SUARAINDONEWS. COM, JAKARTA — Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar Bidang Kebijakan Publik, Idrus Marham, menegaskan kritik dari internal koalisi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto sejatinya menjadi instrumen koreksi dalam kerangka penguatan bersama, bukan justru melemahkan soliditas partai-partai pendukung pemerintah.
Idrus menyampaikan hal itu merespons sorotan anggota DPR RI Fraksi Partai Gerindra, Kamrussamad, terhadap kinerja sejumlah menteri yang dinilai belum maksimal menjawab persoalan masyarakat.
Tiga menteri dari Partai Golkar turut menjadi sorotan, yakni Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid, serta Menteri UMKM Maman Abdurrahman.
Menurut Idrus, kritik dalam koalisi merupakan hal yang wajar selama dilandasi niat tulus, penilaian objektif, faktual, dan berkeadilan dengan orientasi memperbaiki kinerja pemerintahan. Dalam perspektif itu, Presiden telah mengingatkan kita bahwa Indonesia adalah rumah besar kita bersama yang harus dirawat dan dibangun bersama. Kita adalah satu keluarga besar yang harus saling mengingatkan, saling mengkritisi, saling memperkuat, dan saling membesarkan untuk merawat bangsa ini, tegas Idrus mengikuti konstruksi berpikir Presiden.
Tapi tetap perlu diingat bahwa: “Kalau kritikannya disampaikan dengan niat yang tulus, objektif, faktual, jujur, dan berkeadilan untuk memperkuat koalisi Merah Putih bagi suksesnya Pemerintahan Prabowo, maka penguatan itu semakin solid,” kata Idrus.
Ia menekankan, kritik tidak semestinya dipahami sebagai ancaman terhadap kebersamaan. Sebaliknya, kritik dapat menjadi sarana untuk mengingatkan sesama anggota koalisi agar terus memperbaiki kekurangan dan memastikan kebijakan Presiden Prabowo terlaksana dengan baik.
Idrus Ingatkan Pentingnya Objektivitas dengan Pendekatan Holistik
Idrus mengatakan, para elite dan tokoh yang berada dalam koalisi pemerintahan pada dasarnya telah saling mengenal, termasuk rekam jejak dan karakter masing-masing.
Ia mencontohkan hubungan Kamrussamad dengan Bahlil yang telah terjalin sejak aktif di organisasi kepemudaan KNPI dan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI). Saya juga sebagai mantan Ketua Umum DPP KNPI dan Wakil Presiden Pemuda Dunia, di mana Sdr. Kamrussamad adalah bagian dari kepemimpinan kami bersama berkiprah, bahkan lanjut dalam dunia politik ketika saya menjadi Sekjen DPP Partai Golkar. Kita sudah saling memahami, makanya jangan ada permainan antara kita, ha ha ha, jelas Idrus dengan sedikit guyon tertawa.
Karena itu, Idrus berharap kritik yang disampaikan tidak berhenti pada penilaian terhadap individu, tetapi juga mempertimbangkan konteks kebijakan, proses koordinasi antarunit, dan upaya yang telah dilakukan pemerintah.
Namun, secara guyon dan kelakar, Idrus mempertanyakan mengapa sorotan Sdr. Kamrussamad secara spesifik menyebut tiga menteri Golkar, sementara kementerian lain yang juga berkaitan dengan pelayanan publik tidak disebutkan secara langsung.
Lanjut, pertanyaan Idrus itu disertai ajakan berpikir berdasarkan logika sosial, di mana rakyat tidak bodoh, rakyat tidak tidur bahwa:
“Apabila kritik itu tidak disertai dengan niat tulus, tidak objektif, tidak komprehensif/holistik, tidak terintegrasi, tidak berkeadilan, maka boleh jadi kritik itu kembali mendegradasi pengkritik itu sendiri,” lanjut Idrus sambil tertawa. “Maka hati-hati mengkritik, apalagi kalau antar kita sudah saling tahu, kritik itu akan bisa mendegradasi eksistensi dan peran pengkritik itu sendiri,” ujarnya sambil tertawa.
