SUARAINDONEWS.COM, WASHINGTON — Keluhan guru di Amerika Serikat tentang kemampuan membaca dan menulis siswa kembali menjadi sorotan. Di sejumlah sekolah, guru menemukan murid yang masih kesulitan memahami bacaan meski sudah duduk di bangku sekolah menengah.
CNN Amerika melaporkan, seorang guru mengungkapkan bahwa masih ada anak sekolah dasar yang belum mampu membaca dengan baik. Sementara guru kelas 7 lainnya mengatakan kemampuan sebagian siswanya masih berada pada tingkat kelas 4.
Kondisi tersebut bukan sekadar keluhan di ruang kelas. Data penilaian pendidikan nasional Amerika Serikat juga menunjukkan persoalan kemampuan membaca yang cukup serius.
Berdasarkan hasil National Assessment of Educational Progress (NAEP) 2024, sekitar 40 persen siswa kelas 4 berada di bawah tingkat Basic dalam kemampuan membaca. Artinya, mereka belum menunjukkan kemampuan membaca yang diharapkan untuk memahami berbagai jenis teks sesuai jenjangnya.
Data tersebut juga menunjukkan hanya sekitar 31 persen siswa kelas 4 yang mencapai tingkat Proficient atau lebih tinggi.
Pada tingkat kelas 8, persoalan serupa masih terlihat. Sekitar sepertiga siswa berada di bawah tingkat Basic dalam membaca.
Kondisi ini membuat kemampuan siswa menjadi perhatian serius karena kemampuan membaca menjadi dasar untuk memahami pelajaran lain, mulai dari ilmu pengetahuan hingga matematika.
Laporan media AS menyebut persoalan tersebut tidak terjadi secara merata di seluruh sekolah dan distrik. Namun, data nasional menunjukkan adanya kesenjangan kemampuan membaca yang cukup besar di antara siswa.
Pandemi Covid-19 menjadi salah satu faktor yang banyak dibahas dalam penurunan capaian belajar. Selain itu, para peneliti dan pendidik juga memperdebatkan pengaruh kualitas pengajaran membaca, kesenjangan pengetahuan, minat membaca, penggunaan smartphone dan media sosial terhadap kemampuan akademik siswa.
Meski demikian, perkembangan terbaru pada 2026 menunjukkan adanya sedikit perubahan positif.
Data NWEA yang dirilis September 2026 menunjukkan kemampuan membaca siswa dari tingkat kindergarten hingga kelas 8 mengalami peningkatan antara musim semi 2025 dan musim semi 2026.
Namun, kenaikan tersebut belum sepenuhnya mengembalikan kemampuan membaca siswa ke tingkat sebelum pandemi.
Persoalan justru masih menjadi perhatian pada kelompok usia yang lebih tua. Sejumlah data menunjukkan kemampuan membaca remaja Amerika masih menghadapi tekanan, sehingga pemulihan literasi menjadi tantangan yang belum selesai.
Situasi tersebut kemudian mendorong perdebatan mengenai bagaimana sekolah seharusnya mengajarkan kemampuan membaca, termasuk penerapan pendekatan science of reading yang menekankan pengajaran membaca berdasarkan penelitian mengenai bagaimana anak belajar membaca.
Bagi guru, persoalannya bukan hanya soal nilai ujian. Ketika siswa memasuki kelas yang lebih tinggi tetapi kemampuan membacanya tertinggal beberapa tingkat, guru harus memberikan materi sesuai kurikulum sekaligus mengejar ketertinggalan kemampuan dasar.
Fenomena itu menjadi salah satu gambaran tantangan pendidikan Amerika saat ini: sebagian siswa mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan, tetapi kesenjangan kemampuan membaca masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi sekolah.
Data resmi NAEP menunjukkan masalah tersebut telah berlangsung beberapa tahun, sementara perkembangan 2026 memberikan sinyal bahwa perbaikan mungkin mulai terjadi pada siswa yang lebih muda.
Kini tantangannya adalah memastikan peningkatan tersebut berlanjut dan tidak meninggalkan siswa yang masih mengalami kesulitan membaca.
(Agus Marwan)

























