SUARAINDONEWS.COM, Jakarta – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkapkan tren risiko penyakit tidak menular kini mulai muncul sejak usia sekolah dasar (SD). Temuan tersebut ditandai dengan banyaknya anak yang memiliki kadar gula darah di atas normal.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, mengatakan temuan itu menjadi peringatan serius karena seharusnya anak-anak memiliki kadar gula darah normal mengingat aktivitas fisik mereka masih tinggi.
“Anak-anak SD itu kadar gula darahnya sudah tinggi. Kita telah temui indikasi awalnya, padahal seharusnya pada anak-anak kadar gula darahnya normal karena aktivitasnya masih banyak,” kata Nadia dalam diskusi publik bertajuk Penentuan Batas Maksimal Kandungan Gula, Garam, dan Lemak (GGL) di Jakarta, Rabu (29/7).
Berdasarkan acuan Kemenkes, kadar gula darah normal pada anak berbeda menurut kelompok usia. Anak di bawah usia enam tahun berkisar 100–200 mg/dL, anak usia 6–12 tahun sekitar 70–150 mg/dL, sedangkan remaja di atas 12 tahun berada di bawah 140–180 mg/dL. Namun, hasil pemantauan menunjukkan semakin banyak anak usia sekolah yang memiliki kadar gula darah tinggi.
Nadia menegaskan kondisi tersebut harus menjadi alarm bagi pemerintah untuk segera memperkuat kebijakan pengendalian konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL). Menurutnya, tanpa intervensi sejak dini, tren tersebut berpotensi meningkatkan beban penyakit tidak menular di masa mendatang.
Ia mengingatkan, kadar gula darah yang tinggi sejak usia anak dapat memicu kerusakan pembuluh darah dan meningkatkan risiko penyakit kronis ketika memasuki usia produktif.
“Kalau dari kecil saja gula darahnya sudah tinggi, saat usia 40 tahun dia berpotensi mengalami penyakit jantung, stroke, dan gangguan ginjal karena gula memengaruhi pembuluh darah,” ujarnya.
Kemenkes menilai pengendalian konsumsi gula, garam, dan lemak perlu dibarengi dengan edukasi pola makan sehat, peningkatan aktivitas fisik, serta deteksi dini melalui program pemeriksaan kesehatan agar risiko penyakit tidak menular pada generasi muda dapat ditekan.
(Rizki Fadillah)

























