SUARAINDONEWS.COM, LAMPUNG — Fenomena perubahan bentuk Gunung Anak Krakatau kembali menjadi perhatian. Daratan baru muncul di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, setelah aktivitas erupsi gunung api tersebut meningkat sejak Juli 2026.
Daratan yang berada di antara Pulau Anak Krakatau dan Pulau Sertung itu terbentuk secara bertahap dari material vulkanik yang terlontar dan kemudian mengendap di sekitar tubuh gunung api.
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut hasil analisis citra satelit Sentinel menunjukkan adanya penambahan daratan sekitar 32,8 hektare pada tubuh Gunung Anak Krakatau.
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi, S.S. Rita Susilawati, mengatakan penambahan daratan terutama terlihat pada sektor barat laut hingga barat-barat daya Gunung Anak Krakatau.
Material pembentuk daratan tersebut diduga berasal dari material piroklastik dan aliran lava yang terendapkan selama episode erupsi menerus pada 4–6 September 2026.
Bukan Tiba-tiba Muncul Setelah Satu Letusan
Sebelumnya, Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau Suwarno menyebut terdapat daratan baru dengan luas sekitar 30,3 hektare di antara Pulau Anak Krakatau dan Pulau Sertung.
Namun, daratan tersebut bukan muncul secara tiba-tiba setelah satu kali letusan.
Daratan terbentuk secara bertahap akibat akumulasi material hasil aktivitas vulkanik yang meningkat sejak Juli 2026.
Dengan kata lain, laut di sekitar Anak Krakatau tidak mendadak berubah menjadi daratan hanya dalam satu malam.
Material erupsi yang keluar dari tubuh gunung secara berulang kemudian menumpuk dan mengubah morfologi kawasan tersebut.
Terlihat Dua Gumuk Mirip Pulau
Fenomena tersebut semakin menarik setelah analisis citra satelit juga memperlihatkan keberadaan dua gumuk kecil yang bentuknya menyerupai pulau di sekitar tubuh Anak Krakatau.
Badan Geologi menyebut kedua gumuk tersebut terlihat pada sektor barat laut dan tenggara.
Kemunculan bentuk tersebut diduga berkaitan dengan episode erupsi menerus yang berlangsung sekitar 25 jam. Namun, interpretasi tersebut masih bersifat sementara dan membutuhkan verifikasi lebih lanjut di lapangan.
Karena itu, keberadaan dua gumuk tersebut belum dapat langsung disebut sebagai gunung api baru.
Benarkah “Cucu Krakatau”?
Munculnya daratan baru kemudian memunculkan istilah “cucu Krakatau” di tengah masyarakat dan media sosial.
Istilah tersebut merujuk pada spekulasi bahwa material vulkanik yang menumpuk dapat berkembang menjadi kerucut gunung api baru.
Namun, sampai saat ini Badan Geologi belum memastikan daratan tersebut sebagai gunung api baru.
Daratan yang terbentuk akibat endapan material erupsi tidak otomatis berarti telah lahir gunung api baru. Untuk menentukan apakah sebuah struktur merupakan gunung api baru, diperlukan kajian lebih lanjut mengenai bentuk struktur, aktivitas vulkanik, sistem magma, serta bukti geologi lainnya.
Badan Geologi juga masih melakukan analisis terhadap citra satelit sebelum dan sesudah aktivitas erupsi serta membutuhkan verifikasi lapangan.
Luas Tubuh Anak Krakatau Kini 341,5 Hektare
Perubahan morfologi tersebut juga membuat luas tubuh Gunung Anak Krakatau kembali bertambah.
Berdasarkan pemantauan citra satelit terbaru, luas tubuh Gunung Anak Krakatau kini mencapai sekitar 341,5 hektare.
Angka tersebut bahkan disebut telah melampaui luas tubuh Anak Krakatau sebelum terjadi longsor dan kolaps pada Desember 2018.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik Anak Krakatau masih terus membentuk dan mengubah bentang alam di sekitarnya.
Meski demikian, perubahan luas daratan tidak dengan sendirinya menunjukkan tingkat bahaya baru. Penilaian potensi bahaya tetap mengacu pada hasil pemantauan aktivitas vulkanik dan rekomendasi resmi PVMBG.
Fenomena munculnya daratan baru di sekitar Anak Krakatau menjadi pengingat bahwa kawasan gunung api tersebut masih sangat dinamis.
Untuk sementara, istilah “cucu Krakatau” masih sebatas sebutan atau spekulasi publik, bukan kesimpulan ilmiah. Kajian Badan Geologi dan verifikasi lapangan diperlukan untuk memastikan bagaimana struktur baru itu terbentuk dan bagaimana perkembangannya ke depan.
(Agus Marwan)
























