serta kepatuhan terhadap tata kelola perusahaan.
Ia menekankan pentingnya membedakan kerugian akibat korupsi dengan kerugian yang timbul dari risiko bisnis yang sah.
Korupsi harus ditindak tegas. Namun, keputusan bisnis yang diambil dengan itikad baik, berdasarkan informasi yang memadai, tanpa konflik kepentingan, dan sesuai tata kelola perlu mendapatkan perlindungan hukum yang semestinya.
Menurutnya, ketakutan berlebihan terhadap risiko kriminalisasi dapat menghambat keberanian pemimpin dalam mengambil keputusan strategis dan mengembangkan inovasi.
Karena itu, penguatan ekosistem BJR dinilai penting untuk menciptakan keseimbangan antara integritas, akuntabilitas, dan keberanian mengambil risiko bisnis yang terukur.
Bersama lembaga akademik, PHE mengambil inisiatif untuk mengusulkan pembentukan Dewan Business Judgment Rule melalui undang-undang, dengan mengacu pada gagasan pembentukan lembaga seperti Dewan Pers.
Gagasan tersebut diharapkan dapat memperkuat kepastian dan mekanisme penilaian terhadap keputusan bisnis, sekaligus menjaga agar prinsip tata kelola perusahaan tetap berjalan.
Denny JA menegaskan bahwa korporasi membutuhkan pemimpin yang tidak hanya bersih, tetapi juga berani mengambil keputusan besar secara profesional dan bertanggung jawab.
Kepemimpinan yang Menciptakan Nilai
Bagi Denny JA, hubungan antara kepemimpinan dan wealth creation terletak pada kemampuan seorang pemimpin dalam menciptakan kemungkinan baru, membaca kebutuhan yang belum terjawab, membuka peluang pertumbuhan, dan membangun institusi yang mendukung inovasi.
Pemimpin korporasi tidak cukup hanya bertugas menjaga keberlangsungan perusahaan, tetapi juga perlu memastikan organisasi mampu beradaptasi dengan perubahan dan menghasilkan nilai yang berkelanjutan.
Ia juga menekankan pentingnya meninggalkan organisasi yang lebih kuat daripada saat pertama kali dipimpin, sehingga perubahan dan inovasi dapat terus berjalan meskipun masa kepemimpinan telah berakhir.
Penghargaan AMA Appreciation Award 2026 yang diterima Denny JA menjadi momentum untuk merefleksikan kembali peran kepemimpinan korporasi dalam menciptakan nilai, memperkuat institusi, serta memberikan dampak bagi perusahaan dan masyarakat.
(Robby Bustami)
























