SUARAINDONEWS.COM, JAKARTA — Kebiasaan tidur hanya empat hingga lima jam setiap malam masih dianggap biasa oleh sebagian orang. Padahal, kurang tidur yang berlangsung terus-menerus dapat memengaruhi fungsi otak, metabolisme, sistem kekebalan tubuh hingga kesehatan jantung.
Pernyataan seorang dokter yang mengaku lebih mengkhawatirkan orang yang kurang tidur dibanding orang yang makan nasi belakangan menarik perhatian di media sosial. Pesan yang disampaikan bukan untuk menganggap makan nasi sebagai hal yang bebas dilakukan secara berlebihan, melainkan mengingatkan bahwa pola tidur juga perlu mendapat perhatian.
Secara medis, orang dewasa umumnya membutuhkan sedikitnya tujuh jam tidur setiap malam. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) merekomendasikan orang dewasa berusia 18 hingga 60 tahun tidur tujuh jam atau lebih setiap malam.
Sementara itu, National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI) menyebut kekurangan tidur dapat memengaruhi kemampuan belajar, fokus, mengingat informasi, mengambil keputusan dan mengendalikan emosi.
Dampaknya juga tidak berhenti pada rasa mengantuk.
Kurang tidur secara terus-menerus dikaitkan dengan berbagai gangguan kesehatan. Di antaranya peningkatan risiko obesitas, diabetes tipe 2, tekanan darah tinggi, penyakit jantung dan stroke.
Tidur juga berperan dalam menjaga sistem kekebalan tubuh. Ketika seseorang terus-menerus mendapatkan waktu tidur yang tidak mencukupi, kemampuan tubuh untuk mempertahankan diri dari infeksi dapat ikut terganggu.
Masalah lain muncul pada metabolisme. Kurang tidur dapat memengaruhi hormon yang mengatur rasa lapar dan kenyang serta respons tubuh terhadap insulin. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa kurang tidur dalam jangka panjang berkaitan dengan risiko gangguan metabolik.
Kebiasaan tidur empat hingga lima jam setiap malam karena pekerjaan, aktivitas digital atau kebiasaan begadang juga berbeda dengan sesekali tidur larut.
Jika hanya terjadi sesekali, seseorang mungkin merasakan kantuk dan kelelahan pada keesokan harinya. Namun, apabila durasi tidur yang pendek menjadi rutinitas, dampaknya dapat terakumulasi.
NIH juga mencatat penelitian terhadap orang yang tidur sekitar 4,5 jam per malam menunjukkan peningkatan stres, kemarahan, kesedihan dan kelelahan mental dibandingkan mereka yang memperoleh waktu tidur lebih lama.
Data CDC untuk 2024 yang diterbitkan pada April 2026 menunjukkan sekitar 30,5 persen orang dewasa di Amerika Serikat tidur kurang dari tujuh jam dalam periode 24 jam.
Karena itu, menjaga kesehatan tidak cukup hanya dengan memperhatikan makanan dan aktivitas fisik. Waktu tidur juga menjadi bagian penting dari kebiasaan hidup sehat.
Pesannya sederhana: menjaga pola makan, rutin berolahraga dan menghindari makanan berlebihan memang penting. Tetapi jika setiap malam tidur baru pukul 02.00 dan sudah harus bangun pukul 06.00, tubuh tetap berpotensi mengalami dampaknya.
Dengan kata lain, jangan sampai sibuk menghitung apa yang masuk ke tubuh, tetapi lupa menghitung berapa jam tubuh mendapatkan kesempatan untuk beristirahat.
(Rizki Fadillah)
























