SUARAINDONEWS.COM, Jakarta — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memberikan penjelasan mengenai sejumlah produk riset berupa genteng, sepatu hingga keripik ubi ungu yang sempat menjadi sorotan warganet setelah dipamerkan kepada Presiden Prabowo Subianto.
Produk-produk tersebut diperlihatkan dalam pertemuan Presiden Prabowo dengan sekitar 150 peneliti BRIN di Istana Negara, Jakarta, Kamis (6/8/2026).
Sejumlah warganet mempertanyakan produk yang dipamerkan karena dinilai tidak sesuai dengan ekspektasi terhadap hasil riset lembaga penelitian nasional.
Menanggapi hal tersebut, para peneliti BRIN memberikan penjelasan mengenai latar belakang dan tujuan pengembangan produk tersebut di Gedung BJ Habibie, Jakarta Pusat, Senin (10/8/2026).
Kepala BRIN Arif Satria mengatakan spektrum penelitian yang dilakukan BRIN sangat luas, mulai dari teknologi pangan, material, teknologi bawah laut hingga teknologi antariksa.
“Tanggal 6 Agustus lalu kami dipanggil oleh Bapak Presiden bersama 150 periset untuk mendiskusikan dan memamerkan teknologi-teknologi yang ada. Jadi teknologi yang dipamerkan spektrumnya sangat luas sekali dari mulai teknologi pangan hingga teknologi bawah laut hingga teknologi antariksa,” ujar Arif.
Menurutnya, BRIN juga mengembangkan berbagai teknologi tinggi yang diarahkan untuk menyelesaikan persoalan masyarakat, termasuk pengembangan radiofarmaka berupa isotop yang digunakan untuk kebutuhan kesehatan.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material BRIN, Dr Sukma Surya Kusumah, menjelaskan genteng yang dipamerkan merupakan hasil pengembangan teknologi biokomposit.
BRIN telah mengembangkan dua jenis genteng biomassa, yakni berbahan sabut kelapa dan anyaman bambu.
Menurut Sukma, pembuatan genteng memanfaatkan dua komponen utama, yakni serat sebagai material penguat dan matriks sebagai bahan pengikat.
“Jadi bagaimana menggabungkan lebih dari satu komponen menjadi satu produk. Ada dua komponen di dalam genteng itu, ada komponen serat sebagai reinforce materialnya, ada komponen matrik. Matrik itu sebagai pengikatnya,” kata Sukma.
Ia menjelaskan sabut kelapa tidak dapat langsung digunakan sebagai genteng tanpa adanya material matriks sebagai pengikat.
Dalam proses penelitian, tim BRIN menggunakan genteng komersial sebagai acuan untuk menguji kekuatan serta ketahanan terhadap cuaca, api dan air.
Teknologi material kemudian digunakan untuk membuat sabut kelapa lebih tahan terhadap api dan tidak mudah menyerap air.
Penelitian genteng biomassa tersebut telah dimulai sejak 2019 dan menjadi bagian dari konsorsium riset nasional terkait rumah tahan gempa.
Menurut Sukma, genteng biomassa tidak hanya dapat digunakan untuk rumah tahan gempa, tetapi juga rumah dengan konstruksi pada umumnya.
Dari sisi harga, genteng biomassa tersebut disebut berada pada kisaran harga yang setara dengan atap spandek yang banyak digunakan masyarakat.
Produk berikutnya yang menjadi sorotan adalah sepatu berwarna hitam.
Riset sepatu tersebut dilakukan tim peneliti Pusat Riset Komposit dan Biomaterial BRIN dengan memanfaatkan teknologi material komposit.
Kepala Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material BRIN Ratno Nuryadi mengatakan sepatu tersebut menggunakan material Polyvinyl Chloride (PVC) yang dicampur dengan thermoplastic rubber (TPR).
Proses pembuatannya menggunakan metode injection molding sehingga sepatu tidak membutuhkan lem maupun jahitan.
“Cara membuatnya ini dengan injection molding gitu, jadi sekali diproses, sepatunya tidak perlu lem lagi, tidak perlu jahitan,” ujar Ratno.
Dr Ade Soleh Hidayat mengatakan timnya sebenarnya bukan ahli sepatu, melainkan peneliti di bidang rekayasa material karet.
