SUARAINDONEWS.COM, GARUT — Aroma kopi memenuhi ruang pelatihan di Balai Latihan Kerja (BLK) Kabupaten Garut, Jawa Barat. Di balik mesin espresso dan cangkir-cangkir kopi, puluhan anak muda sedang menyiapkan satu hal yang lebih besar dari sekadar secangkir minuman: bekal untuk mengejar masa depan.
Sebanyak 100 peserta mengikuti pelatihan Barista melalui program SMK Go Global selama 16 hari. Mereka datang dengan cerita dan pengalaman berbeda. Sebagian bahkan belum pernah membuat kopi sebelumnya.
Namun, dari pelatihan itulah mereka belajar mengenal kopi, mengoperasikan mesin espresso, membuat manual brew, hingga melayani pelanggan. Bukan hanya keterampilan membuat kopi yang diasah, tetapi juga kedisiplinan, komunikasi, etika kerja dan kemampuan beradaptasi.
Salah satunya adalah Tiara, lulusan SMK Negeri 1 Garut. Sebelum mengikuti pelatihan, Tiara mengaku belum memiliki pengalaman di bidang kopi.
Informasi mengenai program SMK Go Global diperolehnya melalui media sosial. Ia kemudian tertarik mengikuti pelatihan karena memiliki cita-cita bekerja di luar negeri.
“Dengan bekerja ke luar negeri, saya ingin memperoleh pengalaman baru, mengenal budaya lain, sekaligus mempelajari cara bekerja di lingkungan internasional,” ungkap Tiara saat ditemui, Kamis (17/9/2026).
Keinginan tersebut juga dipengaruhi lingkungan keluarganya. Ayah Tiara yang berprofesi sebagai polisi hutan diketahui kerap memproduksi kopi.
“Selain itu, selama ini saya juga melihat Ayah saya yang merupakan seorang polisi hutan yang sering kali memproduksi kopi, jadi saya ingin mempelajari bagaimana tata cara penyeduhan dan proses penanamannya. Saya ingin membanggakan orang tua saya dengan menjadi satu-satunya anggota keluarga yang pergi bekerja ke luar negeri,” ujarnya.
Selama pelatihan, Tiara mulai mengenal berbagai jenis kopi, teknik penyeduhan, resep minuman hingga manual brew.
Namun, ia menyadari bekerja di luar negeri tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan teknis. Bahasa, pemahaman budaya, kedisiplinan dan kemampuan beradaptasi juga harus dipersiapkan.
Dari Nol Belajar Latte Art
Cerita hampir sama datang dari Muhammad Zaki, pemuda asal Kabupaten Garut.
Zaki juga memulai pelatihan tanpa pengalaman sebagai barista. Informasi program SMK Go Global ia dapatkan dari media sosial BP3MI Jawa Barat.
“Saya mendapatkan informasi program ini melalui sosial media dari BP3MI Jawa Barat. Saya jadi tertarik karena saya mempunyai keinginan yang tinggi untuk menjadi seorang barista yang profesional, tentunya di luar negeri atau di kancah internasional,” kata Zaki.
Selama pelatihan, Zaki belajar berbagai jenis kopi, teknik penyeduhan hingga membuat minuman berbahan dasar kopi.
Salah satu pengalaman yang paling berkesan baginya adalah ketika pertama kali belajar membuat latte art.
“Salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi saya adalah ketika pertama kali mempelajari latte art. Saya benar-benar dari nol, tidak bisa apa-apa, hingga sampai saat ini saya bisa membuat latte art,” ujar Zaki.
Zaki bahkan sempat menunjukkan hasil racikannya. Espresso dengan hiasan latte art berbentuk tulip menjadi salah satu hasil latihan yang membuatnya bangga.
Di kepalanya, sudah ada mimpi untuk bekerja sebagai barista di Turki. Lebih dari sekadar mendapatkan pekerjaan, Zaki berharap keterampilan yang diperolehnya bisa membantu keluarga, termasuk membiayai pendidikan kedua adiknya.
Bukan Cuma Bisa Bikin Kopi
Instruktur Barista BLK Kabupaten Garut, Aline Novita Dewi, mengatakan pelatihan SMK Go Global tidak hanya bertujuan membuat peserta mampu meracik kopi.
Peserta juga dipersiapkan menghadapi dunia kerja dengan membangun kedisiplinan, etika, komunikasi dan sikap profesional.
Selama 160 jam pelajaran, peserta mempelajari berbagai kompetensi. Mulai dari mengelola bahan dan peralatan, menata area kerja, menggunakan alat manual brew dan mesin espresso, menangani pelanggan, hingga menerapkan keselamatan dan kesehatan kerja.
Komposisi pelatihan terdiri dari sekitar 70 persen hard skill dan 30 persen soft skill.
Pada dua hari terakhir, peserta mengikuti simulasi membuka kedai. Mereka bergantian menjadi barista, kasir, waiter hingga pelanggan.
Simulasi tersebut dirancang agar peserta merasakan situasi yang lebih mendekati kondisi kerja sebenarnya.
