SUARAINDONEWS.COM, JAKARTA — Susah tidur atau sering terjaga saat malam? Ada satu jenis susu yang belakangan menarik perhatian karena kandungan hormon melatoninnya jauh lebih tinggi dibandingkan susu biasa. Namanya night milk, yakni susu sapi yang diperah pada malam hari.
Bukan sekadar istilah pemasaran, susu malam ini memiliki dasar penelitian ilmiah. Studi yang dilakukan sejumlah peneliti dari Brasil dan diterbitkan dalam Journal of the Science of Food and Agriculture pada 2014 menemukan bahwa waktu pemerahan ternyata berpengaruh terhadap kadar melatonin dalam susu sapi.
Hasilnya cukup mengejutkan. Susu yang diperah pukul 02.00 mengandung melatonin sebesar 39,43 pikogram per mililiter (pg/mL). Sementara susu yang diperah pukul 15.00 hanya mengandung 4,03 pg/mL.
Artinya, konsentrasi melatonin pada susu hasil pemerahan pukul 02.00 hampir 10 kali lebih tinggi dibandingkan susu yang diperah pada sore hari.
Melatonin merupakan hormon yang berperan mengatur ritme sirkadian atau jam biologis tubuh, termasuk membantu memberikan sinyal bahwa waktu istirahat telah tiba. Produksi hormon ini secara alami meningkat ketika kondisi gelap dan menurun saat tubuh terpapar cahaya.
Menariknya, penelitian tersebut tidak hanya mengukur kandungan melatonin. Para peneliti juga melakukan pengujian terhadap 32 tikus Wistar jantan dewasa yang dibagi menjadi empat kelompok selama 28 hari.
Tikus diberi pakan dengan kandungan susu yang diperah pukul 02.00, susu pukul 15.00, serta variasi susu malam dengan tambahan triptofan. Hasilnya menunjukkan kelompok yang mengonsumsi susu malam memiliki perbedaan kadar melatonin dalam darah dan metabolit melatonin dalam urine dibandingkan kelompok kontrol dan kelompok susu siang.
Dalam kesimpulan peneliti, kombinasi pemerahan malam dan penambahan triptofan menghasilkan susu yang dapat meningkatkan kualitas tidur pada tikus percobaan.
Namun, temuan ini belum bisa dijadikan bukti bahwa night milk otomatis membuat manusia tidur lebih nyenyak.
Penelitian lain yang dipublikasikan pada 2019 juga menemukan bahwa kadar melatonin dalam susu memang dipengaruhi waktu pemerahan dan musim. Dalam studi tersebut, rata-rata kandungan melatonin pada susu malam mencapai 14,87 pg/mL, sedangkan susu harian sekitar 6,98 pg/mL.
Artinya, perbedaan kandungan melatonin tidak selalu sama pada setiap penelitian. Kondisi lingkungan, pencahayaan, musim, dan karakteristik produksi susu turut memengaruhi hasilnya.
Lantas, apakah susu malam benar-benar bisa menjadi solusi bagi orang yang mengalami gangguan tidur?
Ahli neurologi dan tidur dari Columbia University, Carl Bazil, pernah memberikan pandangannya kepada The Guardian dalam pemberitaan mengenai penelitian susu malam pada 2015. Ia menilai teori mengenai potensi efek menenangkan susu malam masuk akal secara ilmiah. Namun, menurutnya, menyimpulkan bahwa susu tersebut benar-benar memperbaiki pola tidur manusia masih terlalu dini dan membutuhkan penelitian lebih lanjut.
Dengan kata lain, kandungan melatonin yang lebih tinggi memang menarik, tetapi manfaatnya bagi manusia belum bisa dipastikan.
Jadi, night milk bukan obat ajaib untuk mengatasi insomnia. Penelitian tentang susu ini masih terus membutuhkan pembuktian, terutama melalui uji klinis pada manusia dengan jumlah peserta yang memadai.
Fenomena susu yang diperah tengah malam ini menunjukkan bahwa waktu produksi pangan ternyata bisa memengaruhi kandungan alaminya. Tetapi untuk urusan tidur lebih nyenyak, jangan buru-buru percaya sebelum bukti ilmiahnya benar-benar kuat.
(Rizki Fadillah)