Ia menyebut pengembangan sepatu tersebut dilakukan atas permintaan Kepala BRIN dengan mempertimbangkan harga, kekuatan dan kenyamanan.
“Untuk sepatu sebetulnya itu karena permintaan Pak Kepala, saya diminta buat langsung hari itu jadi yang murah, yang kuat kemudian yang nyaman dan itu yang membuat saya pusing, gimana cara memilih material untuk sepatu yang seperti itu,” kata Ade.
Dalam proses pengembangan, tim memperhatikan faktor pressure plantar atau tekanan pada telapak kaki yang berbeda pada setiap pengguna.
Arif Satria mengatakan pengembangan sepatu tersebut salah satunya dilatarbelakangi kebutuhan sepatu sekolah yang murah, kuat, nyaman dan mudah dalam perawatan.
“Kalau saya melihat dengan tanpa lem, tanpa jahitan tanpa apa-apa ini saya yakin, ini awet kan, Pak, ya? Insya Allah awet kan ini ya, dan nyaman. Ini enteng sekali,” ujar Arif.
Meski demikian, produk sepatu tersebut masih dalam tahap pengembangan dan belum diproduksi secara massal.
BRIN menegaskan produksi nantinya tidak dilakukan sendiri, melainkan akan melibatkan pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).
“Jadi bukan BRIN yang memproduksi, nanti UMKM. Karena kita didedikasikan agar UMKM di bidang sepatu juga tumbuh. Karena BRIN akan juga fokus pada pengembangan UMKM. Industri yes, policy yes, tapi UMKM jangan ditinggalkan,” kata Arif.
Produk ketiga yang menjadi perhatian adalah keripik ubi ungu yang sempat dicicipi Presiden Prabowo.
Kepala Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan BRIN Dr Andes Hamuraby Rozak menjelaskan keripik tersebut merupakan produk akhir dari pengembangan bibit unggul ubi jalar ungu.
Bibit tersebut dikembangkan menggunakan metode mutasi kolkisin.
Menurut Andes, ubi ungu hasil pengembangan memiliki kadar antosianin hingga 1,5 kali dibandingkan ubi ungu yang ada saat ini. Selain itu, kandungan pati dan nilai gizinya juga telah memenuhi standar yang ditetapkan.
“Jadi dia memiliki kadar antosianin yang tinggi sampai 1,5 kali dari yang ada saat ini, kemudian kadar patinya dan seterusnya. Nilai gizinya dan itu memenuhi baku,” ujar Andes.
Ia menegaskan fokus penelitian BRIN bukan sekadar menghasilkan keripik sebagai produk konsumsi.
Keripik tersebut merupakan contoh produk akhir dari bibit unggul yang dikembangkan untuk dimanfaatkan industri dan UMKM.
Bahkan, hasil riset tersebut diarahkan untuk mendukung pengembangan komoditas pangan yang memiliki daya saing di pasar ekspor.
“Kalau untuk pasaran ekspor tentu saja ada kriteria minimal yang harus dipenuhi, nah di sini bibit unggul kami itu memenuhi,” katanya.
Andes mengatakan BRIN bekerja sama dengan industri untuk mengembangkan sektor pangan berbasis hasil riset tersebut.
Arif Satria menegaskan produk yang dipamerkan kepada Presiden merupakan bagian kecil dari spektrum riset BRIN yang sangat luas.
Menurutnya, produk seperti genteng, sepatu dan keripik perlu dilihat dari teknologi serta proses riset yang berada di balik produk akhirnya.
“Jadi teknologi yang dipamerkan spektrumnya sangat luas sekali,” ujar Arif.
BRIN juga mengembangkan teknologi di berbagai bidang, termasuk teknologi material, pangan, kesehatan, kelautan hingga antariksa.
Dengan demikian, genteng sabut kelapa, sepatu tanpa lem dan jahitan serta keripik ubi ungu merupakan contoh bagaimana hasil penelitian dapat diarahkan menjadi produk yang memiliki manfaat langsung bagi masyarakat, industri maupun UMKM.
BRIN berharap hasil riset tersebut tidak berhenti di laboratorium, tetapi dapat dikembangkan lebih lanjut hingga masuk ke tahap hilirisasi dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
(Rizki Fadillah)
