“Selain itu, kedisiplinan juga menjadi bagian dari proses pembentukan karakter peserta. Seluruh peserta jam tujuh pagi harus sudah sampai di sini. Jadi kita ada kegiatan rutin apel pagi jam setengah delapan, itu semuanya wajib hadir. Kalau tidak hadir, ada konsekuensinya,” ujar Aline.
Menurut Aline, aturan tersebut diterapkan untuk membentuk etos kerja peserta.
“Jadi itu adalah untuk membentuk etos kerja dan kedisiplinan peserta. Kalau kita permudah, ‘kan kita tidak tahu ya nanti di tempat kerjanya seperti apa,” lanjutnya.
Lulusan SMK Dinilai Lebih Siap
Aline juga melihat adanya perbedaan dari sisi kesiapan kerja antara peserta lulusan SMK dengan peserta lainnya.
Menurut dia, lulusan SMK cenderung sudah memiliki dasar sikap dan kebiasaan kerja karena sebelumnya mendapatkan pembelajaran yang berkaitan dengan dunia industri.
“Memang yang dari lulusan-lulusan SMK ini lebih sigap lah kalau bisa dikatakan. Jadi ketika praktik dan menerima materi, mereka sudah lebih paham bagaimana harus bersikap,” jelas Aline.
Meski begitu, peserta yang belum memiliki pengalaman tetap mendapat ruang untuk berkembang melalui latihan berulang.
BLK Garut menerapkan evaluasi melalui battle barista. Dari kegiatan tersebut, peserta bisa mengetahui kemampuan masing-masing sekaligus melihat bagian yang masih harus diperbaiki.
Tidak sedikit peserta yang memilih berlatih di luar jam pelatihan.
“Ada yang sampai jam delapan malam, ada juga yang sampai jam 11 malam. Karena mereka merasa, ‘oh saya tertinggal’. Jadi ketika battle itu, mereka jadi bisa mengukur kemampuannya, jadi tahu mana yang harus diperbaiki dan ditingkatkan,” ungkap Aline.
Semangat peserta tersebut menjadi salah satu hal yang paling berkesan bagi Aline selama mendampingi pelatihan.
“Mereka sangat bersemangat. Peserta dari program KP2MI ini bisa saya rasakan berbeda. Selama saya menjadi instruktur ya, selama kurang lebih 4-5 tahun, inilah yang paling beda. Para pesertanya sangat semangat,” katanya.
Bekal Menuju Dunia Kerja
BLK Kabupaten Garut diketahui telah dua kali berkolaborasi dengan KP2MI dalam pelaksanaan pelatihan.
Pada pelaksanaan kali ini, kejuruan Barista dipilih dengan mempertimbangkan ketersediaan instruktur, fasilitas dan kapasitas pelatihan.
Untuk kurikulum, BLK Garut mengacu pada Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) Kementerian Ketenagakerjaan. Karena peserta dipersiapkan untuk bekerja di luar negeri, pembelajaran kemudian diperkuat dengan praktik dan simulasi.
Bagi Aline, program tersebut memberikan kesempatan bagi lulusan SMK maupun SMA untuk meningkatkan keterampilan sebelum masuk ke dunia kerja.
“Melalui program SMK Go Global ini, lulusan SMK bisa mendapatkan pelatihan skill, kemudian mendapatkan sertifikat yang itu bisa menunjang kemampuan dan nilai jualnya ketika nanti berada di tempat kerja,” ujarnya.
Bagi Aline, perjalanan para peserta tidak berhenti ketika pelatihan selesai. Ia berharap keterampilan yang mereka dapatkan benar-benar menjadi bekal ketika memasuki dunia kerja.
Ia bahkan mengaku tetap berkomunikasi dengan sejumlah peserta setelah pelatihan berakhir.
“Jadi memang banyak pesan dari saya untuk mereka. Terlepas dari kebanggaan saya ketika mereka nanti sudah berangkat ke luar negeri. Jadi doa-doa dan juga harapan-harapan itu masih ada,” kata Aline.
“Yang penting mereka di sana bisa bekerja dengan baik. Saya terima kasih sekali dengan program SMK Go Global ini. Dengan program ini, terutama masyarakat Garut lulusan SMK bisa mendapatkan pelatihan dan kemampuan untuk bekerja ke luar negeri. Saya sampai tidak bisa berkata-kata ini ya, karena saking senang dan saking bangganya,” sambungnya.
Kini, para peserta membawa lebih dari sekadar sertifikat setelah menyelesaikan pelatihan.
Ada keterampilan yang bertambah, kepercayaan diri yang tumbuh, dan mimpi yang semakin jelas.
Dari Garut, mereka mulai menyiapkan langkah menuju dunia kerja internasional. Kopi yang awalnya hanya dikenal sebagai minuman, kini menjadi bagian dari perjalanan mereka mengejar masa depan.
(Agung Suhartono)

























