SUARAINDONEWS.COM, JAKARTA — Rencana investasi perusahaan aluminium asal Rusia, United Company Rusal (UC Rusal), untuk membangun fasilitas pengolahan bauksit menjadi alumina di Kalimantan memasuki tahap penting. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebut proses perizinan proyek tersebut kini hampir rampung.
Proyek tersebut menjadi salah satu rencana investasi Rusia dalam memperkuat hilirisasi mineral di Indonesia. UC Rusal nantinya akan menggandeng pengusaha dalam negeri dalam pengembangan fasilitas pengolahan bauksit tersebut.
Namun, pemerintah belum mengungkap identitas mitra lokal yang akan bekerja sama dengan Rusal. Selain itu, nilai investasi proyek juga belum dipastikan karena masih menunggu penyelesaian kajian kelayakan atau feasibility study (FS).
Bahlil mengatakan proses perizinan saat ini sudah berada pada tahap akhir. Pemerintah terus mendorong agar rencana investasi tersebut dapat segera direalisasikan.
Rencana masuknya Rusal ke Indonesia sebelumnya disampaikan Presiden Prabowo Subianto ketika melakukan kunjungan ke Rusia. Dalam pertemuan tersebut, Prabowo menyebut perusahaan aluminium raksasa Rusia itu akan masuk secara besar-besaran ke Indonesia dan mengembangkan fasilitas pengolahan bersama kelompok usaha Indonesia.
Masuknya Rusal dinilai sejalan dengan agenda pemerintah memperkuat hilirisasi sumber daya alam. Pemerintah ingin komoditas mineral tidak lagi hanya diekspor dalam bentuk bahan mentah, tetapi diproses di dalam negeri sehingga menghasilkan nilai tambah yang lebih besar.
Bauksit menjadi salah satu komoditas yang mendapat perhatian dalam agenda tersebut. Berdasarkan data yang disampaikan Kementerian ESDM, investasi hilirisasi bauksit pada kuartal II 2026 mencapai sekitar Rp40,1 triliun.
Nilai tersebut meningkat tajam dibandingkan kuartal sebelumnya yang berada di kisaran Rp13,7 triliun. Dengan demikian, investasi hilirisasi bauksit pada kuartal II 2026 melonjak sekitar 193 persen secara kuartalan.
Secara keseluruhan, investasi hilirisasi pada kuartal II 2026 mencapai sekitar Rp152,7 triliun, sementara sepanjang semester I 2026 mencapai sekitar Rp300,1 triliun.
Indonesia sendiri telah memiliki fasilitas pengolahan bauksit menjadi alumina di Kalimantan Barat melalui Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Mempawah. Fasilitas tersebut memiliki kapasitas produksi sekitar 1 juta ton alumina per tahun.
Kehadiran proyek Rusal nantinya berpotensi menambah kapasitas pengolahan bauksit di dalam negeri sekaligus memperkuat rantai pasok industri alumina dan aluminium nasional.
Meski demikian, pemerintah masih harus menyelesaikan sejumlah tahapan sebelum proyek tersebut benar-benar masuk ke tahap pembangunan. Karena itu, status proyek Rusal saat ini masih berada pada fase persiapan dan penyelesaian perizinan, bukan pembangunan fisik yang telah dimulai.
Pemerintah berharap investasi tersebut tidak hanya meningkatkan nilai tambah mineral, tetapi juga memperkuat kerja sama ekonomi Indonesia-Rusia serta membuka peluang keterlibatan pelaku usaha nasional dalam industri pengolahan mineral.
Dengan proses perizinan yang disebut hampir final, perkembangan berikutnya akan ditunggu untuk melihat besaran investasi, lokasi pasti fasilitas, kapasitas produksi, serta siapa mitra usaha Indonesia yang akan mendampingi Rusal dalam proyek hilirisasi bauksit tersebut.
(Riana P)
