Pernyataan Idrus tidak berarti menolak evaluasi. Ia justru menekankan pentingnya keseimbangan antara mengoreksi pihak lain dan melakukan introspeksi terhadap diri sendiri.
Golkar Tak Goyah Sedikit Pun Dukung Prabowo
Idrus menegaskan, dinamika kritik tersebut tidak akan menggoyahkan komitmen Partai Golkar untuk mendukung pemerintahan Prabowo.
Ia meminta seluruh kader Golkar menjadikan kritik sebagai pemacu untuk bekerja lebih proaktif, mengambil peran dalam pelaksanaan kebijakan dan program, serta memastikan pemerintahan berjalan sesuai agenda Presiden yang berorientasi kerakyatan dan diinspirasi oleh ideologi dan falsafah Pancasila.
“Apapun kritikannya, arahan Ketua Umum DPP Partai Golkar, Bung Bahlil, bahwa apa pun tantangan, apa pun kritikan, kita tidak akan goyah sedikit pun mendukung Pemerintahan Prabowo. Bahkan harus memacu dan memicu kita untuk berbuat lebih proaktif memastikan sukses periode pertama sebagai eskalator sukses kepemimpinan Prabowo periode kedua,” kata Idrus menirukan seruan Ketum Golkar Bung Bahlil.
Idrus menyampaikan, volume dan dinamika komunikasi Bahlil dan Prabowo begitu intensif, tercermin dalam beberapa even, momentum, dan di beberapa kesempatan, terutama saat peluncuran buku bertajuk 10 Karya Nyata untuk Negeri: Setengah Abad Bahlil Lahadalia. Presiden secara spesifik memberikan apresiasi luar biasa terhadap kinerja Bahlil.
Idrus menambahkan, keberhasilan pemerintahan Prabowo pada periode ini juga menjadi kepentingan strategis Golkar dalam menjaga kesinambungan dukungan politik pada periode berikutnya, semakin memperkuat dukungan Golkar terhadap Prabowo pada periode kedua, 2029–2034.
Bahlil dan Pelayanan Publik Jadi Sorotan
Sebelumnya, Kamrussamad menyoroti persoalan pemadaman listrik, antrean bahan bakar minyak (BBM), pemberantasan judi daring dan pinjaman daring ilegal, serta akses pembiayaan UMKM.
Kamrussamad menilai persoalan pelayanan publik yang berlarut-larut berpotensi mengganggu rantai pasok ekonomi dan memengaruhi kepercayaan investor.
Sorotan serupa sebelumnya disampaikan Kamrussamad dalam diskusi mengenai dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran pada 20 Oktober 2026. Kamrussamad meminta pemerintah mengevaluasi pelayanan publik, khususnya pasokan listrik dan BBM, agar tidak menghambat aktivitas ekonomi daerah.
Menanggapi dinamika tersebut, Idrus menilai keluarga besar koalisi Merah Putih harus mampu merawat ruang koreksi tanpa kehilangan semangat kebersamaan. Hal itu hanya bisa terwujud bila kritik dilakukan dengan niat yang tulus, komitmen kebangsaan yang kuat, objektif, logis, faktual, komprehensif-holistik, terintegrasi, terkoordinasi, jujur, dan berkeadilan.
“Kalau ada kritik di dalam, kita harus meyakini bahwa niatnya untuk bersama-sama membangun dan mendukung Prabowo agar sukses memimpin bangsa periode pertama ini, dan sukses periode pertama menjadi ESKALATOR menuju kepemimpinan Prabowo periode kedua (2029–2034). Di sinilah relevansi dan urgensinya KOALISI PERMANEN MERAH PUTIH,” pungkas Idrus mempertegas inspirasi dan inisiasi Bung Bahlil, Ketum Golkar.
Bagi Idrus, ukuran soliditas koalisi bukanlah ketiadaan kritik, melainkan kemampuan seluruh anggotanya menjadikan kritik sebagai bahan perbaikan demi keberhasilan pemerintahan.
(Yulianto)
























