SUARAINDONEWS.COM, Jakarta – Jika dilihat sekilas, Titan tampak seperti “kembaran” Bumi di Tata Surya. Bulan terbesar milik Saturnus itu memiliki awan, hujan, sungai, danau, hingga lautan. Namun, jangan bayangkan ada air yang mengalir di sana. Seluruh siklus cuaca Titan justru berlangsung menggunakan metana dan etana cair.
Titan menjadi satu-satunya benda langit selain Bumi yang diketahui memiliki sungai, danau, lautan, serta hujan aktif di permukaannya. Bedanya, jika di Bumi seluruh siklus hidrologi digerakkan oleh air, di Titan peran tersebut digantikan oleh metana dan etana karena suhu permukaannya yang sangat dingin.
Para ilmuwan menjelaskan suhu di permukaan Titan mencapai sekitar minus 179 derajat Celsius. Pada suhu ekstrem tersebut, air membeku sangat keras hingga berperan sebagai batuan penyusun kerak, pegunungan, dan dasar sungai. Sebaliknya, metana dan etana tetap berada dalam bentuk cair sehingga mampu mengalir layaknya air di Bumi.
Pengetahuan mengenai Titan diperoleh dari misi Cassini-Huygens, hasil kerja sama NASA, Badan Antariksa Eropa (ESA), dan Badan Antariksa Italia (ASI). Karena permukaan Titan tertutup atmosfer tebal, wahana Cassini menggunakan radar untuk memetakan bentang alamnya. Sementara wahana Huygens berhasil mendarat di Titan pada 14 Januari 2005 dan mengirimkan foto-foto pertama dari permukaannya.
Dari hasil pengamatan tersebut, ilmuwan menemukan jaringan sungai yang bermuara ke danau dan lautan hidrokarbon. Bahkan, beberapa sungai di Titan memiliki lembah yang dalam serta bentuk aliran yang menyerupai sungai-sungai di Bumi. Perbedaannya hanya pada material yang mengalir dan batuan yang dilaluinya.
Selain memiliki sungai dan lautan, Titan juga diselimuti atmosfer yang didominasi nitrogen, mirip dengan Bumi. Di balik lapisan esnya, para ilmuwan meyakini terdapat samudra air cair bawah permukaan yang kemungkinan bercampur garam dan amonia. Meski belum ditemukan bukti adanya kehidupan, kondisi tersebut membuat Titan menjadi salah satu objek paling menarik untuk diteliti dalam pencarian lingkungan yang berpotensi mendukung proses kimia pembentuk kehidupan.
Keunikan Titan membuatnya menjadi target berbagai misi eksplorasi antariksa di masa depan. Para peneliti berharap pengamatan lebih lanjut dapat mengungkap bagaimana dunia dengan sungai metana dan pegunungan es ini berevolusi, sekaligus memberikan petunjuk baru mengenai kemungkinan adanya lingkungan layak huni di luar Bumi.
(Agus Marwan)
























