SUARAINDONEWS.COM, JAKARTA — Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Islam Indonesia (UII) Prof. Mahfud MD menanggapi pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut ada pakar yang karena terlalu pintar justru menjadi “goblok”.
Mahfud mengatakan tidak semua profesor atau pakar memiliki kapasitas yang sama. Namun, menurut dia, hal tersebut juga berlaku terhadap siapa pun yang menduduki jabatan publik, termasuk presiden.
“Tidak semua profesor. Seperti halnya presiden juga banyak yang goblok kan?” ujar Mahfud dalam siniar di kanal YouTube Mahfud MD Official yang dikutip pada September 2026.
Pernyataan tersebut disampaikan Mahfud ketika merespons pidato Prabowo dalam peringatan HUT ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) di Jakarta, Jumat (18/9/2026).
Saat itu, Prabowo menyinggung sejumlah pihak yang disebutnya sebagai pakar dan mengingatkan pentingnya kejujuran intelektual. Dalam pidatonya, Prabowo menggunakan ungkapan bahwa ada pihak yang “saking pintarnya jadi goblok”.
Mahfud akui wawasan Prabowo
Meski memberikan sindiran balik, Mahfud tidak sepenuhnya menilai negatif kapasitas Prabowo sebagai kepala negara.
Ia mengakui Prabowo memiliki wawasan yang luas dalam memimpin pemerintahan. Mahfud juga menilai sejumlah pidato Prabowo di forum internasional menunjukkan penguasaan terhadap isu yang disampaikan.
Namun, Mahfud mempersoalkan cara seorang kepala negara merespons kritik dari pihak lain.
Menurut dia, kritik terhadap kebijakan pemerintah semestinya dijawab dengan argumentasi dan penjelasan, bukan dengan mengejek atau merendahkan pihak yang menyampaikan kritik.
“Enggak layak menurut saya. Seharusnya jangan mengejek orang yang mengkritik,” tegas Mahfud.
Pigai: Tidak semua pakar dimaksud Prabowo
Polemik tersebut kemudian mendapat penjelasan dari Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai.
Pigai mengatakan pernyataan Prabowo tidak ditujukan kepada seluruh ilmuwan atau pakar. Menurut dia, konteks yang dimaksud adalah orang yang memiliki latar belakang keilmuan tetapi pada saat bersamaan menjalankan peran lain, seperti aktivis, influencer, buzzer, partisan atau pendukung kelompok kepentingan tertentu.
Pigai juga meminta para pakar tetap memberikan penilaian secara objektif terhadap kebijakan pemerintah. Kritik, menurutnya, tetap diperlukan ketika terdapat kekurangan, tetapi capaian atau manfaat kebijakan juga perlu disampaikan agar masyarakat memperoleh gambaran secara utuh.
Dengan demikian, polemik tersebut berkembang tidak hanya mengenai penggunaan istilah “goblok”, tetapi juga mengenai batas kritik terhadap pemerintah dan bagaimana posisi pakar dalam memberikan penilaian terhadap kebijakan publik.
Prabowo tegaskan hormat kepada pakar
Perkembangan terbaru muncul ketika Prabowo bertemu sejumlah akademisi di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (24/9/2026).
Dalam forum yang membahas pengelolaan lahan gambut dan pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Prabowo menegaskan dirinya menghormati para pakar dan meminta masukan mereka sebagai bahan pertimbangan kebijakan pemerintah.
“Jangan salah ya menerima, kadang-kadang saya kalau bicara di audiens, suka dipelintir ya, dibilang seolah saya nggak hormati pakar. Saya paling hormat sama pakar,” kata Prabowo.
Dalam forum tersebut, Prabowo justru meminta para akademisi memberikan solusi ilmiah mengenai pencegahan kebakaran hutan, khususnya di kawasan gambut. Ia meminta masukan mengenai pencegahan kebakaran, pengelolaan kawasan gambut, serta kemungkinan pemanfaatan lahan gambut secara produktif.
Prabowo juga mengatakan dirinya terbiasa mencari masukan dari orang yang memiliki keahlian sebelum mengambil keputusan.
Polemik pernyataan tentang “pakar” tersebut kini mempertemukan sejumlah pandangan. Mahfud menyoroti etika kepala negara dalam merespons kritik, Pigai menjelaskan konteks pernyataan Prabowo, sementara Prabowo menegaskan bahwa dirinya tetap menghormati pakar dan meminta masukan akademisi dalam penyusunan kebijakan.
Perbedaan pandangan tersebut menjadi bagian dari perdebatan publik mengenai hubungan antara pemerintah, pakar dan kritik dalam proses pengambilan kebijakan.
(Ginanjar Prio Wibowo)

























